PEMBELAKU YANG AGUNG
Oleh Herry Tjahjono
(๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฅ๐ต. ๐๐ถ๐ด๐ถ๐ง ๐๐ฐ๐ฏ๐ช, ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐บ๐ข ๐ฉ๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ต๐ช)
–
Dia lahir dari sebuah lorong sunyi di antara azan dan harapan. Namanya Jusuf Roniโseorang anak dari keluarga Muslim yang taat, tumbuh di tengah gema surah dan langkah wudu. Bahkan di masa mudanya, dia adalah pemuda Muslim yang militan dan keras. Tak ada tanda bahwa kelak, hidupnya akan menjadi semacam jembatan, yang tidak semua orang berani membangunnyaโapalagi menyeberanginya.
Tapi hidup memang seperti itu. Dia menemukan “Cahaya” bukan di luar, tapi dari pertarungan batin yang lama, sepi, dan penuh air mata. Dia tidak membelot, dia mencari. Dia tidak meninggalkan, dia berpulang kepada panggilan yang begitu pribadi, begitu rahasia, dan begitu mahal.
Dia tahu bahwa setiap keputusan akan dibayar dengan lukaโdan dia membayarnya lunas. Diusir, ditolak, dijauhi. Jusuf Roni bahkan mesti mendekam di penjara gegara keputusan imannya itu. Tapi justru dari “kehancuran” itu dia mendengar suara-Nya lebih jelas: “Akulah Pembelamu.”
Buku rohani fenomenal “Pembelaku Yang Agung” yang ditulisnya bukan sekadar kesaksian iman. Itu adalah catatan luka dan cinta. Tentang bagaimana seorang anak manusia dipeluk oleh yang Maha Rahim dalam sepi yang terdalam, lalu diangkat, disembuhkan, dan dikirim kembaliโuntuk memeluk dunia yang bahkan belum selesai memaafkannya.
Hari ini, pendeta sepuh yang “legendaris” itu berpulang. Dia tidak lagi berbicara dengan suara parau khasnya yang menggedor dan menyentuh iman. Tapi warisannya tidak akan pergi. Dia mengenalkan kita pada “Pembela” yang tidak pernah tidur, tidak pernah lelah mengampuni, dan tidak pernah salah memilih hati yang hancur.
Selamat jalan, Pak Jusuf Roni.
Engkau telah menyelesaikan pertandingan dengan sangat baik. Nyaris sempurna.
Kini, biarlah Pembelamu yang Agung memelukmu pulang.