April 18, 2026

Penulis Bisa Jadi Meramalkan Garis Nasibnya

Pipiet Senja

Izinkan berbagi pengalaman sebagai seorang penulis. Saya menulis sejak remaja, 1975. Berbagai genre pernah saya garap hingga menjadi buku.

Begini. Saat remaja dulu saya sudah menulis, cerpen dan cerbung di Selecta Grup. Tema tentang perjuangan seorang janda dengan anaknya yg dizalimi keluarga si suami. Tema suami skizoprenia. Tema diselingkuhi. Heboooohlah pokoknya. Padahal saya remaja dan sering tinggal di pondok.

Kyai saya di Rangkasbitung sempat menegurku. Beliau bilang; “Menulislah yang membawa kebahagiaaan, dan mensyukuri nikmatNya saja agar barokah. Dikuatirkan apa yang kamu tuliskan itu sebagai ramalan untuk dirimu kelak.”

Saya tak percaya!
Lagian kok Kyai malah percaya urusan ramal meramal sih?

Sampai akhirnya Tuhan beri aku pasangan hidup dan skizoprenia. Babak belur hidupku efek KDRT, berdarah darahlah. Akhirnya jadi janda dan berjuang demi anak anak. Perjuangan yang termasuk jungkir balik, bahkan nyaris mau bunuh diri segala. Sintingnya, sebagian besar pernah menjadi tema tulisanku. Duhai, ampunilah hambaMu….

Sudah begitu saja. Mau percaya atau tidak terserah kita sendiri.

Nah. Setelah bergabung dengan Forum Lingkar Pena dan belajar banyak dari Helvy Tiana Rosa serta akhwat tarbiyah. Saya pun menulis berdasarkan napas Islami. Memagarinya dengan pesan moral. Ending selalu ada harapan, tidak pernah mematikan tokoh utama.

Kemudian saya kepingin jalan jalan. Bagaimana kalau ke Mesir? Eh, mendadak ada yang undang ICMI dan FLP Mesir.

Kepingin Umroh aaaah. Pas diusir bapaknya anak anak, eeeh diajak Umroh oleh hamba Allah, mengaku suka banget dengan karya karya saya.

Kepingin berhaji demikian pula pas si batbat ops….selingkuh dan menganiayaku sampai berdarah darah. Diajak berhaji oleh travel Cordova 2006. Masya Allah. Allahu Akbar!

Mulailah saya ingin berbagi sedikit ilmu Literasi kepada anak anak muda. Berkelilinglah saya ke pelosok Tanah Air dengan karya. Ada saja yang mengundang ke mana mana.

Sponsor pun mudah didapat. Kadang saya todong para Ustad dan publik figur, agar berkenan belikan tiket ke mana mana itu. Dengan senang hati mereka mengirimkan tiket. Allahu Akbar!

Sejak banyak nikmatNya yang diberikan Sang Pencipta kepada hambaNya yang lemah ini. Bayangkan 3 kali dinyatakan incoma dan para dokter sudah angkat tangan. Apalagi dua anak sudah mandiri dan memberi kebanggaan sendiri. Beri 5 cucu.

Sepertinya saya harus malu diri kalau tetap ngoyo cari dunia.
Tinggal meningkatkan ibadah sajalah dan memanfaatkan senja umurku.

Ayo, anak-anak penulis Milenial.
Pesanku adalah; Menulislah yang bermanfaat, mencerahkan dan tidak menyesatkan. Setiap tulisan kita akan dimintai pertanggungjawaban kelak di Yaumil Akhir.

Salam Literasi.
Pipiet Senja