March 14, 2026
anto3

ilustrasi ist

anto narasoma

o, sahabat,
aroma ramadan yang memancarkan surga belum tiba dari pintu-pintu kehadirannya, kau pun dipanggil-Nya

hitam putih hatimu
yang kau pancarkan dalam perilaku keseharian, menjadi pertaruhan antara serpihan tanah merah sebelum adam tiba

air mata ini pun
menggenang dalam doa-doa terakhir,
ketika kedekatan ramadan menjadi lapar haus yang tak kau bawa

aku sadar,
hidup mati sepotong nyawa yang Ia titipkan
adalah keranjang amal
bagi penghimpunan keberkahan-Nya

memang,
tanah tak sekadar
masa lalu dalam sebatang Alif di tubuhmu

tapi,
adam dan hawa yang lebih dahulu mencoba
berjalan tanpa penutup rasa malu, harus menghitung-hitung akalnya lewat sepotong buah quldi

dari kalimat-kalimat Ilahiyah yang mencatat hidup matimu, janji itulah yang mematikan perjalanan darahmu setelah adam-hawa terlempar dari kematianmu, sahabatku

maka,
dari ayat-ayat sedalam 30 juz yang menasihati
perjalanan hitam pada hatimu adalah akal budi

maka berjalanlah
di antara daun-daun namamu yang tumbang di tanah terakhir

sebab,
panggilan itu bukan kematian, tapi
baik buruk amal
yang menyapa; sesaat setelah matamu terpejam

Palembang
15 Februari 2025