Puisi Nyamplungan Menjawab
yusuf achmad
Puisi-puisi protes Mereka ngambek dan marah. Salah satunya
bertanya “Apa ente takut hidup dengan ana?”
Kutengarai ia dari sekitar Ampel. Belum sempat kujawab. Puisi
lainnya menyindir, “Biarkan ia pikir kita ganja.”
Dan puisi satunya lagi ikut berkata, “Ente bahlul jauh dari kami”
Pasti ia sedaerah dengan yang pertama. Aku jadi penasaran. Ganja daun terlarang.
Memabukkan, buruk bagi penggunanya.Tidak hanya dilarang negara, agama. Musuh masyarakat juga.
Musuh jiwa-raga. Ketagihan bermimpi-khayal. Memberikan kebahagian semu dan aneh.
Kesakitan gila bahkan kematian.Benarkah mereka ganja? Bahlul searti lugu. Dan takut sepeti takut tidak makan. Benarkah aku lugu dan takut?
Takut karena mereka tak menjamin. Jangankan uang terkenal
atau kaya. Lugu menganggap tidak berguna. Sia-sia dan
percuma.
Lalu puisi tua mendatangiku “Bas ahsan ente renungkan ini.”
Sambil menyodorkan lembaran, “Ana abahnya puisi pertama”
Lalu kubaca isi lembaran itu. Ana cuma terdiam di situ. Menatap
lembaran itu di tanganku. Ana cuma ingin tanya, ”Apakah ini
puisiku? Atau hanya tiruan murahan? Atau hanya sampah yang
dibuang?”
Surabaya, Juni 2023