April 18, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

Wakil Bupati Tanimbar, Para Maestro Dunia, dan Suara dari Pinggiran yang Menggema ke Pusat Peradaban

Padang, 31 Mei 2025 — Dalam gemuruh dunia yang semakin kehilangan lirihnya, Universitas Negeri Padang menjadi rumah tempat kata-kata kembali bersujud. Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni berubah menjadi altar bagi ruh zaman, ketika dua buku puisi monumental—L-Beaumanity karya Leni Marlina dan Delula Jaya karya Yusuf Achmad diluncurkan bersamaan dalam acara Poetry Book Launching & Discussion serta International Seminar on Poetry (IOSOP) 2025.

Acara ini bukan sekadar peluncuran buku. Ia adalah perjamuan spiritual literasi, tempat bait-bait puisi dijadikan tubuh perlawanan, tubuh doa, dan tubuh cinta. Dipandu dalam format hibrida—luring di Padang dan daring melalui Zoom & YouTube—acara ini mempertemukan penyair, akademisi, aktivis, dan pemimpin dari berbagai belahan dunia.

Buku sebagai Ruh: L-Beaumanity dan Delula Jaya

Dalam napas yang sama, dua karya ini diluncurkan bagaikan dua sisi mata uang peradaban:

L-Beaumanity: Love, Beauty, and Humanity – The Voice of the Voiceless adalah elegi panjang bagi mereka yang dibungkam: perempuan adat, anak-anak dari tanah yang digerus industri, dan jiwa-jiwa yang kehilangan suaranya di tengah bising dunia.

Delula Jaya, karya Yusuf Achmad, hadir sebagai narasi puitik yang menyulam akar-akar sejarah lokal Biak dengan kosmologi nusantara. Ia bukan puisi yang ingin indah; ia ingin menyembuhkan.

Keduanya dibedah dan didiskusikan dalam sesi panel yang dihadiri para akademisi dan budayawan. Diskusi ini memperlihatkan bahwa puisi hari ini bukan lagi sebatas estetika bahasa, tetapi jembatan antara pinggiran dan pusat; antara luka dan harapan.

Figur Pendorong dan Pendukung: Siapa yang Ada di Balik Cahaya Ini?

Acara ini menjadi besar dan bernyawa karena dukungan banyak jiwa dan lembaga:

Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, Dr. Yuliana Ch. Ratuanak, M.KM., hadir langsung di Padang dan menyampaikan sambutan yang menggetarkan. Dengan suara lembut dan penuh jiwa, ia menegaskan bahwa puisi bukan hanya suara hati, tapi juga napas kekuasaan yang tahu ke mana harus berpihak.

Pemerintah Kabupaten Biak Numfor dan Komunitas Suara Anak Negeri yang dimotori oleh Laratmase Paulus, menjadi mitra kultural yang mendukung proses kreatif dan produksi buku ini, memastikan suara dari pelosok Indonesia tidak hanya terdengar, tapi juga didengar secara bermartabat.

Panitia IOSOP 2025, terdiri dari dosen dan mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UNP, menghadirkan acara ini dengan penuh cinta dan kerja kolektif, menunjukkan bahwa akademia tidak harus kering dari nurani.

Tiga Api dalam Satu Panggung: Antonarasoma, Tatang Macan, dan Rizal Tanjung

Sore menjelang senja, panggung berubah menjadi langit mini ketika tiga raksasa puisi berdiri satu per satu:

Antonarasoma, penyair lintas benua asal Sumatera Selatan, membacakan puisi dalam gaya yang kerap dianggap sebagai seorang Master of Poetry Reading. Suaranya seperti lonceng yang menggema ke dalam jiwa. Saat ia membaca puisi, semua hadirin menunduk.

Tatang Macan, penyair, dramawan Sumatera Barat, mengguncang auditorium dengan pembacaan puisi sambil meniup puput tanduk. Suaranya membelah udara, membangunkan roh kebudayaan yang tertidur di antara tiang-tiang kampus.

Rizal Tanjung, penyair filsuf asal Sumatera, hadir dengan puisi yang bukan hanya dibaca, tetapi direnungkan seperti meditasi. Puisinya “Lelemuku Bunga Yang Tidak Pulang” menjadi penutup magis, menyatukan teknologi, cinta, dan kemanusiaan dalam satu simfoni sunyi.

Wawancara Eksklusif: “Kami Membawa Timur ke Tengah Dunia”

Dalam wawancara bersama Dr. Yuliana Ch. Ratuanak, M.KM tersibak visi besar di balik kehadirannya:

Jurnalis: Apa yang Ibu rasakan hadir dalam panggung yang penuh dengan kata dan suara ini?
Dr. Yuliana:
“Saya merasa berada dalam gereja puisi, masjid kata, pura nurani. Ini bukan sekadar peluncuran buku, tapi perayaan roh. Saya datang bukan untuk memberi sambutan, tapi untuk menyampaikan kesaksian: bahwa anak-anak dari timur, dari laut, dari pohon-pohon adat kami—berhak bersuara, dan dunia harus mendengarkan.”

Jurnalis: Apa pesan Ibu bagi pemerintah daerah lain yang mungkin belum memberi ruang sebesar ini untuk literasi?
Dr. Yuliana:
“Bangun jalan, tapi jangan lupakan jalan pulang ke dalam. Literasi adalah jalan pulang bangsa ini ke jiwanya.”

Panggung yang Tak Akan Redup

Acara ini ditutup dengan pembacaan puisi bersama dari semua tamu kehormatan, mahasiswa, dosen, dan panitia. Air mata jatuh. Tawa pecah. Peluk disematkan. Tapi yang paling terasa: ada kekuatan yang kini berpindah dari kata ke jiwa. Sebuah kekuatan sunyi, namun mengakar dalam.

Dan malam itu, Padang bukan hanya kota. Ia menjadi halaman pertama dari sebuah kitab dunia baru, tempat puisi tidak lagi bertanya “siapa aku?”, tapi berseru: “Inilah kita, dengan luka, dengan cinta, dan dengan cahaya.”