April 17, 2026
rendang1

Rendang Kiriman Leni Marlina, Padang Sumatera Barat, Selasa 16 Desember 2025.

(Ucapan Terima Kasih dari Paulus Laratmase di Hari Kelahiran)

Oleh: Paulus Laratmase

Di hari ketika umur bertambah satu bulir cahaya,
datanglah engkau, wahai rendang
bukan sebuah adonan makanan,
melainkan surat panjang dari Minangkabau
yang ditulis dengan api,
dilipat oleh kesabaran,
dan disegel oleh doa para ibu
yang mengaduk waktu di kuali hitam.

Terima kasih,
sebab engkau tiba bersama ucapan selamat
yang tak bersuara,
namun menggema lebih lama
daripada lilin yang meleleh di atas kue.
Engkau adalah perayaan
yang tidak menyala,
tetapi menghangatkan ingatan.

Paulus Laratmase
hari ini namamu berlayar
di antara umur dan rasa.
Ulang tahunmu bukan saja menambah  angka,
melainkan simpang jalan
tempat manusia belajar:
bahwa hidup, seperti rendang,
tidak lahir dari tergesa-gesa.

Engkau tahu, Paulus,
rendang tak pernah diburu oleh waktu;
ia justru menaklukkannya.
Api kecil mengajarinya rendah hati,
santan yang menguap mengajarinya kehilangan,
daging yang menghitam mengajarinya keteguhan.
Begitulah usia manusia
yang ingin menjadi makna:
harus rela diuji panas,
harus berani menua
agar pantas disebut matang.

Terima kasih atas hadiah ini
sebab di dalam tiap serat rendang
aku membaca filsafat nenek moyang:
bahwa yang tahan lama
bukanlah yang paling manis,
melainkan yang sanggup bertahan
dari pahit ke pahit
tanpa kehilangan jati diri.

Minangkabau mengirimkan lebih dari rasa;
ia mengirimkan cara memandang hidup.
Bahwa merawat adalah kerja sunyi,
bahwa cinta tak selalu berwajah lembut,
kadang ia keras, pekat, dan gelap
namun justru di sanalah
kesetiaan diuji.

Paulus,
ulang tahunmu hari ini
adalah kuali besar
tempat pengalaman diaduk.
Ada tawa yang mendidih,
ada luka yang mengental,
ada harapan yang menunggu
hingga api diturunkan
agar tidak gosong oleh ambisi.

Rendang ini,
wahai sahabat,
adalah metafora tentang perjuanganmu:
aktivisme yang dimasak perlahan,
kata-kata jurnalistik yang diperas hingga jujur,
keberpihakan yang tak lekas basi
karena dimasak dengan nurani.

Terima kasih,
karena melalui rendang
aku diingatkan:
ulang tahun bukan tentang pesta,
melainkan tentang bertanya
sudah sejauh mana diriku
matang sebagai manusia?

Di suapan pertama,
aku mencicipi kampung halaman yang tak pernah pergi.
Di suapan kedua,
aku merasakan tangan-tangan jauh
yang tetap dekat lewat rasa.
Di suapan terakhir,
aku mengerti:
bahwa doa tak selalu turun dari langit,
kadang ia datang
dalam bungkusan sederhana
beraroma kelapa dan lengkuas.

Maka terimalah, Paulus,
ucapan terima kasih ini
sebagai puisi yang belum selesai,
sebab seperti rendang dan umur,
makna akan terus berubah
selama kita mau sabar
menjadi manusia.

Selamat ulang tahun.
Dan terima kasih, Minangkabau
atas hadiah yang mengajarkan
bahwa filsafat paling jujur
sering kali lahir
dari dapur yang sunyi.

——-
Biak, 2025.