April 18, 2026

“Perempuan Cerdas, Hebat, Pemberani dan Tangguh”: Kumpulan Puisi Selektif (PPIPM-Indonesia, Satu Pena, Kreator Era AI)

leni perempua hebat

Ilustrasi Kumpulan Puisi Selektif PPIPM-Indonesia, Satu Pena, Kreator Era AI "Perempuan Cerdas, Hebat, Pemberani, dan Tangguh". Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-16 (Assisted by AI).

/1/

Perempuan Hebat yang Menjadi Jembatan

Puisi Leni Marlina

[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar]

Kami seperti tebing,
berdiri bisu, terpisah oleh jurang gelap
yang menelan cahaya dan suara.
Engkau, perempuan cerdas, datang,
bukan sebagai elang yang gagah,
melainkan helai-helai rumput
yang perlahan menganyam kekuatan.

Engkau tumbuh menjadi tali,
menjadi kayu, menjadi bentangan
yang merajut dua dunia
yang tak pernah saling percaya.

Kami melangkah di atasmu,
bukan dengan keberanian,
melainkan dengan gemetar ketidakpastian.
Namun engkau, perempuan tangguh, tetap bertahan,
menyambung jiwa-jiwa yang hancur,
menjadi landasan bagi harapan yang terluka.

Ketika akhirnya kami tiba di sisi lain,
engkau telah hilang dari pandangan.
Namun jejakmu tertinggal
di setiap pijakan kami,
mengajarkan bahwa kekuatan sejati
tak butuh nama, hanya keyakinan.

Engkau adalah jembatan yang hidup,
perempuan hebat, tak meminta balas,
atas apa yang telah engkau berikan untuk sesama.

Bukittingi, Sumbar, 2006

/2/

PERGILAH MBAK ICA !

Puisi Anto Narasoma

[Pondok Komunitas Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonesia, Satu Pena Palembang]

setelah adegan dan lagu-lagu yang mendendangkan sepanjang ceritamu penuh semyuman, skenario itu pun tuntas

masih tersisa kenangan yang hinggap di antara ruang kehadiranmu tanpa pamit

dan,
masih kuingat pula langkah-langkah yang kau tinggalkan di sepanjang dirimu
yang ada lalu tiada

o kesan apa yang kau coret moret di setiap foto dan lukisan pada wajahmu yang sayu, Mbak Icha?

ah, tatkala ajal
diam-diam membawa sebujur tubuhmu yang kosong, hanya air mata membanjiri doadoa
di atas kasurmu tanpa nyawa

pergilah, Mbak
dunia terakhirmu mencatat seribu kebaikan yang kau bacakan dalam sidang wakil rakyat

di sana,
di antara bungabunga
yang menaburi makammu, senyum itu tak pernah pupus
tatkala skenario ceritamu kehilangan katakata

Palembang,
2 Oktober 2024

——-
Anto Narasoma merupakan penyair nasional, jurnalis/wartawan senior, mentor senior komunitas PPIPM-Indonesia, anggota Poetry-Pen International Community.
Penulis menerima Anugerah Penghargaan Sastra dari Asosiasi Sastra Internasional Spanyol tahun 2022.

/3/

Khadijah, Ummul Mukminin

Puisi: Arsiya Oganara

[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia, Penulis Asal Lampung]

Khadijah, engkau perempuan cahaya,
titisan mulia dari suku Quraisy yang suci,
garis nasabmu bersambung kepada Rasul terakhir,
kebanggaan langit, penutup para nabi.

Di masa remajamu, mereka menyebutmu “Wanita Suci,”
berhias kecantikan yang tak hanya lahiriah,
namun melingkupi akhlak luhur yang menyentuh,
menjadi lentera di tengah gurun yang gelap gulita.

Engkau saudagar agung,
bijaksana dalam tutur, kokoh dalam iman,
bermandikan harta dan dihormati karena kejujuran,
penggenggam dunia tanpa kehilangan langit.

