Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Resensi Puisi Leni Marlina: “Hujan Deras dan Hutan Yang Membuka Rahasia dan Luka”  dalam Terang Laudato Si’

Pengantar Redaksi

Ketika sastra menjadi alarm ekologis, puisi sering dibaca sebagai ruang keindahan. Namun dalam konteks Indonesia hari ini, sastra juga menjadi ruang kesaksian. Puisi Leni Marlina yang kami tampilkan dalam edisi ini adalah salah satu suara penting yang merekam kerusakan ekologis di Sumatra, yang dalam beberapa hari ini  menghadirkan banjir bandang besar dan menelan banyak korban baik material maupun manusia.

Sebagai media yang berpihak pada masyarakat kecil dan kelompok rentan, Suara Anak Negeri melihat bahwa karya sastra seperti ini selain sebuah ekspresi artistik tetapi juga  alarm. Ia adalah dokumen penting yang menyingkap apa yang terjadi di hulu sungai—tempat di mana kekuasaan sering bekerja diam-diam dan masyarakat di hilir menanggung akibatnya.

Melalui ulasan Paulus Laratmase, redaksi berharap pembaca tidak hanya menikmati keindahan puisi, tetapi menangkap pesan ekologis dan moral yang ingin disampaikan. Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk menghadirkan jurnalisme yang peka pada bencana, kritis terhadap kebijakan, dan setia pada suara rakyat.

Mari kita baca bersama. Mari kita dengarkan apa yang ingin disampaikan hutan, tanah, dan air yang selama ini diam.

Redaksi Suara Anak Negeri

HUJAN DERAS DAN HUTAN YANG MEMBUKA RAHASIA DAN LUKA

Puisi: Leni Marlina


Hujan turun,
menggetarkan permukaan tanah
seperti ketukan pertama dari sesuatu
yang enggan memberi pernyataan.
Setiap titik memukul bumi
dengan tata bahasa yang lahir
tanpa guru, tanpa penafsir.

Dari lereng bukit dan hutan yang terisak,
batang-batang panjang meluncur
menyiratkan garis yang menghunus malam.
Mereka tidak rebah—
mereka digiring turun,
diseret gravitasi yang membawa kabar
tentang kesunyian yang kehilangan pelindung.

Lumpur menggulung warna
yang tak pernah terdaftar
dalam ingatan manusia.
Ia menyeret serpih yang dulu tegak,
aroma yang pernah menetap,
dan luka yang memilih sendiri
kepada siapa ia bertahan.

Rumah-rumah miring
seperti huruf yang kehilangan vokal;
tiangnya mencatat peristiwa
tanpa sanggup menyuarakannya.
Di arus yang menelan halaman depan,
atap mengembara
dengan bekas langkah
yang tak lagi mengenali pemiliknya.

Banjir bandang mengangkat benda-benda
yang tidak diberi nasib untuk bergerak:
jendela yang copot dari engsel,
kursi yang berputar mencari lantai,
dinding yang masih mengingat suara
meski ruangnya telah hilang.

Di tengah hiruk yang tak bersuara,
langit merapatkan tubuhnya—
bukan untuk mengancam,
melainkan menyingkap.
Ia membawa pantulan yang getir:
bekas tebas, bekas geser, bekas lenyap—
semua disodorkan tanpa jeda.

Bumi, dengan napas terseret,
menyusun ulang dirinya
seperti seseorang
yang meraba keretakan tulang
tanpa mengaduh.

Namun di sela pecahan,
muncul sebuah gerak kecil:
tangan yang memungut papan,
bayangan yang menuntun tubuh lain
melintasi air setinggi lutut,
mata yang menatap lumpur
tanpa memilih pergi.

Gerak itu tidak menawar,
tidak meminta, tidak memohon.
Ia sekadar hadir—
seperti akar yang menolak mati
di tanah yang diporakporandakan.

Pada akhirnya,
ketika aliran mereda,
ketika kayu berhenti mengembara,
ketika tanah menemukan kembali beratnya,
tinggallah arsip itu:
bumi yang merekam,
air yang memanggil,
langit yang mengingatkan,
dan manusia yang, meski terlambat,
mulai membaca
apa yang dulu diabaikan.
Saat Banjir Bandang, Sumatra, Indonesia, 2015 & 2025

Catatan: Puisi di atas merupakan salah satu dari kumpulan puisi Leni Marlina dan dapat dibaca pada link di bawah ini.

