April 18, 2026
rizal3

Oleh: Rizal Tanjung

Hatiku dahulu batu di padang jiwa,
keras oleh debu “aku”,
kering oleh jarak dari Wajah-Mu
yang tersembunyi dalam cahaya.

Aku bersumpah pada sepi:
akan hidup sebagai pengembara luka,
menua di gurun nafsu,
mati tanpa menemukan mata air-Mu.

Namun Engkau turun perlahan,
bukan sebagai badai,
melainkan setetes rahmat
dari langit yang tak terjangkau doa.

Setetes menjadi dzikir,
dzikir menjadi aliran rindu,
rindu mengikis karang kesombongan,
hingga hatiku retak oleh cahaya.

Gerimis berkah-Mu bertahun-tahun
mengubah batu menjadi taman,
tempat sabar berakar dalam diam,
dan pasrah berbunga tanpa suara.

Bendungan angkuh runtuh satu-satu,
air mata menjelma tasbih,
hari-hariku basah oleh syukur,
malam-malamku bercahaya oleh fana.

Dan hujan turun terus—
bukan hujan dunia,
melainkan limpahan rahasia Ilahi,
emas kasih yang menyucikan debu ruh.

Aku menanggalkan diri,
seperti bayang kembali ke matahari,
kedua tanganku menadah takdir,
dadaku terbuka pada Kekasih Sejati.

Di dalam jiwaku
bintang-bintang makrifat mencair,
menjadi sungai penyatuan
menuju samudra tanpa tepi.

Kini aku bukan batu.
Bukan gurun.
Bukan aku.

Aku hanyalah hujan berkah
yang jatuh untuk kembali,
setetes cinta
yang pulang ke Laut Cinta.


Sumatera Barat, Indonesia, 2026.