Oleh: Andika Sutra, S.Pd.
–
Langit Jakarta sore itu seolah ikut memanggul beban di pundak Rendra. Debu jalanan melekat di kaus kumalnya, bercampur keringat yang menguap seiring senja yang turun. Usianya baru genap empat belas, namun ia sudah lama menggantikan peran kepala keluarga. Ayah meninggalkannya setahun lalu, bukan karena maut, melainkan karena keacuhan yang lebih pedih dari kematian: pergi tanpa pesan, hanya menyisakan tumpukan utang dan janji palsu untuk kembali, seolah hidup mereka adalah naskah drama yang bisa ia tinggalkan begitu saja.
Di sebuah bilik petak sempit, berhimpitan dengan puluhan kontrakan lain yang lembap dan pengap, ibunya terbaring lemah. Batuknya tak lagi sekadar serak, kini terdengar berat, mengoyak sepi yang ditinggalkan ayahnya. Rendra tahu, ibunya memerlukan obat yang namanya sering ia dengar di apotek, obat yang harganya jauh melampaui hasil mengamennya hari ini.
“Pulang, Nak? Kenapa terlambat?” suara lirih ibunya menyambut. Nada kekhawatiran yang selalu ada di setiap kata.
Rendra memaksa senyum. Ia menyembunyikan rasa lapar yang melilit. “Iya, Bu. Hari ini ramai sekali. Tadi ada yang kasih saya nasi bungkus, enak sekali. Ibu mau sedikit?” Ia menyodorkan bungkusan yang sesungguhnya adalah jatah makan malamnya, sengaja ia biarkan dingin agar tidak terlalu menggugah selera makannya.
Ibu menggeleng pelan, sepasang matanya yang cekung menatap Rendra dengan penuh sesal. “Makanlah, Nak. Kamu harus kuat. Kamu butuh tenaga untuk … untuk besok.” Matanya menyiratkan rasa bersalah yang mendalam. Ia tahu, masa depan Rendra, yang seharusnya cerah dengan seragam putih biru dan buku pelajaran, kini terkubur di bawah tumpukan kepingan receh dan tuntutan hidup yang kejam.
Rendra adalah murid cemerlang. Ia selalu mendapatkan peringkat pertama di sekolah dasar. Cita-citanya sederhana: menjadi guru, mendidik, agar bisa mengangkat derajat ibunya dari kemiskinan. Namun, pada awal kelas satu SMP, semua berubah. Surat tunggakan sekolah datang bersamaan dengan surat penagihan utang, dan Rendra terpaksa melepas tas usangnya. Seragam putih birunya ia lipat rapi, menyimpannya di bawah tumpukan pakaian, menggantinya dengan kotak kaleng bekas.
Hari-hari Rendra berubah menjadi ritme yang monoton, dibingkai oleh suara bising jalanan dan lirik lagu sedih dari harmonikanya. Subuh ia sudah di pasar, mencari sisa sayuran yang masih layak jual. Siang hingga sore ia di persimpangan jalan atau trotoar, memainkan harmonika tua peninggalan kakeknya, menghasilkan melodi pilu yang ironisnya sering mengundang simpati pengguna jalan. Malam ia di rumah, menemani ibunya sambil sesekali belajar dari buku-buku bekas yang ia pungut.
Ia ingat suatu malam yang mencekam. Ia menemukan buku fisika di tong sampah dekat sekolah lamanya. Di bawah cahaya rembulan yang temaram menembus celah genting, ia membaca tentang energi kinetik dan hukum kekekalan momentum. “Setiap benda yang bergerak akan terus bergerak, kecuali ada gaya luar yang menghentikannya,” ia membaca dengan suara pelan. Ironis, batinnya. Hidupnya terasa statis dalam kemiskinan, namun ia harus terus bergerak, berjuang melawan hukum inersia kemiskinan yang menariknya ke bawah. Ia ingin menjadi gaya luar yang mengubah nasibnya.
Namun, perjuangannya semakin berat. Suatu pagi yang dingin, harapan Rendra mulai runtuh. Setelah semalam suntuk menahan batuk, kondisi ibunya memburuk drastis. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal. Ia harus membawa ibunya ke klinik, segera. Dalam kepanikan, ia menggadaikan harmonika satu-satunya, teman setianya, kepada seorang pedagang di pasar.
“Tolong jaga, Pak. Saya janji akan menebusnya,” kata Rendra dengan mata basah, menyerahkan alat musik yang sudah menjadi bagian dari jiwanya.
“Jangan menangis, Nak. Ini cuma batuk biasa,” ujar ibunya, meski suaranya nyaris hilang, mencoba menenangkan.
Di klinik, dokter mengatakan ibunya mengidap tuberkulosis stadium awal dan memerlukan perawatan intensif serta obat-obatan rutin selama berbulan-bulan. Biaya yang disebutkan membuat lutut Rendra lemas, seolah seluruh energi kinetik dalam dirinya hilang seketika.
Dalam keputusasaan yang memuncak, Rendra berjalan gontai ke sekolah lamanya. Ia tidak masuk, hanya berdiri di seberang gerbang, memeluk tas plastik berisi obat resep. Ia menyaksikan tawa riang teman-temannya yang sibuk dengan tas dan buku, seragam yang bersih, tanpa noda debu dan beban. Air matanya menetes tanpa bisa ia tahan. Bukan karena ia iri pada mereka yang bersekolah, tetapi karena ia merindukan dirinya yang dulu, yang hanya perlu memikirkan rumus matematika, bukan biaya rumah sakit.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal, guru matematikanya dulu, Bapak Suryo, menghampirinya. “Rendra? Ya Tuhan, kenapa kamu di sini? Kenapa tidak sekolah?”
Rendra menunduk, tak sanggup berbohong. Ia menceritakan segalanya, dari kepergian ayah, kondisi ibu, hingga utang yang melilit yang membuatnya harus putus sekolah. Bapak Suryo mendengarkan dengan saksama, raut wajahnya berubah muram.
“Nak,” ujar Bapak Suryo lembut, menepuk pundak Rendra, tangannya terasa hangat. “Sekolah tidak hanya di kelas. Semangatmu untuk ibumu, itu adalah pelajaran paling penting. Kamu adalah anak yang hebat, Rendra, cerdas. Ambil ini.” Sang guru menyodorkan beberapa lembar uang, uang yang Rendra tahu didapat dari gaji guru yang pas-pasan. “Ini bukan sedekah. Anggap ini pinjaman. Prioritaskan ibumu. Setelah ia sembuh, kamu janji harus kembali, setidaknya untuk ujian paket dan mengejar ketertinggalanmu.”
Mata Rendra berkaca-kaca, memegang erat uang itu seolah memegang harapan hidup. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai seorang pengamen cilik yang malang. Ia melihat dirinya sebagai tulang punggung, sebagai benteng bagi ibunya. Dan yang terpenting, ia melihat sepotong cahaya kecil, secercah harapan yang muncul dari kebaikan tulus. Ia akan berjuang. Demi ibunya, demi menebus harmonikanya, dan demi hari ketika ia bisa kembali membawa buku, bukan kaleng bekas.
Bionarasi Penulis
Andika Sutra adalah seorang guru di SMKN 4 Sijunjung dan juga seorang Tutor di PKBM Nurul Ihsan Tanjung Gadang, Kabupaten Sijunjung. Baginya, menulis merupakan hobi dan ada kesenangan tersendiri terlepas dari Pendidikan Sarjananya yaitu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dengan menulis bisa melepaskan rasa yang ada di hati dan juga sekaligus menyampaikan pesan yang tak tersampaikan oleh lisan.