“SUARA YANG MENOLAK DIKUBURKAN”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia) ★★★★★★★★★★★★
Oleh Leni Marlina
–
/1/
SUARA YANG MENOLAK DIKUBURKAN
Puisi Karya Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku bukan permulaan,
tapi suara yang tak pernah kau letakkan
di baris pertama.
Kami hidup dalam koma—
berjajar sebagai jeda yang ditinggalkan dunia,
tak sempat menjadi subjek,
selalu menjadi objek penderita
dalam kalimatmu yang steril.
Engkau,
yang menulis sejarah
dengan pena berlapis berita,
pernahkah engkau membaca
getar kami dalam tanda tanya?
Kami adalah suara
yang menolak dikubur dalam kutipan.
Kami adalah tubuh
yang membentuk puisi
di atas puing rumah kami sendiri.
Lihatlah kami bukan dari kaca,
tapi dari serpih luka yang bercahaya.
Karena di balik bayangmu,
ada kami—
yang tak ingin jadi metafora,
tapi makna itu sendiri.
Padang, Sumatera Barat, Juni 2025
/2/
BERNAFAS DIANTARA JEDA LANGIT
Puisi Karya Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku bernapas
di antara jeda langit yang tertutup,
dan engkau tak tahu,
itu bukan lagi udara.
Aku,
adalah napas dari tubuh
yang tak lagi dimiliki negara.
Engkau,
adalah gema yang pernah
menjanjikan kata “selamat datang”
tapi lupa membuka pintu.
Kita,
pernah satu bahasa
di dalam luka.
Mereka,
adalah bayangan kita
yang dikurung dalam layar
dan disensor waktu.
Hari ini,
aku berusaha mengenal
napas sendiri—
tanpa nama,
tanpa negara,
tanpa tempat untuk menyebut “aku”
tanpa luka disalahkan.
Padang, Sumatera Barat, Juni 2025
/3/
MENYIMPAN SEPOTONG MALAM
Puisi Karya Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Engkau tanya padaku,
“Di mana malam yang dulu hangat
seperti dinding rumah dan suara ibu?”
Aku jawab lirih:
“Malam telah disembunyikan
di bawah meja dunia,
dilipat seperti peta kuno
yang tak pernah dibuka kembali.”
Mereka mengambilnya,
dan menyulapnya jadi pasar malam
penuh sorak,
tanpa bintang.
Kita kini hidup
dalam siang yang tak pernah berakhir,
dalam terang palsu
yang membakar mata
tapi tak menghangatkan dada.
Namun aku masih menyimpan sepotong malam
di bawah lidahku.
Malam kecil yang bisa kau kecup
jika dunia terlalu bising
untuk jadi tempat tinggal.
Padang, Sumatera Barat, Juni 2025
/4/
LAHIR KEMBALI DARI BIJI SUNYI
Puisi Karya Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami pernah dilempar
ke liang waktu
yang tak mengenal nama kami.
Kami—
suara dari pohon yang ditebang,
air mata dari sungai yang diganti beton,
gema dari ibu yang kehilangan
anak-anaknya
dalam katalog perang.
Tapi engkau,
jika masih memiliki
satu helai nurani,
dengar ini:
Kami akan lahir kembali—
dari biji sunyi
yang disemai
oleh doa paling terbuang.
Kita akan tumbuh
seperti puisi
yang tak memerlukan penerbit,
hanya langit dan hati
yang belum ditambang.
Mereka akan lupa
cara menyembunyikan kita.
Karena suara
yang berasal dari kebenaran
selalu kembali
walau dikubur
di balik statistik.
Padang, Sumatera Barat, Juni 2025
/5/
ENSIKLOPEDIA KEBERANIAN
Puisi Karya Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku belajar tentang diriku
bukan dari cermin,
tapi dari tubuh yang patah
dan tetap berdiri.
Engkau—
yang mengira luka membatasi hidup,
tak tahu bahwa tubuhku
adalah ensiklopedia keberanian.
Mereka menulis kami
dalam catatan kaki sejarah.
Tapi aku menulis ulang
dengan darah yang memilih
tidak mati sia-sia.
Kita adalah paragraf
yang ditulis oleh bumi
dan belum diizinkan
untuk dihapus oleh perang.
Padang, Sumatera Barat, Juni 2025
/6/
BAHASA YANG TUMBUH DIANTARA KITA
Puisi Karya Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ada bahasa
yang tidak bisa diterjemahkan
oleh diplomasi,
oleh layar,
atau oleh lembaga mana pun.
Bahasa itu tumbuh
di antara kita,
dalam air mata yang tak bisa disiarkan,
dalam genggaman tangan
yang diam-diam mencintai dunia
tanpa perlu alasan.
Engkau dan aku—
berbisik dalam bahasa itu
di reruntuhan.
Mereka—
yang hanya tahu bicara
dengan peluru dan kesepakatan—
takkan pernah mengerti
apa yang kita katakan
ketika kita diam
dan tetap mencintai.
Padang, Sumatera Barat, Juni 2025
/7/
TUMBUH MENJADI SILUET
Puisi Karya Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku tidak ingin dikuburkan
dengan berita pagi,
atau dikunci
dalam arsip bencana.
Engkau pun tidak.
Kita terlalu hidup
untuk dimatikan oleh peristiwa.
Mereka berharap
kita berubah menjadi statistik—
tapi kita telah tumbuh
menjadi siluet
yang membayangi sejarah.