KUMPULAN PUISI LENI MARLINA: HUJAN DERAS DAN HUTAN YANG MEMBUKA RAHASIA DAN LUKA

Tentang Penyair: Leni Marlina

Leni Marlina adalah penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengajar sejak tahun 2006.

Karya puisi dan cerpen Leni Marlina telah diterbitkan dalam bentuk kumpulan tunggal, antologi, dan tersedia luas di platform digital, terutama di Suara Anak Negeri News: https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa/

Pada tahun 2025, ia diangkat sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA) dan juga menjabat sebagai Direktur ASEAN untuk ACC SHILA Poets. Pada tahun yang sama, ia dipercayakan oleh Capital Writers International Foundation sebagai Direktur Nasional (Indonesia) untuk International Panorama Literary Festival (IPLF) 2026. Informasi lebih lanjut atau pendaftaran untuk mengikuti festival dapat diakses melalui www.panoramafestival.org.

—-

Resensi Puisi Leni Marlina: “Hujan Deras dan Hutan Yang Membuka Rahasia dan Luka”  dalam Terang Laudato Si’

Oleh Paulus Laratmase

Puisi Hujan Deras dan Hutan yang Membuka Rahasia dan Luka karya Leni Marlina  di atas merupakan salah satu teks sastra Indonesia yang menampilkan kedalaman refleksi ekologis melalui citraan bencana, kerusakan hutan, dan penderitaan manusia. Puisi ini  menggambarkan realitas banjir bandang di Sumatera Barat sebagai fenomena alam, membuka struktur kerentanan yang dibentuk oleh praktik deforestasi, pembalakan sistematis, dan tata kelola kehutanan yang timpang. Teks ini dapat dibaca sebagai arsip ekologis yang merekam jejak politik-ekonomi yang merusak lingkungan dan ruang hidup masyarakat lokal.

Ensiklik Laudato Si’ (2015) yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus menegaskan bahwa krisis ekologis adalah  masalah teknis dan ilmiah, ia merupakan wujud krisis moral, spiritual, dan sosial. Dalam ensiklik dimaksud, Paus Fransiskus menekankan konsep ecological conversion, integral ecology, serta keterkaitan antara kemiskinan dan kerusakan lingkungan. Ensiklik ini secara eksplisit mengkritik logika ekonomi yang menempatkan alam sebagai objek eksploitasi, dan menyerukan pembaruan etis dalam memperlakukan bumi sebagai “rumah bersama”.

Menghubungkan puisi Leni Marlina dengan Laudato Si’ memperlihatkan bagaimana dua tradisi: sastra dan magisterium etika, sama-sama mengungkapkan luka ekologis sebagai bentuk ketidakadilan struktural. Puisi Leni Marlina membuka realitas konkret dari kerusakan bumi, sementara Laudato Si’ memberikan kerangka moral dan teologis untuk memahami akar dan konsekuensinya. Resensi ini menelaah korespondensi tematik keduanya untuk memperlihatkan bagaimana sastra dapat memperkuat seruan etis untuk menjaga ciptaan.

Hujan, Kerentanan Tanah, dan Kritik terhadap Paradigma Eksploitatif

Puisi Leni Marlina memulai narasinya dengan gambaran hujan deras yang “menggetarkan permukaan tanah”, menggambarkan fragilitas lingkungan yang telah kehilangan daya dukungnya. Dalam perspektif Laudato Si’, Paus Fransiskus mengkritik mentalitas teknokratis dan eksploitasi ekologis yang mengabaikan batas-batas alam. Dalam §109, Fransiskus menyebut bahwa “manusia terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang dapat dieksploitasi tanpa memikirkan konsekuensinya”.

Korespondensi antara puisi dan ensiklik terlihat jelas: hujan bukan penyebab utama bencana, tetapi pemicu dari kerusakan yang sudah ditimbulkan manusia. Kerusakan struktur tanah akibat deforestasi dalam puisi mencerminkan apa yang disebut Fransiskus sebagai “kejahatan manusiawi terhadap lingkungan” yang akhirnya berbalik menghancurkan pelakunya sendiri (§34). Dengan demikian, puisi memperlihatkan konsekuensi konkret dari apa yang oleh Laudato Si’ disebut sebagai kegagalan moral untuk menghormati ciptaan.

