May 3, 2026

Perjalanan Seniman Fauzul el Nurca: Dari Aktor hingga Pemimpin Studio Sangkaduo, H-1 Menyambut Monolog “Sang Jenderal” di Era Digital

Oleh Leni Marlina

Padang, 14 Agustus 2025 – suaraanaknegerinews.com| Di tengah derasnya arus hiburan digital—dari film layar lebar hingga konten streaming instan—teater panggung langsung tetap menghadirkan pengalaman unik yang tidak tergantikan: interaksi nyata, resonansi emosional mendalam, dan ruang refleksi kemanusiaan. Besok malam, Jumat 15 Agustus 2025, Fauzul el Nurca, seniman multitalenta sekaligus pendiri Studio Sangkaduo, akan menampilkan monolog berjudul “Sang Jenderal” di Gedung Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Padang, pukul 19.30 WIB.

Momentum H-1 ini menjadi puncak persiapan panjang yang dimulai sejak beberapa bulan lalu. Fauzul membuka lembar perjalanan hidupnya yang sarat pengalaman. “Saya memulai karier seni sejak 1982, bergabung dengan Teater Semut Padang. Awalnya sebagai aktor, kemudian merambah ke sutradara dan penulis,” ujarnya. Pada Desember 1989, ia mendirikan Studio Sangkaduo, singkatan dari Sanggar Kerja Kreatif (SangK2), yang menjadi laboratorium ide dan ruang kreatif bagi para seniman yang berani menantang batasan seni konvensional. “Studio ini bukan sekadar sanggar latihan. Ia adalah tempat berkumpulnya para seniman yang mengusung gagasan baru, mengangkat isu sosial, dan memperkaya budaya lokal,” tambah Fauzul.

Menurutnya, setiap karya harus membawa sesuatu yang berbeda, bukan hanya hiburan semata. “Saya ingin setiap pementasan memberikan manfaat bagi diri saya, pemeran, dan penonton. Inspirasi datang dari alam—yang tak pernah berhenti mengajar—dan kepedulian pada kemanusiaan, kebangsaan, serta lingkungan sekitar,” katanya. Filosofi inilah yang menjiwai seluruh karya Fauzul, termasuk “Sang Jenderal”.

Naskah “Sang Jenderal” awalnya ditulis sebagai drama dua tokoh pada 2019. Untuk pementasan kali ini, Fauzul menyesuaikannya menjadi monolog tunggal, di mana satu aktor memerankan tiga karakter berbeda. “Keputusan ini bukan sekadar pertimbangan teknis, tetapi tantangan artistik untuk menyampaikan kerumitan karakter secara mendalam,” ujarnya. Latihan intens yang dilakukan hingga H-1 ini difokuskan pada penguasaan gestur, intonasi, dan emosi, agar penonton besok malam benar-benar merasakan pergulatan batin “Sang Jenderal” secara nyata.

Cerita berpusat pada “Sang Jenderal”, seorang tentara berpangkat tinggi yang menghadapi dilema moral dan emosional. Likolah Patuik, bawahannya yang setia sekaligus tukang urut, menjadi cermin emosinya. Konflik antara kepercayaan, loyalitas, dan ketakutan digambarkan sedemikian realistis sehingga penonton dapat merasakan ketegangan psikologis tokoh secara langsung. Fauzul menegaskan, “Cerita ini universal. Siapapun yang memiliki tanggung jawab pasti pernah menghadapi pertaruhan antara otoritas dan kepercayaan pada orang lain.”

Dalam konteks era digital, hiburan kini bisa dikonsumsi secara cepat dan instan. Fauzul menekankan bahwa teater langsung menawarkan pengalaman berbeda: energi penonton dan aktor mengalir bersama, menciptakan pengalaman kolektif yang tak tergantikan. Ia juga membuka kemungkinan integrasi teknologi, seperti streaming pementasan dan interaksi daring pasca pertunjukan, agar audiens lebih luas tetap bisa menikmati, tanpa mengurangi esensi pengalaman langsung.

