April 18, 2026

/1/

Menyanyi Diantara Reruntuhan

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kami bernyanyi bukan karena gembira,
melainkan karena suara kami satu-satunya bukti kami masih ada.
Batu-batu yang jatuh

menabuh ritme sunyi,
dan debu bersenandung menjadi paduan suara luka.

Ayah tak pulang sejak pagi,
Ibu menyimpan langit yang runtuh di kelopak matanya.
Kami menyusun puing menjadi permainan ilusi,
berpura-pura dunia sedang sembunyi,
bukan membenci.

Padang, Sumatera Barat, 2021

/2/

Sekolah Kami Tak Ada Lagi

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Hari ini kami duduk di lantai langit,
buku-buku terbakar bersama mimpi yang digulung api.

Tuhan, adakah Engkau lupa menulis ulang daftar hadir kami?
Atau terlalu banyak nama gugur sebelum sempat terbaca?

Guru kami berkata:
“Belajar adalah jihad.”
Kini jihad itu terkubur di bawah runtuhan abjad.
Kami tetap mengeja: damai, damai, damai,
meski tiap hurufnya berlubang seperti dada kami.

Padang, Sumatera Barat, 2021

/3/

Televisi di Paris Tidak Menangis

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Seorang anak terbaring dalam selimut merah tanah.
Kamera menatapnya tanpa air mata.
Dunia menyeduh kopi, membolak-balik saluran,
sambil sesekali berkata: “Oh, betapa tragisnya…”

Kami bukan headline.
Kami luka-luka yang tak viral.
Tidak ada tagar untuk nyawa yang tercecer di sela waktu.
Di jalan-jalan dunia,
gema kami berbisik,
tapi masih banyak jiwa, enggan menoleh pada nyaringnya.

Padang, Sumatera Barat, 2021

/4/

Dipanggil Oleh Drone, Bukan Ibu

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Saat fajar masih gelap, kami dengar panggilan.
Bukan dari ibu.
Tapi dari langit yang mencabik.
Drone datang seperti malaikat tanpa rahmat,
mengantar maut dengan presisi dingin algoritma.

Kami berlari,
bukan menuju sekolah,
tapi ke dalam pelukan bayangan.

Kaki kecil kami menanamkan harap pada bumi,
sambil menunggu doa yang tersisa di sajadah nenek sebelum gugur ditimpa reruntuhan.

Padang, Sumatera Barat, 2021

/5/

SEHATI: Suara Sahabat Sejati di Hati

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Ketika dunia memalingkan wajah,
aku mendengar suara dari dalam reruntuhan dadaku:
“Aku bersamamu di antara abu dan darah.”
Itulah SEHATI— saksi yang tak pernah tidur, bahkan dalam sunyi.

Saat tanganku gemetar mencari pertolongan,
semua sahabat hilang seperti bayang.
Namun SEHATI tetap menggenggamku,
ketika tiada tangan manusia pun tersisa.

Padang, Sumatera Barat, 2021

/6/

Kami Tidak Mati, Kami Menjadi Cahaya

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka bilang kami telah gugur.
Tapi lihatlah:
kami menyala dalam mata anak-anak yang belum lahir.
Kami menghidupkan malam dengan nama-nama yang tak padam.
Kami bangun puisi dari puing,
dari darah,
dari napas terakhir.

Tak ada kematian bagi yang diingat.
Kami adalah surat yang tak terbakar habis.
Kami adalah suluh kecil di ujung malam,
yang tak pernah tunduk pada langit yang seribu kali runtuh.

Padang, Sumatera Barat, 2021

/7/

Sajadah Terakhir Hari Itu di Gaza

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Di sudut rumah tanpa atap,
sajadah masih terbentang,
seolah bumi ini masih layak untuk bersujud.
Darah mengalir seperti tinta dari ayat yang pasrah.

Ayat-ayat tak sempat dituntaskan,
suara imam hancur oleh dentuman.
Namun Tuhan mendengar yang tak terucap,
dari puing dan air mata yang tak sempat jadi kata.

Padang, Sumatera Barat, 2021

/8/

Ketika Langit Tidak Punya Saksi

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Malam ini langit bisu,
bintang-bintang dibekukan oleh kilat buatan.
Siapa yang akan bersaksi bagi anak yang lenyap,
ketika bumi sendiri kehilangan memorinya?

Kami menulis di dinding waktu,
puisi dari darah dan pasir.
Jika dunia memilih diam,
biarlah langit esok membaca kami kembali.

Padang, Sumatera Barat, 2021

/9/

BUKAN SENJATA, TAPI KATA

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kami tak punya senjata,
kami punya kata.

Kami tak punya dendam membara atas derita,
kami punya asa dan doa.

Kami belum bisa menikmati tanah yang merdeka,
tapi kami punya langit puisi, yang tak bisa ditembak jatuh oleh mereka.

Padang, Sumatera Barat, 2021

—————————————–
Kumpulan puisi “SUARA YANG HIDUP DARI ANAK-ANAK PALESTINA” di atas, yang terdiri dari puisi No. 1– 9, awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina pada tahun 2021, murni sebagai hobi pribadi dan koleksi pribadi. Kemudian, puisi-puisi di atas ditinjau kembali, direvisi, dan untuk pertama kalinya diterbitkan melalui platform digital pada tahun 2025.

Leni Marlina aktif terlibat dalam dunia kepenulisan dan sastra, khususnya sebagai anggota Komuitas Penulis Indonesia (SATU PENA, cabang Sumatera Barat) sejak didirikan pada tahun 2022, serta sebagai bagian dari Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Ia juga merupakan anggota Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional (ACC) di Shanghai, dan pada tahun 2024, ia dianugerahi peran sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Perjalanannya di dunia sastra mencakup keterlibatan sebelumnya dengan Victorian Writers Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia mengabdi sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Di luar bidang akademik dan sastra, Leni Marlina aktif sebagai Tim Redaktur Media Suaraanaknegerinews.com dan aktif berkontribusi di sejumlah media online sejenis lainnya.

Leni Marlina juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada bahasa sastra, literasi pendidikan, dan pemberdayaan sosial. Komunitas-komunitas tersebut meliputi:

✨ 1. World Children’s Literature Community (WCLC) – https://shorturl.at/acFv1
✨ 2. Poetry-Pen International Community – Wadah bagi ekspresi puisi global
✨ 3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat) – Komunitas Puisi Inspirasi Masyarakat Indonesia. https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
✨ 4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia) – https://rb.gy/5c1b02
✨ 5. Linguistic Talk Community – Ruang diskusi mendalam tentang bahasa
✨ 6. Literature Talk Community – Wadah bagi para pecinta sastra
✨ 7. Translation Practice Community – Menjembatani bahasa melalui penerjemahan
✨ 8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C) – Mendukung perkembangan bahasa dan literasi.

Baca juga:

“THE LIVING VOICES OF PALESTINIAN CHILDREN”: The Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena, Indonesian Creator of AI Era, FSM, Literacy Flame Community, ACC SHILA)