April 18, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

I

Aku adalah hujan yang jatuh di padang tandus,
menyulam basah di tanah yang lupa cara mencintai air.
Namamu kusebut dalam sunyi,
seperti mantra yang tak pernah usai,
meski lidahku telah lelah berdoa pada bintang mati.

Kau adalah senja yang selalu terlambat,
datang hanya ketika langit mulai kehilangan warnanya.
Dan aku adalah cakrawala,
menanti garis lembutmu menyentuh garis mataku
dalam absurditas yang tak pernah selesai.

Rinduku padamu,
seperti burung yang kehilangan langit,
ia terbang dalam diam,
menusuk ruang yang tak punya arah pulang.

Aku menuliskan wajahmu di permukaan danau,
lalu angin datang menghapusnya
dan aku tetap menatap—
seakan wajahmu bisa tumbuh kembali dari gelombang kecil yang menari.

Kau tahu?
Aku mencintaimu dengan bahasa yang tak dipahami bunga,
dengan getar-getar yang tak bisa dijelaskan musik,
dengan cahaya yang lebih hangat dari matahari
tapi lebih sepi dari bayangan.

Rindu ini tidak punya rumah—
ia berkeliaran di lorong-lorong kenangan,
mengendap di antara sela detik dan desir napas,
menyusup ke dalam mimpi seperti pencuri
yang hanya mencuri harapan.

Aku menyulam sajak di kelopak malam,
dengan benang cahaya bulan
dan jarum yang kupinjam dari kesedihan.
Kau tak tahu betapa aku ingin menjadi pagi
yang pertama kali menyentuh pipimu—
sebelum dunia merebutmu kembali.

Cintaku,
adalah samudra tanpa peta.
Dan rinduku adalah perahu kecil yang rapuh,
berlayar di antara badai,
tanpa tahu ke mana arah dermaga hatimu.

Kau adalah musim yang tak bisa kupeluk,
selalu datang dengan aroma hujan
dan pergi meninggalkan jejak di jendela.

Aku pernah mencoba melupakanmu,
seperti daun melupakan pohon.
Tapi angin selalu mengingatkanku,
bahwa rinduku padamu adalah akar yang menolak layu.

Dan bila waktu adalah kanvas,
aku ingin melukismu dengan warna-warna
yang hanya bisa dilihat oleh hati.
Kau menjadi lukisan abadi
yang tak pernah selesai kutatap.

Dalam diam, aku berdoa:
“Jika rindu ini harus mengembara,
maka biarlah ia mati di ambang pintumu.”
Karena tidak ada rumah yang lebih hangat
dari dada tempat namamu tinggal.

Cintaku,
rinduku ingin pulang.
Tapi setiap pintu kuketuk,
hanya gema suaramu yang menjawab.
Dan aku tahu,
rinduku masih belum punya rumah,
karena rumah itu…
adalah pelukanmu yang belum kembali.

II

Aku menanam namamu di ladang sunyi,
agar setiap bunga yang tumbuh
memanggilku dengan kenangan.
Tapi bahkan bunga pun enggan mekar
di tanah yang hanya disirami air mata.

Kau adalah malam yang tak punya pagi,
gelapmu abadi dalam mataku
dan aku—
hanya lentera kecil
yang terus menyala,
meski tahu, anginmu tak pernah lelah membunuh terang.

Rinduku menjelma hujan,
lalu badai,
lalu sunyi yang tak bisa dibasuh doa.
Ia menyusuri gang-gang waktu,
mencari detik
di mana kita pernah saling menatap
dan membiarkan semesta runtuh di antara napas.

Cinta ini bukan puisi,
ia adalah luka yang pintar menyamar sebagai lagu.
Dan rinduku padamu,
adalah simfoni yang hanya bisa didengar oleh malam—
yang terlalu sepi untuk bernyanyi,
terlalu luka untuk bersuara.

Aku tak tahu,
apakah kau sadar bahwa setiap langkahmu
adalah gempa kecil di hatiku.
Kau berjalan menjauh,
tapi bayanganmu tetap tinggal,
menjadi altar yang kusembah dengan diam.

Kau pernah menjadi kota
yang kupelajari jalan-jalannya,
namun kau juga menjadi labirin
yang selalu membawaku kembali
ke titik kehilangan.

Aku ingin menjadi kata
yang tak kau ucap,
tapi selalu kau simpan di dada.
Aku ingin menjadi nafas
yang tidak kau sadari,
tapi tanpanya, kau runtuh.

Rindu ini tidak punya rumah.
Ia menumpang di lagu-lagu lama,
di film yang tak selesai kutonton,
di kursi kosong di sebelahku,
di sisa kopi yang tak pernah pahit sebanyak harap.

Dan jika suatu hari,
kau temukan secarik puisi tertinggal di meja,
dibubuhi namamu tanpa pengirim,
jangan heran.
Itu aku—
yang sudah tak tahu lagi caranya pulang,
selain lewat huruf-huruf.

Sebab mencintaimu
adalah membangun rumah
di atas pasir waktu—
indah, sementara,
dan selalu hilang sebelum sempat kutinggali.

III

Pada akhirnya,
aku belajar mencintaimu
dengan cara yang tidak menuntut pulang.

Aku menyulam rinduku
menjadi perahu kertas,
lalu mengapungkannya di sungai waktu—
biarlah ia hanyut
menuju tempat yang bahkan tak menyebut namaku.

Aku tak lagi menunggu di ambang pintu,
karena kau tak pernah masuk.
Aku tak lagi menyalakan lampu,
karena bayanganmu terlalu setia menghuni gelapku.

Kini, rindu ini bukan lagi tangisan,
ia telah berubah menjadi kebiasaan—
seperti menyeruput sepi di pagi hari,
atau menyapa kenangan sebelum tidur.

Kau telah menjadi kitab sunyi
yang tak pernah selesai kubaca,
halaman-halamanmu penuh teka-teki,
tapi aku terus membacanya
meski tak pernah paham
kenapa aku tak bisa berhenti.

Aku ingin lupa,
tapi bahkan lupa pun enggan memelukku.
Ia berdiri jauh, menatap iba,
seolah berkata:
“Beberapa cinta memang diciptakan
hanya untuk dikenang,
bukan untuk dimiliki.”

Mungkin, rindu ini memang ditakdirkan yatim.
Tak punya rumah,
tak punya alamat,
tak punya nama yang bisa dipanggil
selain: kau.

Tapi jangan salah—
meski aku kehilanganmu,
aku tidak kehilangan cinta.
Ia tetap hidup,
menjadi taman kecil di dadaku
yang hanya berbunga saat malam paling dingin.

Dan jika suatu saat kita bertemu,
tak usah katakan apa-apa.
Biarkan mataku yang bicara:
“Aku telah mencintaimu dengan seluruh sepi yang kupunya,
dan merelakanmu dengan seluruh cahaya yang kupelajari.”

Rindu ini, akhirnya,
kuberi sayap.
Biar ia terbang,
tidak lagi mencari rumah—
tapi mencari langit
di mana ia bisa menjadi hujan terakhir
yang membasuh sisa cintaku padamu.

Dan aku?
Aku akan berdiri di bawahnya,
tersenyum,
meski tak ada satu pun pelukan
yang datang bersamaan dengan hujan itu.

Sumatera Barat, 2025.