RD. Domincs Baldawins Masriat: Kebenaran Tuhan Menyakitkan, tetapi Membawa Kedamaian
Oleh : joko
“Ada yang Terdahulu Menjadi Terakhir” – Refleksi RD. Domincs Baldawins Masriat di Hari Minggu
Pastor mahasiswa asal Kepulauan Tanimbar ini mengajak umat untuk tidak putus asa dalam kebenaran dan selalu rendah hati di hadapan Tuhan, pesan Injil Lukas 13:22-30 menjadi inspirasi untuk terus memperbarui diri melalui doa, ekaristi, dan kasih kepada sesama.
http://suaraanaknegerinews.com | Bertempat di Central Seminary, University of Santo Tomas (UST) Manila, Filipina, Minggu, 24 Agustus 2025, RD. Domincs Baldawins Masriat, pastor mahasiswa asal Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Indonesia, berbagi renungan iman yang mendalam.
Dalam refleksinya, ia mengajak umat untuk melihat kembali makna hidup beriman yang sejati: rendah hati, bertobat, dan setia mengikuti Tuhan dengan hati yang tulus.
Dengan sapaan penuh kasih, ia menegaskan: “Semoga kasih Allah memberkati kita selalu.”
Bacaan Liturgi yang Menguatkan
Hari Minggu itu ditandai dengan bacaan-bacaan suci dari Kitab Suci:
- Bacaan Pertama: Yesaya 66:18-21
- Bacaan Kedua: Ibrani 12:5-7.11-13
- Bacaan Injil: Lukas 13:22-30
Dari rangkaian bacaan tersebut, RD. Domincs menggali pesan yang menyentuh hati umat. Ia menekankan dua hal pokok sebagai bekal perjalanan iman.
Dua Pesan Utama dari Tuhan
Pertama, ia mengingatkan bahwa kebenaran Tuhan terkadang terasa menyakitkan. Namun, justru melalui kebenaran itulah kasih Allah dinyatakan. “Janganlah putus asa ketika mendapat nasihat kebenaran dari Tuhan. Jika kita setia memperbarui diri, meski sulit, kedamaian sejati akan kita peroleh,” ucapnya.
Kedua, RD. Domincs menegaskan pentingnya kerendahan hati. “Jangan merasa diri lebih hebat daripada orang berdosa. Sebab, bila orang berdosa bertobat, mereka pun akan memperoleh Kerajaan Surga. Yesus berkata: ‘Ada orang yang terakhir yang akan menjadi yang terdahulu, dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi yang terakhir.’”
Ia menambahkan, menjadi Katolik bukanlah sekadar identitas, melainkan kesediaan untuk selalu bertobat, rendah hati, dan mendekatkan diri pada Yesus melalui doa, firman, ekaristi, serta tindakan kasih kepada sesama.
Doa Penutup
Di akhir renungannya, RD. Domincs mengajak umat untuk bersatu dalam doa:
“Ya Allah, semoga dengan anugerah kasih-Mu, kami dapat memperoleh kebahagiaan kekal dalam kerajaan surga.”
Dengan penuh kelembutan, ia menutup sapaan rohaninya: “Salam kasih dan doa.”