April 17, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

Di peron waktu yang basah oleh elegi,
hujan turun seperti puisi yang tak pernah selesai ditulis langit,
dan engkau berdiri di antara desah lampu dan kenangan,
menyandang payung seperti rahasia cinta yang kau jaga dari badai.

Asap kereta itu bukan sekadar uap mesin,
melainkan kabut rindu yang mengaburkan jarak antara
“pergi” dan “kembali”,
antara “janji” dan “yang tak sempat dikatakan”.

Aku adalah kereta tua itu,
dengan dada penuh bara yang tak pernah padam oleh musim,
menyeret gerbong-gerbong kisah,
yang hanya dapat kau baca dari jendela matamu sendiri.

Engkau—
perempuan dalam gaun panjang senja,
langkahmu gema sunyi di peron basah,
seperti hujan yang menciumi tanah dengan kepedihan yang lembut.

Waktu melipat dirinya dalam embun,
dan malam menggantungkan lentera-lentera
agar kita tak sepenuhnya tersesat dalam kenangan,
namun cinta—adalah cahaya
yang bahkan tak bisa dijinakkan oleh rel-rel takdir.

Jika hujan adalah musik dari langit yang patah,
maka engkaulah irama terakhir yang ingin kudengar sebelum lenyap,
dan bila dunia ini hanyalah stasiun tanpa nama,
aku bersedia tersesat selamanya,
asal engkau menanti di sana—
dengan payung, dan puisi yang tak pernah usai.

Sumatera Barat,2025