Dan dunia,
suatu hari,
akan membaca puing-puing kita
sebagai alfabet baru
yang tak bisa dibakar.
Padang, Sumatera Barat, Juni 2025
/8/
Kita Menjadi Suara Itu Sendiri
Puisi Karya Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sudahlah,
kami tak butuh simpati yang digantung
di langit-langit diplomasi.
Kami telah menjadi bahasa
yang tumbuh dari akar kesabaran,
membelah batu waktu
dengan napas yang tak pernah menyerah.
Engkau lihat kami—
pernah diam, pernah hancur,
tapi tak pernah benar-benar padam.
Kini kita adalah satu
dalam ribuan daun yang bersaksi,
bahwa yang tak terdengar
masih bisa menciptakan gema.
Aku, engkau, kita—
bukan lagi angka
bukan lagi berita
bukan lagi luka.
Kita adalah suara
yang tak butuh pengeras,
karena gema kami
telah ditulis angin,
dinyanyikan pohon,
dan dibisikkan langit
ke setiap jiwa
yang masih punya hati.
Padang, Sumatera Barat, Juni 2025
————————————–
Leni Marlina – Melangkah Bersama Sastra dari Ranah Minang ke Dunia
Leni Marlina adalah seorang penulis, penyair, dan dosen asal Sumatera Barat. Ia tumbuh dengan kecintaan pada kata dan keyakinan bahwa sastra bisa menjadi jembatan kebaikan antar manusia. Sejak lama, ia melibatkan diri dalam kegiatan literasi, baik di lingkungan sekitar maupun di berbagai komunitas yang lebih luas.
Sejak tahun 2022, Leni bergabung dalam keluarga besar SATU PENA (Asosiasi Penulis Indonesia) cabang Sumatera Barat, yang dipimpin oleh Ibu Sastri Bakry dan Bapak Armaidi Tanjung. Dalam lingkungan inilah ia banyak belajar dan tumbuh bersama rekan-rekan penulis lainnya.
Pada Mei 2025, Leni diberi kehormatan sebagai Penulis Terbaik Tahun Ini oleh SATU PENA Sumatera Barat dalam acara Gala Dinner Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-3. Penghargaan ini ia terima dengan penuh rasa syukur, sebagai bentuk dukungan bagi semangat gotong royong dalam membangun budaya baca dan tulis di tanah air.
Di luar negeri, Leni menjadi bagian dari ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA) yang dipimpin oleh penyair dunia Anna Keiko. Sejak 2024, ia dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC SHILA, dan pada 2025 diberi amanah sebagai Ketua Perwakilan Asia dalam kelompok duta puisi ACC SHILA—sebuah kesempatan untuk mempererat jalinan budaya melalui puisi.
Tahun yang sama, ia juga bergabung dengan World Poetry Movement (WPM) Indonesia, yang dikordinasikan oleh Ibu Sastri Bakry, sebagai bagian dari gerakan puisi dunia yang berpusat di Kolombia.
Perjalanan Leni di dunia sastra internasional bermula saat menempuh studi S2 Menulis dan Sastra di Australia pada 2011–2013. Saat itu, ia menjadi anggota komunitas penulis di Victoria dan belajar dari banyak penulis lintas budaya.
Pada 31 Mei 2025, Leni dengan sejumlah komunitas yang dipimpinnya, bersama Achmad Yusuf (sebagai ketua), turut menyelenggarakan kegiatan Poetry BLaD (Peluncuran & Diskusi Buku Puisi) dan IOSoP (Seminar Internasional Online tentang Puisi) 2025, diamananahkan oleh Media Suara Anak Negeri News (di bawah pimpinan Paulus Laratmase) berkolaborasi dengan Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Kegiatan ini adalah ruang bersama untuk berbagi semangat dan cinta terhadap literasi, kemanusian dan perdmaaian melalui karya saatra, puisi.
Sejak 2006, Leni mengabdi sebagai dosen di Program Studi Sastra Inggris, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Ia mengajar dan membimbing mahasiswa di bidang bahasa, sastra, dan penulisan. Ia percaya bahwa pendidikan dan karya tulis dan karya kreatif adalah bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
Di luar aktivitas kampus, Leni juga menulis sebagai jurnalis lepas, editor, dan kontributor digital. Sejumlah karyanya dapat dibaca di: 🔗 https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa/.
Sebagai bagian dari niat untuk berbagi, merangakul dan menjangkau lebih banyak hati, Leni juga memulai dan mendampingi sejumlah komunitas literasi dan sosial berbasis digital, antara lain:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community (PPIC)
3. PPIPM Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat):
https://shorturl.at/2eTSB
https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur): https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community (Ling-TC)
6. Literature Talk Community (Littalk-C)
7. Translation Practice Community (Trans-PC)
8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C)
Melalui puisi, tulisan, dan kegiatan bersama, Leni berusaha untuk terus belajar, berbagi, dan menginspirasi—dengan keyakinan bahwa dari hal-hal kecil, makna besar bisa tumbuh. Ia melangkah tak sendiri, tapi bersama para guru, mentor, tutor, motivator, sahabat, komunitas dan pembaca budiman, Leni turut serta menyalakan lentera literasi dan sastra dari ranah Minang, Nusantara, menuju dunia.
Baca juga: voices-that-refu…wpm-indonesia-★★/