Khadijah, cinta pertama yang tak terganti,
pendamping al-Amin, lelaki terpercaya,
dalam setiap langkahmu, ada pengorbanan jiwa,
dalam setiap hartamu, ada kepasrahan cinta.

Engkaulah saksi awal kebangkitan keyakinan,
ketika suamimu, Nabi yang buta huruf,
mengangkat panji kebenaran di lembah Mekah,
di saat moral merosot dan berhala merajalela.

Kau berdiri tegar,
melawan prostisusi yang merendahkan martabat,
jurang pemisah antara kaya dan miskin,
dan ketimpangan kekuasaan yang menindas si lemah.

Khadijah, perempuan tangguh,
dakwah terbuka mengundang badai penentangan,
cacian, intimidasi, bahkan pengasingan.
Namun, hatimu tetap kokoh seperti batu karang,
imanmu menjadi benteng yang tak tergoyahkan.

Di ujung senjamu, tugasmu tuntas,
namun cahaya perjuanganmu tak pernah padam,
nama Ummul Mukminin terus menggema,
surga menjadi tempat kembali bagi jiwamu.

Kami ambillah hikmah dari engkau, Khadijah, perempuan ahli surga
yang teguh dalam iman, besar dalam cinta,
Tuhan-pun menyebut namamu dalam kemuliaan,
Khadijah, suri teladan sepanjang masa.

Bandar Lampung,
Kamis, 5 Desember 2024

——-
Arsiya Heni Puspita – Arsiya Oganara adalah nama penanya. Lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi dengan hobi membaca dan travelling. Hobi ini pula yang mengantarkannya menjadi professional Journalist yang sudah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan dinyatakan Kompeten serta Professional Tourist Guide dan Professional Tour Leader, Licensed and Certified dari Disparekraf DKI Jakarta dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Saat ini mulai merambah ke dunia sastra dan kegemarannya menulis tersalurkan dengan menulis cerpen, puisi, puisi esai, dan lainnya.

Arsiya Oganara sangat senang bertemu dengan orang baru, persahabatan bisa dilakukan melalui medsosnya. FB; Arsiya Heny Puspita. IG: arsiyahenyhdl. Email: hennyarsiya@gmail.com.

/4/

Rinduku Pada Mande Siti Mangopoh

Puisi Wisye Sitti Manggopoh

[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat: PPIPM-Indonesia; Satu Pena Sumbar)

Ketika detik melangkah ke 79 tahun kemerdekaan,
aku tetap menunggu bayangmu, Mande Siti,
rindu pada kepalan tanganmu yang melawan langit kelabu,
rindu pada teriakan lantangmu,
menantang tirani yang rakus, tanpa ampun.

Kasihmu bagaikan sungai yang tak pernah kering,
mengalirkan cinta pada anak-anak negeri,
yang masih terhuyung di tanah leluhur mereka,
merangkak di hutan misteri,
menggapai-gapai di lautan onak dan duri.

Mande Siti, perempuan yang kujunjung tinggi,
jangan izinkan tanah ini dipijak oleh pencuri,
jangan biarkan korupsi bertumbuh seperti parasit,
dan jangan ada ampun bagi mereka,
yang menggadaikan harga diri untuk sekeping janji.

Aku mendengar desahmu di antara riuh oligarki,
melihat bayangmu di padang yang terbakar rindu.
Engkau adalah api yang menyalakan keberanian,
bukan untuk membakar,
tapi untuk menyalakan semangat yang hampir mati.

Wahai Mande Siti,
ilmu tinggi tak seharusnya membenarkan angkuh,
langkahmu dulu mengajarkanku
untuk tegap melawan, bukan tunduk pasrah.

Hari ini, aku berdoa dalam hening paling dalam,
agar kepalanmu kembali bergema,
menerangi jalan bagi anak negeri
yang masih terseok, tertatih, dan terluka.

