Oleh Herry Tjajono
–
Kadang, ada momen-momen kecil namun justru membuka tabir besar tentang karakter dan kualitas seorang pemimpin. Dalam konteks ini, dia adalah Gibran. Tabir besar itu bukan ketika ia berdiri di panggung megah KTT G20 dan disorot kamera dunia–tapi ketika beberapa waktu lalu ia tampil di salah satu acara TV swasta nasional yang profesional (sepanjang saya tahu, relatif tidak ada program “sampah” di TV ini).
Di penghujung acaranya–Gibran ditanya oleh seorang Netizen:
“Saya mau nanya pak, bagaimana perasaan bapak ketika banyak yang menghujat bapak semenjak menjadi wakil presiden.”
Lalu Mas Wapres menjawab dengan tenang:
“Tidak masalah sih, itu berarti demokrasi di negara kita berjalan dengan baik. Masukan, evaluasi, hujatan, itu semua kita terima untuk perbaikan ke depan. Yang jelas, ya kita tidak perlu baper, tidak perlu bersedih. Semua kekuatan, tenaga, pikiran, kita fokuskan untuk…sekali lagi…program, visi misi Presiden berjalan dengan baik.”
Mungkin jawabannya klise, normatif, namun nada, ekspresi dan bahasa tubuhnya menyiratkan banyak hal yang memberikan harapan dan optimisme kepada kita sebagai rakyat. Kepercayaan dirinya sebagai orang nomer dua di Republik ini semakin solid dan meningkat. Tak ada ekspresi baper, tak ada gentar, tapi juga tak pongah adigang adigung. Ada wibawa yang tumbuh bukan dari retorika, tetapi dari tempaan.
Hal lain yang penting, ketika banyak orang memutuskan tali ikatan kesetiaan, ia justru menunjukkan sikap tegak lurus yang tak bergeser sehelai rambut pun: bahwa dirinya adalah wakil, dan ia menempatkan Presiden sebagai pusat orientasi kerjanya.
Dan kematangannya sebagai pemimpin muda sangat terasa. Ingatlah bahwa semua “rajaman”, baik fitnah, penghinaan, penjegalan, dan lainnya yang sadis nyaris setiap saat menerjangnya. Bukan hanya dirinya pribadi, tapi juga pada seorang ayah yang mendidik dan membesarkannya, pun keluarganya. Semua rajaman itu di luar batas kenormalan dan adab. Hanya manusia dengan ketahanan mental serta kelapangan jiwa di atas rata-rata, yang sanggup bertahan di kursi setinggi itu dengan badai rajaman segila itu. Tak banyak orang yang bisa menanggungkannya.
Namun sekali lagi, ia tidak roboh.
Ketika sebagian orang memilih membalas dendam, ia memilih menundukkan ego.
Gibran, setidaknya sampai hari ini, adalah karang yang sedang mengeras oleh hempasan gelombang ganas. Namun jika anak muda ini bisa terus menjaga amanahnya, pun kejernihan batin yang membuatnya tetap teduh, maka republik ini mungkin sedang menyaksikan sebuah fenomena kepemimpinan yang jarang terjadi. Yaitu lahirnya seorang pemimpin muda yang belajar lebih cepat daripada usianya, dan tumbuh lebih kuat dari luka-luka yang ditembakkan kepadanya.
Semoga kelak kita memiliki pemimpin pilih tanding, dengan ketangguhan sekokoh batu karang menjaga pantai (baca: bangsa) dari gempuran badai.