April 21, 2026

Karya : Eka Teresia

​Tak ada tepuk tangan yang membahana,
Sunyi senyap, tak ada gemuruh puja.
Piala kristal berkilauan hampa,
Sebab ia berdiri di panggung tanpa penonton, bisu dan jelaga.
​Bukan karena bakat atau pena yang tajam,
Bukan karena karya yang memahat zaman.
Ia hadir bak hadiah yang suram,
Diberikan karena laci terisi donasi sang dermawan.
​Lampu sorot membius mata yang memandang,
Padahal akar kebusukan telah mengembang.
Sastra dijadikan komoditas yang lapang,
Dihiasi dusta, sementara kebenaran terbuang.
​Seharusnya sang aktor dibalik panggung merasa malu,
Pada cermin diri, pada bayangan yang menderu.
Mereka yang mengatur naskah, mengganti waktu,
Merangkai skenario palsu, mencuri hak yang berlaku.
​Nama-nama suci dicoret dengan tinta hitam,
Mereka yang pantas, yang berkeringat malam.
Karya-karya agung dibungkam perlahan,
Demi tepuk tangan kosong di ranah kehampaan.
​Penghargaan ini—sebuah monumen kesemuan,
Dibangun di atas fondasi tipu daya dan kebohongan.
Ia bukan mahkota, melainkan cap aib tanpa ampunan,
Mencoreng wajah seni, mengkhianati kejujuran.

Padang ,30 Oktober 2025