Penyu dan Pohon Kelapa
Yusuf Achmad
–
Di tepian samudra memeluk langit biru,
Penyu menjelajah, tak lelah menembus debur waktu.
Pohon kelapa, menjulang gagah di bumi merah,
Menjadi saksi dialog sunyi, sepi yang berpayah.
“Wahai sahabat pengembara,” pohon berseru pelan,
“Aku melihat gelombang mengejarmu, tanpa kasihan.
Bagaimana kau bertahan di gulita tanpa ujung,
Sedang badai mengancam, dan laut tak pernah murung?”
Penyu tersenyum, menyembunyikan derita gelombang,
Dentuman memekak telinga, namun ia takkan hilang.
“Sekali aku bertahan, sekali aku melaju,” ujar sang penyu,
“Hanya harapan di ujung lautan yang menjadi tujuanku.”
Badai pun tiba, mengguncang langit dan daratan,
Akar pohon meronta, tanah merah mulai ditinggalkan.
“Bagaimana jika aku roboh?” pohon bertanya pilu,
Penyu menjawab lirih, “Aku akan terus mengenangmu.”
Di lautan pekat, gelombang berbisik dan memekakkan,
Penyu mengarungi semesta, mencari harapan tak tertampakkan.
Namun, perjuangannya tetap tersembunyi, penuh arti,
Tak ingin pohon kelapa mengetahui derita hati.
Pohon tahu, tanahnya tak lagi ramah atau kokoh,
Namun semangatnya menjulang, tak rela untuk roboh.
Penyu dan pohon, dalam badai penuh drama,
Tetap bertahan di pelukan alam yang tak bersahaja.
Antara tinggi cita dan gelapnya lautan berapi,
Ada cerita tentang persahabatan yang abadi.
Penyu dan pohon, dua jiwa yang saling menguatkan,
Dalam puisi tentang kehidupan, perjuangan, dan harapan.
Surabaya, 4-4-2025