Kayu Gelondongan dan Jejak Pembalakan: Kritik terhadap Ekonomi Predatoris

Dalam bait kedua, kayu gelondongan yang meluncur bersama arus banjir menjadi simbol paling kuat dari kerusakan ekologis yang sistemik. Citra metafora mengindikasi langsung  praktik pembalakan liar dan konsesi hutan yang diberikan melalui jejaring patronase politik. Puisi ini seolah membongkar “rahasia gelap” hutan yang dibuka oleh bencana.

Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ mengkritik keras sistem ekonomi yang “hanya mencari keuntungan jangka pendek” sambil mengorbankan manusia dan lingkungan (§36). Ia menyebut ini sebagai bentuk ekonomi pembunuh (§52) yang merusak bumi dan memiskinkan masyarakat lokal. Citra kayu gelondongan dalam puisi Leni Marlina memvisualisasikan kritik tersebut: alam yang dieksploitasi secara brutal akhirnya menghasilkan penderitaan ekologis sekaligus sosial.

Dalam konteks ini, puisi dan ensiklik sama-sama menegaskan bahwa kerusakan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari ketidakadilan struktural dalam sistem ekonomi dan politik.

Lumpur dan “Serpih yang Dulu Tegak”: Runtuhnya Struktur Ekologis

Puisi menggambarkan lumpur pekat yang membawa “serpih yang dulu tegak”, mengacu pada sisa-sisa pohon dan lapisan tanah yang terkoyak. Ini menggambarkan kerusakan ekologis yang meluluhlantakkan fondasi ekologis kehidupan.

Dalam Laudato Si’, konsep ecological balance (keseimbangan ekologis) dijelaskan sebagai jaringan hubungan yang saling menopang dalam ciptaan. Ketika manusia merusak satu bagian, keseluruhan tatanan menjadi terganggu (§138). Puisi Leni Marlina menunjukkan gangguan itu secara konkret: hutan kehilangan keseimbangannya, tanah kehilangan akar penopangnya, dan masyarakat kehilangan perlindungan alaminya.

Baik puisi maupun ensiklik sama-sama mengungkapkan bahwa kerusakan ekologis merupakan kehancuran hubungan yang seharusnya harmonis antara manusia dan alam.

Kerusakan Pemukiman dan Tubuh Sosial yang Rapuh

Bait berikutnya menggambarkan rumah yang roboh, dinding yang hanyut, dan perabot yang terlempar. Puisi menempatkan bencana ekologis sebagai tragedi sosial yang menghancurkan ruang hidup orang kecil.

Laudato Si’ menggarisbawahi hal ini dalam §25: “Dampak perubahan ekologis paling berat dirasakan oleh masyarakat miskin.” ketika tutupan hutan hilang, masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai, seperti dalam puisi Lina Marlina, menjadi kelompok yang paling rentan. Puisi ini memperkuat argumen Fransiskus bahwa krisis ekologis dan krisis sosial adalah satu kesatuan masalah.

Dalam kerangka integral ecology, ensiklik menolak pemisahan antara kerusakan alam dan penderitaan manusia. Puisi Leni Marlina, melalui citraan rumah yang miring dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal, memperlihatkan wajah konkret dari penderitaan yang dimaksud Fransiskus.

Jejak Tebas–Geser–Lenyap: Membaca “Dosa Struktural” terhadap Ciptaan

Bait kelima memuat citra “bekas tebas, bekas geser, bekas lenyap”, menggambarkan tahapan teknis operasi pembalakan. Puisi menyajikan bahasa visual yang menunjukkan bahwa kerusakan ekologis adalah hasil tindakan manusia yang terencana, politis ala persekongkolan kaum politisi.

Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus menyebut fenomena ini sebagai structural sin (dosa struktural) yang lahir dari sistem ekonomi-politik yang tidak adil (§66). Ia menyatakan bahwa eksploitasi terhadap hutan adalah bentuk “ketidakadilan antar generasi” yang mencuri masa depan anak cucu (§159).

Dengan demikian, puisi Leni Marlina berbicara dalam bahasa puitis tentang kenyataan teologis yang sama: bahwa pembalakan adalah tindakan ekonomi dan tindakan moral yang merusak ciptaan.

