PUISI DAN PERUT LAPAR
Cerpen: Rizal Tanjung
–
Di sebuah kamar sempit di pinggiran Kota Tercinta, aku duduk termenung di depan selembar kertas kosong. Di sampingku, secangkir teh tawar yang sudah dingin menjadi satu-satunya teman, sementara perutku terus bernyanyi dalam nada kelaparan.
“Hari ini aku hanya makan sepotong roti basi,” gumamku, lalu tersenyum miris. Aku menatap puisiku yang belum selesai, mencoba menulis kata-kata yang indah meski pikiranku penuh dengan suara gemuruh lambung sendiri.
Di luar, Kota Tercinta tak pernah peduli pada seorang penyair yang kelaparan. Pemerintah sibuk berpidato tentang kebangkitan seni dan kebudayaan, tetapi penghargaan terhadap seniman hanyalah angka-angka dalam laporan tahunan.
Tiba-tiba, di sudut ruangan yang tadinya kosong, terdengar suara tawa rendah.
“Ah, lapar! Itu teman sejati seorang penyair.”
Aku tersentak dan menoleh. Di sudut ruangan berdiri seorang pria kurus dengan mata cekung dan senyum licik. Pakaiannya lusuh, tangannya menggenggam selembar kertas penuh coretan puisi.
“Kau siapa?” tanyaku, mataku menyipit curiga.
“Aku François Villon,” jawabnya ringan. “Penyair abad ke-15, perampok, dan orang yang tahu betul bagaimana rasanya menulis dalam kelaparan.”
Aku menelan ludah. Nama itu tidak asing. François Villon, penyair Prancis yang puisi-puisinya begitu indah tetapi hidupnya berakhir dalam keterasingan.
Sebelum aku sempat berkata sesuatu, suara lain muncul dari bayangan.
“Kelaparan bukan sekadar kondisi fisik, anak muda,” kata seorang lelaki berjanggut panjang, mengenakan jubah usang. “Kelaparan adalah bentuk penyiksaan yang diberikan dunia pada orang-orang yang berpikir.”
Aku menoleh dan mendapati sosok itu menatapku dengan mata tajam.
“Socrates?” bisikku tak percaya.
Socrates mengangguk. “Aku mati bukan karena lapar, tetapi karena kebenaran. Tapi bagiku, seorang penyair seperti dirimu menghadapi nasib yang lebih buruk. Kau harus hidup dengan kata-kata yang tak dihargai, sementara perutmu terus kosong.”
François tertawa. “Benar sekali, filsuf tua. Seorang penyair lebih menderita daripada seorang filsuf. Kau mati dengan meminum racun secara sukarela. Aku mati di pengasingan, terbuang, dengan hanya puisiku yang mengenang ku.”
Aku merasa dadaku sesak. Aku menatap selembar puisiku dan mengingat bagaimana para penyair di Kota Tercinta tak pernah mendapat penghargaan. Pemerintah hanya menyukai puisi-puisi yang memuja mereka.
“Kau lapar?” tanya François, mengangkat satu alis. “Aku juga lapar ketika menulis Balada Orang-Orang Malang. Mereka menyebutnya mahakarya setelah aku mati. Lucu, bukan?”
“Tapi kau mencuri,” sindir Socrates. “Penyair macam apa yang harus mencuri untuk bertahan hidup?”
“Penyair yang tahu bahwa dunia tidak memberi tempat bagi mereka yang hanya mengandalkan kata-kata,” François membalas.
“Tapi penyair adalah suara zaman,” tiba-tiba sebuah suara lain bergema di ruangan itu.
Kami semua menoleh. Dari bayangan, seorang pria tinggi dengan janggut putih melangkah maju. Ia mengenakan pakaian lusuh, wajahnya terlihat lelah tetapi matanya penuh api.
“Siapa kau?” tanyaku.
“Aku Rainer Maria Rilke,” jawabnya. “Penyair yang percaya bahwa puisi adalah jembatan menuju keabadian. Tetapi bahkan aku pun tahu, penyair di dunia ini harus mati dulu sebelum dikenang.”
Socrates menghela napas. “Jadi kalian semua datang untuk memberi tahu anak ini bahwa menjadi penyair berarti harus menderita?”
“Tentu saja,” François menjawab cepat. “Apa kau tahu ada penyair yang hidup makmur tanpa menjual jiwanya?”
“Dante,” kata Rilke.
François mendengus. “Dante dibuang dari tanah kelahirannya.”
“Sappho,” lanjut Rilke.
“Dia bunuh diri.”
“Homer?”
“Homer buta dan harus mengembara dari kota ke kota untuk bertahan hidup.”
Socrates menyela, “Tapi puisi mereka bertahan lebih lama daripada kerajaan-kerajaan yang menindas mereka.”
Aku terdiam.
“Apa yang kalian ingin aku lakukan?” tanyaku akhirnya.
François mendekat dan menatapku tajam. “Kau punya dua pilihan, anak muda. Kau bisa menjadi penyair yang hidup nyaman dengan menulis puisi-puisi yang menyenangkan para penguasa. Atau kau bisa menulis kebenaran dan hidup dalam kelaparan.”
Rilke tersenyum. “Atau kau bisa memilih jalan ketiga.”
Semua mata tertuju padanya.
“Jalan ketiga?” tanyaku.
“Menulis bukan demi uang, bukan demi penguasa, tetapi demi keabadian,” kata Rilke pelan. “Mungkin kau akan mati dalam kemiskinan, tetapi kata-katamu akan hidup lebih lama daripada siapa pun yang pernah menindas mu.”
François terkekeh. “Itu omong kosong romantis.”
“Tapi itu satu-satunya cara agar penyair tetap menjadi penyair,” Rilke bersikeras.
Socrates mengangguk setuju. “Seorang filsuf juga menghadapi pilihan yang sama. Aku bisa saja tunduk pada kehendak orang-orang Athena, tetapi aku memilih kebenaran.”
Aku terdiam lama. Aku memandang puisiku yang kosong, memikirkan semua yang baru saja kudengar.
“Mungkin,” kataku akhirnya, “aku tidak butuh makanan sebanyak aku butuh kata-kata.”
François tertawa pahit. “Kau akan menyesalinya ketika perutmu kosong di malam hari.”
“Mungkin,” aku mengakui, “tapi aku lebih takut hidup tanpa meninggalkan apa pun yang berarti.”
Socrates tersenyum puas. “Jawaban yang cukup bijak.”
“Tapi, kebijaksanaan tidak mengisi perut,” keluh François.
Karl Marx tiba-tiba muncul dari bayangan, mendengus. “Dan itulah mengapa kapitalisme harus dihancurkan.”
Socrates menoleh padanya. “Ah, Karl, kau selalu datang di akhir cerita.”
“Tentu,” Marx tersenyum dingin. “Karena selalu ada orang seperti anak ini yang berpikir mereka bisa mengatasi kelaparan dengan idealisme.”
“Tapi tanpa idealisme,” Rilke menimpali, “apa yang tersisa untuk dunia?”
Tak ada yang menjawab. Hening. Lalu, satu per satu, para penyair dan filsuf itu menghilang dalam kabut malam.
Aku menatap puisiku sekali lagi. Lalu, dengan perut kosong tetapi hati yang penuh, aku mulai menulis.
Puisi dan perut lapar
Padang, 2025