Seulas Senyum di Album Lama
Era Nurza
–
Dalam album usang berdebu rindu
terselip seulas senyum di sudut halaman
seolah waktu menyingkap tirai masa
mengantar kita pulang ke kenangan
Lembar-lembar kekuningan terbuka pelan
seperti detik yang menari di ujung pagi
seulas senyum mengalir dari mata
menyapa diam yang telah lama tertinggal
Di sudut foto yang nyaris pudar
terpatri cinta dan gelak tawa
senyum itu diam-diam bercerita
tentang hari yang pernah begitu hangat
Mentari senja jatuh di wajah-wajah bisu
memantulkan cahaya pelukan lama
seulas senyum menembus ruang
menyapa dari lorong waktu yang hening
Melangkah jauh di jalan kenangan
bagai menjejak taman bunga yang sunyi
seulas senyum menuntun langkah
menuju pelukan yang tak lagi nyata
Di bawah pohon yang pernah jadi saksi
tawa masa lalu bergema samar
seulas senyum menjadi peta diam
menelusuri lorong waktu yang terhapus
Lembar demi lembar menjadi altar sunyi
seulas senyum berpendar di tiap garis
mengajak hati diam dan merenung
pada detik yang membeku dalam cahaya
Album tua itu bukan sekadar kenangan
ia museum jiwa yang tak lekang
seulas senyum lukisan abadi
menghidupkan cinta dari zaman silam
Dan di setiap hela napas yang tersimpan
seulas senyum tetap tinggal
mengendap dalam makna hidup
di antara baris-baris kenangan lama
Mungkin waktu terus melaju
namun senyum itu tak pernah usang
ia lentera dalam malam sunyi
menuntun pulang pada peluk yang hilang
Seulas senyum lagu lama yang mengalun
dalam bisik lembut di balik kata
mengajak kita menyentuh kembali
hangat masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi
Padang, Agustus 2025