April 18, 2026

Oleh Yusuf Achmad

Suara penyair melantun, burung di daun. Basah berbutir air
turun, kuning langsat warna daun. Alunan penyair lantang
mengalun, angan mengalir semilir angin.

Di tepi Petekan, perahu tak bermesin. Perahu-perahu khas,
bekas, baru, bertenaga angin. Bergerak riuh-rendah, gerak
batin.

Warna perahu seindah kupu-kupu, walau tak selalu seindah itu.
Kadang kaku, lalu beku, namun itu adalah buku. Tinta dalam
pelangi bersatu.

Seperti makhluk asing biru, bertengger di atas laut bergemuruh.
Di Petekan, di dekat Nyamplungan, mata mengurut cerita satu
satu. Meski tak urut selalu.

Menepi-menengah, mundur-maju, seperti perahu khas, bekas,
baru. Tidak jarang kehilangan arah dituju.

Ingin gerak bumi kuhalau, sekuat arah cerita kuperbarui. Itu sia
sia, tak perlu. Bisik angin saat aku di perahu.

Lepas baju yang bercorak abu-abu. Lepas bola mata yang mudah
tertipu. Lepas gendang telinga yang tak tahan rayu. Lepas lidah
bibir yang buta rasa.

Lepas, perahu lepas, melaju. Melompat-melenting, kehilangan
hulu. Tertarik pusaran, tenggelam ke dasar. Muncul sampai
pantai bening dituju.