Panggung Mini, Moral Terluka
Oleh Luhur Susilo – SMPN 1 Sambong Blora dan Pengurus Satupena Blora
Sabtu, 21 Juni 2025 | 18:41 WIB
–
Jagat maya Indonesia kembali diguncang drama klasik lempar tanggung jawab. Kali ini panggungnya ada di SDN 1 Kenayan, Tulungagung, Jawa Timur.
Sebuah video memperlihatkan siswa kelas 6 berjoget ria sambil menyawer penyanyi dangdut dalam acara perpisahan sekolah. Anak SD, lho. Uang disawerkan, kepala bergoyang, panggung berguncang dan moral pun terbuang?
Di panggung kecil yang dihias balon warna-warni,
anak-anak berjoget tanpa canggung,
seolah sore itu bukan lagi perpisahan,
melainkan pesta pora tanpa rem.
Tangan mungil menyodorkan lembaran uang
ke biduan yang bernyanyi dengan genit:
lagu dewasa, goyangan dewasa,
di hadapan wajah-wajah polos
yang belum paham
tentang batas dan makna.
Mereka belum sempat bermimpi menjadi pelukis,
tapi sudah kita kenalkan pada panggung semu
di mana pujian datang dari tawa riuh,
bukan dari nilai-nilai yang tumbuh sunyi
di ruang batin yang seharusnya kita jaga.
“Bu Guru ke mana? Katanya acara ini untuk kami.
Kenapa justru aku yang dimarahi
karena menyawer seperti ayah menyawer di TV?”
Di ruang guru, kopi mungkin baru diseruput,
atau senyap membisu menghindari tanggung jawab.
Sementara di luar sana,
lagu dangdut membelah batas
antara anak-anak dan dunia yang belum waktunya.
Semua orang tampak tergesa menjauh dari salah,
padahal kesalahan itu tumbuh dari tanah yang sama
yang kita biarkan retak,
karena lebih suka diam daripada mengingatkan.
Orang tua berkata:
“Bukan kami yang memulai!”
Guru menjawab:
“Itu murni inisiatif paguyuban!”
Panitia berkata:
“Kami hanya ingin anak-anak bahagia.”
Namun tak seorang pun bertanya:
“Apakah tawa hari ini, akan membawa jiwa yang sehat esok hari?”
“Aku hanya ingin pulang cepat.
Sudah terlalu sering acara diambil alih wali murid.
Tapi saat video itu viral,
kenapa justru aku merasa tertampar oleh diriku sendiri?”
Gadget merekam lebih cepat dari hati nurani,
dan netizen mengadili lebih cepat dari diskusi.
Satu video, sejuta reaksi,
tapi adakah satu saja yang benar-benar peduli
pada anak-anak yang dibiarkan bertumbuh
tanpa pagar nilai yang kokoh?
Kadang, lebih mudah menyalahkan lagu,
daripada meninjau ulang diam kita sendiri.
Lebih ringan menuding panitia,
daripada mengakui kita telah absen
dari tugas menjaga benih manusia.
Panggung itu tidak salah,
musik itu tidak salah,
tapi kapan kita mulai mengajarkan
apa yang pantas untuk anak-anak kecil
yang baru saja menanggalkan seragam SD-nya?
“Anakku bilang dia keren saat nyawer.
Dia tersenyum bangga.
Lalu malamnya aku menangis—
bukan karena videonya viral,
tapi karena aku tak pernah mengajarinya
apa itu harga diri.”
Apa yang kita tanam hari ini,
akan tumbuh di punggung bangsa besok pagi.
Jika yang kita siram hanya tawa palsu dan kebebasan tanpa arah,
maka kelak kita hanya akan memanen kehilangan.
Ini bukan perkara siapa yang paling bersih,
tetapi siapa yang mau membersihkan luka.
Bukan tentang siapa yang memulai,
tetapi siapa yang berani mengakhiri pembiaran.
Karakter tak dibentuk dari rundown acara,
tapi dari contoh yang nyata—
dan hari itu, contoh yang nyata
justru memilih diam dan menghilang.
Moral bukan kertas yang bisa dilipat
dan disimpan setelah acara usai.
Ia tumbuh atau runtuh
bersama cara kita bertindak hari ini.
________________________________________
https://www.jawapos.com/pendidikan/016171085/anak-sd-di-tulungagung-nyawer-biduan-guru-menghilang-siapa-yang-bertanggung-jawab-atas-moral-anak-kita
Catatan Penutup:
Jika anak-anak kita berani menyawer tanpa ragu,
sementara kita—para dewasa—berlindung di balik agenda dan alasan,
maka bukan hanya karakter mereka yang dipertaruhkan,
melainkan martabat masa depan yang kita abaikan
di atas panggung kecil yang terlalu bising untuk nurani.
Karena jika anak-anak dibiarkan mencicipi dunia tanpa arahan,
siapa yang akan mengajari mereka
bahwa kemerdekaan jiwa bukan berarti bebas tanpa batas,
melainkan tahu kapan harus diam
dan kapan menjaga nilai dengan tegak?