Produksi “Sang Jenderal” melibatkan tim profesional yang bekerja harmonis di balik layar. Dadang Leona bertugas sebagai manajer panggung, Tusriadi dan Bambang Art menangani videografi dan dokumentasi, Joni Wahid sebagai artistic director, Efrizal YE pada pencahayaan, dan Hasnawi Hasan sebagai komposer musik. Fauzul menekankan, “Setiap elemen saling mendukung. Suara, cahaya, dan gerak panggung membentuk pengalaman utuh bagi penonton, memperkuat suasana batin sang jenderal.”

Pementasan besok malam akan digelar di lantai 4 Gedung Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, akan memelihara semangat kemanusiaan dan perjuangan mengisi kemerdekaan

Dalam membangun karakter “Sang Jenderal”, Fauzul menggabungkan pengalaman seni selama lebih dari 40 tahun dengan riset mendalam, termasuk literatur sejarah, observasi dunia militer-politik, dan imajinasi kreatif. “Menjadi tiga tokoh sekaligus dalam monolog bukan perkara mudah. Saya harus mendalami masing-masing karakter, menyesuaikan perubahan suara dan bahasa tubuh, agar penonton dapat mengikuti cerita secara utuh,” ujarnya. Selain itu, tim artistic direction merancang pencahayaan, musik, dan kostum untuk memperkuat mood dan konflik, sehingga pengalaman penonton menjadi lebih hidup dan reflektif.

Bagi Fauzul, menonton teater bukan sekadar hiburan; ada banyak dampak positif yang bisa diperoleh penonton. Pertama, pengalaman langsung di panggung membantu membangun empati. Melihat karakter berjuang dengan dilema moral, ketakutan, dan loyalitas memungkinkan penonton merenungkan pengalaman pribadi mereka sendiri, memperluas kesadaran sosial dan emosional. Kedua, teater memicu refleksi kritis dan diskusi, membuka ruang dialog tentang nilai kemanusiaan, tanggung jawab, dan kepemimpinan. Ketiga, teater panggung meningkatkan konsentrasi dan kehadiran mental, berbeda dengan konsumsi hiburan digital yang pasif. Penonton menjadi bagian aktif dari pengalaman, meresapi setiap gestur, intonasi, dan interaksi emosional aktor.

Fauzul berharap, penonton besok malam dapat merasakan ketegangan batin dan ketulusan karakter, serta membawa pulang refleksi tentang kekuasaan, loyalitas, dan kerentanan manusia. Interaksi emosional sengaja dirancang agar audiens tidak sekadar menjadi saksi, tetapi merasa berdialog dengan “Sang Jenderal”, bahkan dengan diri mereka sendiri.

Jika Fauzul harus meninggalkan satu pesan dari hati, ia memilih kalimat yang menjadi inti pementasan:

“Keberanian itu cerminan langsung dari ketakutan.”

Kalimat ini merangkum konflik batin dan keberanian yang menjadi inti cerita, sekaligus mengajak penonton untuk merenungkan pengalaman mereka sendiri dalam menghadapi tanggung jawab, ketakutan, dan pilihan moral.

Dengan pementasan ini, Fauzul el Nurca membuktikan bahwa teater panggung tetap relevan dan vital di era digital, mampu menggerakkan emosi, kesadaran kritis, dan refleksi sosial penonton. Monolog “Sang Jenderal” bukan sekadar hiburan, tetapi ruang dialog kemanusiaan yang hidup, menegaskan bahwa seni panggung dapat menjadi cermin masyarakat, medium pembelajaran, dan ruang perjumpaan batin yang jarang ditemukan di layar digital.

Catat Tanggalnya: Besok, Jumat, 15 Agustus 2025, pukul 19.30 WIB
Gedung Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Padang

Fauzul mengajak seluruh masyarakat, dari pelajar, mahasiswa, keluarga, hingga komunitas seni, untuk hadir dan merasakan energi panggung secara langsung. “Mari bersama-sama menyelami emosi karakter, berdialog melalui pengalaman langsung, dan membuat pengalaman ini hidup dan bermakna,” ujarnya.

(Leni M. SAN_ Assisted by AI)