April 18, 2026
Waktu merindu

Yusuf achmad

Pagi merajut harap menanti sore,
lantunan lagu menjadi langkah yang setia mengiringi.
Sore mendekap malam, dan melodi tetap berdendang.
Tak berbeda dengan subuh yang berkejaran dengan dzuhur,
atau ashar yang perlahan menjemput maghrib,
hingga isya datang mengetuk sunyi.

Jika waktu adalah pedang tajam,
atau mungkin emas yang tak ternilai,
di tanganku, ia menjelma permata
yang menghiasi kejenuhanku yang merayap.
Waktu, duhai waktu,
kutunggu hadirmu—berbisik lembut dalam keheningan.

Kuinginkan simfoni yang merdu,
bukan sekadar denting irama kosong.
Kenyang aku menghitung detik yang berganti menit,
hingga menit menjelma jam yang membisu.
Namun aku tak lagi haus akan cawan berisi keluhan,
tugas, atau cacian.
Kupunya camilan hadiah, pujian, dan penghargaan,
tetapi semuanya kini hambar dalam kesunyian.

Hanya rindu yang tetap mengendap di sudut hati,
seperti malam yang menanti ciuman fajar,
seperti hujan yang memeluk bayang pelangi.

Kerinduan ini, orkestra waktu yang tak berkesudahan,
mengalun dalam setiap langkah dan hela nafasku.
Aku tahu, pada tiap detik yang berlalu,
terselip harapan diam yang menggenggam erat.
Harapan untuk bertemu lagi,
dalam pelukan hangat,
meski hanya dalam kenyataan yang rapuh,
namun tak pernah kehilangan arti.

Surabaya, 13-12-2024