Tetaplah bersama kami, Mande Siti,
di tanah yang kau cinta,
di langit yang kau bela.
Bersama tegap langkahmu,
aku akan maju melawan setiap tirani.

Padang, Desember 2024

——-
Wisye Paula Deja merupakan aktivis dan pengurus Forum Siti Manggopoh dan beberapa organisasi di Sumbar, anggota Satu Pena Sumbar, anggota PPIPM-Indonesia, berdomisli di Padang.

/5/

Senyum Habiya

Puisi Dewi Farhah

[Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM; Satu Pena Madura)

Di ladang surga yang meretas waktu,
rumah gedek berdiri—tak merindu istana,
pada bilah-bilah bambu
Habiya menenun pagi dari serat embun.

Jendela tuanya menyentuh matahari,
pias sinarnya menjahit jejak pada tanah
tempat burung-burung merpati
mengendap senandung ke gendang jiwa.

Habiya, demikian engkau menyebut namanu,
senyummu seperti aksara yang tak lekang;
di pipinya mengalir sungai purba,
airnya merah oleh pinang, sirih,
dan doa yang digerus dalam kuningan tua.

Rindu harum—semerbak tanah moyang.
Tangan Habiya, keras oleh waktu,
menciptakan bahasa dari debu
menulis alamat cinta di cakrawala.

Anak-anak melintasi tubuhnya,
bak ular tangga menuju surga,
celoteh kecil mengeja cahaya
dari selendang kusam yang ia bentangkan
di langit-langit Madura.

Di sudut senyap,
Habiya memahat bayang bulan,
setiap guratnya melahirkan kisah;
lampu minyak bergoyang seperti api,
membakar isyarat pada malam.

Habiya,
perempuan dari ketiadaan,
menempa nasib di bawah bintang gemintang.
Senyumnya tetap mengambang:
sebuah cakra yang memutar semesta,
menghidupkan tanah leluhur dalam diam.

Di antara laut dan ladang garam,
Habiya hatinya cantik berseri.
Madura menyimpan namanya,
pada setiap angin yang membawa pasir
ke pintu-pintu jiwa yang rindu keluarga.

Madura, 1 April 2018
——————
Dewi Farhah Pengajar Bahasa dan Sastra di Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur Indonesia 2007-2011, Pendiri Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini sekaligus Kepala Sekolah (PAUD Ar Rahmah Nurul Hidayah) Ds. Lembung Kec. Galis Kab. Pamekasan sejak 2012-sekarang, Pengurus Himpaudi Kec. Galis sejak 2014-skrg. Koordinator Pusat Angkatan ’18 (Artzhevant) TMI Pi Al-Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur Indonesiaee

/6/

Sang Pejuang Hati

Puisi Yusuf Achmad

[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masysra: PPIPM-Indonesia, Satu Pena Jatim]

Pernah kusebut
kau kopi hidupku,
dulu, kini dan nanti.
Namun, kau bukan hanya kopi.
Di dalamnya tertuang puisi hidup ini.
Kau rentan untuk tak peduli,
Kau rapuh tuk berkata kasar,
berdusta apalagi.

Jangankan kata tidak,
kata nanti pun kau menolak.
Kau bereskan urusan.
Kau beberkan tenaga dan pikiran.

Jangankan untuk suami, keluarga, bahkan cucumu menggoda.
Meski kadang terkesan garang.
Kata jangan selalu menerjang.
Tapi, kasihmu tetap menjulang.
Tak halangi kasihmu yang tetap terang.
Tak seperti mawar yang memikat.
Namun harum lembut hatimu tetap membahana.

Kau pejuang dan pahlawan hati.
Penjaga cintaku yang mulia.
Meski warna hidupmu mungkin tak lagi secerah dulu.
Walau semangat dan kasihmu tak pernah pudar. Mengalir di dalam sanubariku.
Kau, istriku, pejuang hidupku.
Tanpamu, bagaikan burung bersayap satu.

