April 21, 2026
ilustrasi keempat puisi

Yusuf Achmad

Mau satu atau seribu,
Tertusuk paku terasa pilu,
Tersentuh kuku jadi kaku,
Tersikut siku berkata “aduh,”
Terpojok malu, katamu “kamu,”
Terpikat hatimu, katamu “mau.”

Biru itu bukan ungu,
Haru itu bukan seru,
Deru itu tak gemuruh,
Ragu itu tak bisu,
Mau itu terus memburu,
Cemburu berbunga keluh.

Samudra itu tak baru,
Hamparan itu tak meniru,
Ruang itu menderu-deru,
Angkasa itu kadang sahdu,
Kawasan itu bercampur bau,
Langit itu bergelayut lalu.

Perasaan ini bludru,
Kerinduan ini kaldu,
Emosi ini dadu,
Sensasi ini waktu,
Keinginan ini tunggu,
Kasih sayang ini daku,
Cinta ini kamu.

Seperti laut menyimpan seribu misteri,
Langit itu dalam, tak tersentuh, abadi,
Bagaikan langit merangkul cakrawala,
Rasa itu luas, tak berbatas, mempesona,
Seperti sepotong bludru di malam hari,
Lembut menyentuh, membawa kedamaian.

Dalam setiap bayangnya,
Ada cerita yang tersirat,
Dalam setiap nadanya,
Ada rindu yang meresap,
Rasa ini, adalah warna hatiku,
Gejolak ini, adalah cerminan rindu,
Perasaan ini, adalah kesatuan waktu,
Cintaku ini, adalah kamu.

Surabaya, 7-12-2013