April 18, 2026

Oleh Yusuf Achmad

Semestinya tepat setengah lima ini, Injak kaki penuhi janji. Jumpai penyuka puisi Menuju jam lima hampir magrib. Baru sampai di depan penyuka puisi melebihi karib. Diiringi alunan kitab suci, perjalanan suci dimulai. Dinanti tempat suci penuh sunyi, nisan diam sana-sini membujur sepi.

Tak terasa, roda sepeda motor berhenti. Tepat di depan si bertopi putih. Topi ala habaib banyak dikenakan di sini, Di kampung peranakan Arab. “Ahlan bib, kef haluk?” “Alhamdulillah, Khaeerr.” “Ajiib! Lama ndak ketemu ente.” “Walad?” “Sudah jadi jid, ente.” Percakapan berjalan lancar.

Sebentar kemudian sampai di tujuan, Rumah keramat si penanti qiamat. Bangunan tua dan cerita bertuah berdiri, Tegak tidak miring bagai semangat dan si penyuka puisi. Bersiap dengan segala demi buku bakal diisi.

Lalu-lalang penziarah memancing berkah, Tak hirau kamera menjepret pusara juga langkah. Seperti juga si penyuka puisi fokuskan HP bak jelajat mata, para juru parkir dan ahli zikir berseberangan cara berpikir. Uang receh penghapus lapar satu sisi, Sisi lain berkah diburu moga bukan karena nafsu.

Kamera dan HP kehilangan arah, Seperti jengah kehilangan rasa. Atau tak punya rasa. Karena bukan fotografer profesional semata. Akhirnya sepakat sudah, anggap cukup foto bekal buku. Buku bukanlah mau, hanya bekal pulang, oleh-oleh perjalanan Panjang.

Untuk penyuka buku kesepian. Bukan keakuan tapi kemanusiaan. Lalu, gulai sedap bercampur Roti Mariyam. Menghibur meski belum puas lagi. Ditawari shay, katanya, “Nanti.” Usai lapar tinggalah cerita ini, Perjalanan bakal buku menjelma. Menjadi jalan cita antar penyuka puisi. Perjalanan terlilit cinta si penyuka sejati.