Surabaya,
20 Desember 2024

————————————–
Yusuf Achmad saat ini merupakan Kepala SMK SAINTREN Al-Hasan Surabaya; dan Ketua MKKS SMK Swasta Surabaya. Penulis juga dikenal dengan salah satu buku himpunan puisinya “Belanggur di Nyamplungan”.

/7/

Perempuan Sejati

Puisi Muliaty Mastura Yusuf

[Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonesia, IPMI Sulsel]

Masih seperti dulu
Menyulam kasih penuh cinta
Mendekapku setiap saat
Setiap rindu menyapu ombak

Dirimu begitu sabar dan penyayang
Tak pernah meminta sepeserpun dari diriku

Aku mengakui kekuatanmu yang maha dahsyat
Kekuatan hatimu yang sulit dijinakkan penguasa

Dirimu begitu kuat memegang amanah
Sebuah idealisme tak tergantikan dolar apalagi rupiah

Dirimu sangat gigih
Menyuarakan api kebaikan
Meski engkau harus membawa luka

Masih seperti dulu
Dirimu, belum berubah#
Nalar kritismu masih tajam seperti dulu
Saat engkau menggendong dan memeluk tubuh kecilku

Aku begitu takjub
Engkau perempuan sejati tak tergantikan materi

Engkau perempuan tak lelah berjuang
Di benakmu, kekuatan dirimu ada pada nuranimu yang putih

Masih seperti dulu
Meski usiamu renta
Idealismemu kental tak terbahasakan

Pada kekuatan penamu
Engkau masih menulis
Tulisan yang tajam
Bahasanya halus menembus langit

Masih seperti dulu
Wangi dekapanmu
Kucium
Kubawa dalam sukmaku

Masih seperti dulu
Engkau perempuan sejati yang hadir sebagai pelipur laraku

Dari dirimu
Aku menemukan kekuatan baru
Kekuatan yang tak pernah membuatku takut
Pada penguasa

Somba Opu, Sulsel,
Sabtu, 11 Januari 2025

———-
Muliaty Mastura Yusuf adalah jurnalis di Harian Fajar Makassar, 1991-1994. Reporter dan Sekretaris Penyunting Media Kampus Washilah UIN Alauddin 1992-1997, Jurnalis Harian Berita Kota Makassar 1997-2001, Dosen Jurnalistik di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin 2010-2019. Kini, menjadi bagian dari komunitas Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI) Sulsel, Kampus Lorong Komunitas Anak Pelangi Makassar.

/8/

Perempuan Cerdas yang Membawa Angin Kehidupan

Puisi Leni Marlina

[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar]

Kami bagaikan daun gugur,
berserakan di tanah,
menanti detik-detik pelapukan.

Engkau, perempuan cerdas, datang,
bukan sebagai badai yang merenggut kami,
bukan arus yang memaksa,
melainkan hembusan lembut,
mengangkat kami kembali ke udara.

Dengan kelembutanmu,
engkau mengingatkan kami
akan akar yang dulu kami miliki,
akan pohon kehidupan yang tak pernah menyerah.
Engkau, perempuan bijak, adalah angin
yang membawa kami hidup kembali,
bukan untuk dirimu,
tetapi untuk hidup yang telah kau nyalakan.

Engkau pergi tanpa jejak,
namun setiap desah angin yang datang,
setiap langkah kecil yang kami ambil,
adalah warisanmu,
perempuan hebat yang pernah
mengubah arah hidup kami.

Kini, kami terbang lebih jauh,
bukan karena kami kuat,
tapi karena engkau,
perempuan pemberani,
telah memberi kami kekuatan
untuk menghadapi dunia ini.

Bukittingi, Sumbar, 2006

————
Biografi Singkat

Leni Marlina juga merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital/ kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRIs
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)