April 17, 2026
achmad new2

Oleh Yusuf Achmad

Berawal dari diskusi remeh temeh tentang karya sastra, percakapan kemudian beralih ke diskusi yang lebih serius tentang karya puisi. Lalu lebih menukik pada tidak hanya sekadar diskusi lisan via seluler yang berdurasi singkat tetapi meningkat menjadi tulisan. Tulisan yang memberikan apresiasi terhadap sebuah karya puisi yang dipublikasikan dalam platform digital bernama “suaraanaknegerinews.”

Tulisan apresiasi ini adalah analisis terhadap tiga puisi masing-masing berjudul “Di Kesunyian Kompleks Itu” karya Anto Narasoma, “Rumah Duka, Sajakku Mengalirkan Genangan Air Mata” karya Lasman Simanjuntak, dan “Pasang Matamu Tak Lagi Terbuka” karya Yusuf Achmad. Analisis mendalam dengan menggunakan pendekatan filsafat.

Penulis memberikan analisis mendalam untuk ketiga puisi di atas dengan mengangkat tema kematian dari sudut filsafat. Penulis menyimpulkan bahwa jika dipandang dari sudut filsafat, puisi-puisi tersebut menunjukkan dan mengacu pada konsep filsafat tentang kematian dan eksistensi manusia. Sebagai pelengkap, berikut adalah kutipan ringkas dari analisis tersebut:

“Karya-karya Anto Narasoma, Yusuf Achmad, dan Lasman Simanjuntak masing-masing menyoroti aspek berbeda dari kematian. Narasoma mengungkapkan keterbatasan nalar manusia dalam menghadapi kematian, sementara Achmad mencerminkan kesedihan mendalam akibat kehilangan, dan Simanjuntak menawarkan harapan akan kehidupan setelah kematian. Ketiga karya ini, meskipun berbeda dalam pendekatannya, memiliki kesamaan dalam hal pengakuan bahwa kematian adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia. Pada akhirnya, kematian bukanlah sesuatu yang dapat dipahami sepenuhnya melalui rasio atau nalar, melainkan pengalaman yang mengubah pemahaman kita tentang hidup dan eksistensi. Kematian mengajarkan kita untuk menerima keterbatasan, menjalani hidup dengan penuh makna, dan mengakui bahwa setiap eksistensi manusia pada akhirnya akan kembali ke tempat asalnya.”

Ketika dalam pembicaraan secara lisan tulisan ini dikonfirmasikan kepada saya selaku salah satu penulis, saya memberikan rasa terima kasih karena salah satu puisi saya telah diapresiasi sedemikian rupa. Namun ketika pembicaraan berikutnya untuk mengkonfirmasi makna teks puisi saya, saya kemudian menyampaikan bahwa saya tertarik dengan teori yang mengatakan bahwa ketika teks sudah dipublikasi maka penulis sudah mati.

Pengalaman pribadi saya juga pernah membedah satu buku berjudul “Adapting More” karya Lutfi Muhammad. Saat saya membedah buku tersebut, saya terkesan dengan banyaknya gambar dalam buku tersebut. Saya membandingkan karya lain dari penulis yang saya miliki. Buku tersebut sangat berbeda dari segi tampilan dan gaya penulisan. Yang paling mencolok yaitu buku ini kaya akan gambar yang tidak ditemui pada buku karya penulis sebelumnya. Disamping itu, gaya penulisannya pun berbeda, yaitu tidak terlalu banyak menampilkan nukilan ayat al-quran ataupun hadis. Halaman demi halaman dari buku ini juga berbeda, di mana tidak terlalu banyak penjelasan atau dengan kata lain penulis cenderung berbicara pada inti yang akan disampaikan daripada memberikan penjelasan lebih detail kepada pembaca.

Namun kemudian, ketika sesi tanya jawab dilangsungkan, tidak hanya pertanyaan yang disampaikan tetapi juga pendapat dan lainnya dari sesi ini. Salah satu pernyataan muncul dari layouter buku tersebut. Ia menyatakan bahwa ia tidak punya tendensi apapun terhadap buku tersebut. Ia hanya tertarik dengan gambar indah baik binatang dan lainnya dan kemudian meletakkannya pada subtema dari buku ini tanpa maksud dan tujuan lainnya. Ia kemudian menyatakan bahwa bedah buku yang saya lakukan telah menyimpang jauh dari maksud peletakan gambar dan isi buku.

Saya tidak menanggapi secara mendalam karena saat itu sang penulis ada dan tidak berkomentar banyak. Dan inilah sesungguhnya sikap yang benar. Saya menduga penulis sepakat dengan esensi teori “penulis sudah mati”, yang menyatakan bahwa makna sebuah teks tidak lagi bergantung pada niat atau maksud penulisnya, melainkan pada interpretasi pembaca. Pernyataan ini menyiratkan bahwa:

1. Teks menjadi independen dari penulis setelah dipublikasikan.
2. Makna teks dikonstruksi oleh pembaca melalui proses interpretasi.
3. Setiap pembaca dapat menemukan makna yang berbeda dalam teks yang sama, sehingga teks memiliki banyak kemungkinan makna.