Kesimpulan

Puisi Leni Marlina dan Ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus sama-sama mengungkapkan realitas bahwa kerusakan lingkungan adalah persoalan moral, sosial, dan politik. Puisi Lina Marlina merekonstruksi jejak ekologis kerusakan hutan Sumatera melalui citraan hujan, kayu gelondongan, lumpur, dan kehancuran rumah, sementara Laudato Si’ memberikan kerangka etis dan teologis yang menjelaskan akar struktural dari kerusakan itu. Keduanya menegaskan bahwa krisis ekologis tidak terjadi secara alamiah, melainkan dihasilkan oleh sistem ekonomi dan kekuasaan yang menomorduakan martabat ciptaan.

Melalui hubungan ini, puisi berfungsi sebagai “kesaksian ekologis” yang memperlihatkan luka bumi secara konkret. Laudato Si’ memperluasnya menjadi seruan untuk pertobatan ekologis, solidaritas sosial, dan reformasi struktural. Dengan membaca keduanya, kita menyadari bahwa menjaga ciptaan menjadi tanggung jawab ilmiah dan  tuntutan etis-spiritual. Puisi Leni Marlina, dalam terang ensiklik, menjadi pengingat bahwa bumi adalah rumah bersama yang setiap lukanya adalah juga luka kemanusiaan.

—-

Epilog

Suara yang Tak Boleh Lagi Diabaikan

Setiap bencana memiliki akar. Setiap akar memiliki cerita. Dan setiap cerita membutuhkan keberanian untuk disampaikan.

Edisi kali ini mempertemukan kita dengan puisi, data, dan suara masyarakat, tiga hal yang jika dirangkai, memperlihatkan bagaimana kerusakan hutan adalah persoalan alam dan persoalan keberpihakan. Ketika batang kayu meluncur bersama air, itu bukan hanya sisa pohon; itu adalah sisa dari keputusan politik yang gagal. Ketika lumpur menenggelamkan rumah, itu adalah bukti bahwa ada sesuatu yang lebih dulu ditenggelamkan: akal sehat, integritas, dan tanggung jawab.

Di tengah situasi ini, masyarakat tetap berdiri, saling menolong tanpa komando. Puisi Leni Marlina mengabadikan itu dengan jernih, bahwa di antara pecahan bencana, manusia masih memilih untuk bertahan dan membantu.

Redaksi Suara Anak Negeri menutup edisi ini dengan satu pesan: jangan biarkan suara hutan kembali dibungkam. Jangan biarkan air menjadi juru bicara terakhir. Puisi telah berkata. Alam telah memperingatkan. Kini, yang dibutuhkan adalah tindakan!!!

—-

Tentang Penulis

Paulus Laratmase adalah Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia di Biak, Papua. Ia juga seorang jurnalis, penulis, seorang guru yang mengajar di beberapa sekolah negeri dan swasta dan dosen  di beberapa perguruan tinggi di Biak Papua. Ia seorang pribadi yang berperan sebagai   pengamat dan pecinta sastra yang cermat. Karya-karyanya menjembatani keterlibatan sosial yang kritis, refleksi etis, dan kepekaan sastra, memberikan lensa yang bernuansa untuk mengeksplorasi persimpangan antara ekologi, masyarakat, dan ekspresi puisi. Ia telah memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan dan promosi sastra Indonesia, terutama puisi, serta pertukaran sastra lintas budaya melalui platform media yang didirikannya, Suara Anak Negeri News (suaraanaknegerinews.com) dan negerinews.com,  khususnya pada bagian Sastra dan sub-bagian yang didedikasikan untuk puisi dan cerpen.

 

Referensi

Fransiskus. (2015). Laudato Si’: On Care for Our Common Home. Vatican Press.

Marlina, Leni. (2025). Hujan Deras dan Hutan yang Membuka Rahasia dan Luka.

Oliver-Smith, A. (2017). Disaster, Power, and Policy. Routledge.

Widjaja, T., et al. (2023). Decentralization, Forest Governance, and Environmental Degradation. Environmental Governance Review.

Sari, D., & Nugroho, H. (2024). Hydrological Vulnerability in Deforested Catchments. Indonesian Journal of Watershed Management.

Walhi Sumatra Barat. (2022). Evaluasi Banjir Bandang dan Kerusakan Hutan 2022.