Laporan Paulus Laratmase
–
“Dari Seminar Nasional IKDKI Papua Barat dan Papua Barat Daya, Sabtu, 15 November 2025”
Manokwari, Papua Barat – suaraanaknegerinews.com| Dalam seminar nasional HUT IKDKI di Manokwari, Prof. Dr. Ir. Benediktus Tanujaya, M.Si., menggetarkan ruang dengan gagasannya tentang hubungan manusia dan lingkungan. Di hadapan para akademisi, tokoh agama, anggota DPRD, MRP Papua Barat dan mahasiswa, ia membuka pemaparannya dengan suara jernih: alam bukan sekadar ruang hidup, melainkan keluarga besar ciptaan Tuhan. Ia menggaungkan kembali nyanyian Santo Fransiskus dari Asisi, “Saudara Matahari, Saudari Bulan…” sebuah puisi spiritual yang menempatkan manusia dalam persaudaraan kosmik, sejajar dengan angin, air, dan bumi yang menopang kehidupan.

Prof. Benediktus kemudian menautkan perspektif iman ini dengan pemikiran Paus Fransiskus dalam Laudato Si, bahwa tanggung jawab ekologis bukan hanya tugas moral, tetapi panggilan iman. Alam, katanya, adalah sakramen harian yang mengabarkan kasih Allah; merusaknya berarti menista anugerah. Dengan bahasa yang sederhana namun membekas, ia menegaskan bahwa iman Katolik menuntut manusia untuk merawat, bukan mengeksploitasi. Dalam pemeliharaan bumi, manusia bukan raja, melainkan penatalayan.
Dalam bagian inti, Prof. Benediktus mengurai pentingnya pembelajaran kontekstual (CTL) untuk menghubungkan siswa dengan realitas ekologis di sekitar mereka. CTL bukan saja metode, melainkan jembatan antara teori dan pengalaman. “Belajar dari mengalami,” ujarnya, mengingatkan bahwa pengetahuan sejati lahir dari perjumpaan langsung dengan alam. Inquiry, refleksi, dan komunitas belajar menjadi pilar yang menuntun siswa mengenali tanda-tanda kasih Allah melalui interaksi nyata dengan lingkungan.
Lebih jauh, ia memberikan contoh konkret integrasi CTL dengan iman Katolik: siswa belajar tentang air sambil memahami bahwa air adalah “saudari” yang memberi hidup; mereka mempelajari tanah sambil merenungi Ibu Pertiwi yang menopang keberadaan manusia. Di sekolah, nilai yang tumbuh bukan hanya kognitif, tetapi juga sosial, moral, dan spiritual. Solidaritas, tanggung jawab, dan rasa syukur kepada Sang Pencipta berkembang dalam kesadaran ekologis yang mendalam.
Di akhir pemaparannya, Prof. Benediktus menyampaikan rekomendasi tegas namun penuh harapan: Gereja perlu mengembangkan ekokatekese dan ekoliturgi, pemerintah mesti mendorong pendidikan ekologis lintas iman, dan sekolah harus menjadi ruang tumbuh bagi generasi yang mencintai bumi. Dengan senyum lembut, ia menutup pesannya: merawat lingkungan adalah merawat iman; dan iman yang hidup selalu menemukan jejak Allah dalam setiap helai daun, embusan angin, dan denyut bumi yang kita pijak.