/1/
SUMPAH SAKTI ANAK NEGERI
Puisi: Leni Marlina
Tanah membuka kelopak matanya
pelan sekali—
seolah ingin memastikan
bahwa kami benar-benar melihat
dan bukan sekadar memandang.
Ia tidak marah,
tidak pula memohon.
Ia hanya menunggu,
seperti seorang ibu
yang tahu bahwa anaknya
harus menemukan kesadaran
dengan langkahnya sendiri.
Gunung membetulkan posisinya,
seperti orang tua
yang sudah terlalu lama duduk
di kursi kediaman sejarah.
Dalam diamnya,
ia menyampaikan sesuatu
yang tidak memakai kata:
bahwa keteguhan
tidak pernah lahir dari teriakan,
melainkan dari kesunyian
yang tidak runtuh.
Laut mengecilkan gelombangnya,
seakan ingin mendengar
apa yang sebenarnya kami simpan
dalam dada kami sendiri.
Airnya berbisik:
“Sebelum menjaga negeri,
jagalah hatimu—
karena di situlah peta
ke mana kau akan pulang.”
Langit membuka tirainya,
menurunkan sepotong cahaya
yang terasa seperti
ingatan yang nyaris terlupakan.
Kami menatapnya
dengan rasa gentar yang aneh—
gentarnya sebuah jiwa
yang tiba-tiba sadar
bahwa ia hidup
di bawah janji yang belum ditepati.
Dan pada saat itulah,
kami mengucapkan sumpah:
bahwa kami tidak akan
menggadaikan ibu pertiwi,
bukan karena takut pada kutukan,
bukan karena ingin dipuji sejarah,
tetapi karena kami akhirnya mengerti
betapa rapuhnya yang dicintai
jika tidak dijaga.
Setelah itu, alam kembali tenang.
Tanah memejam,
gunung tegak,
laut bernafas lagi,
langit rapi seperti jahitan baru.
Dan kami berdiri lama
di tengah sunyi
yang seolah lebih tahu
tentang diri kami
daripada diri kami sendiri.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/2/
SUMPAH PEMUDA 1928, PERINGATAN ATAU SUMPAHAN?
Puisi: Bambang Oeban
Kami berdiri di antara dua zaman—
satu di tahun seribu sembilan ratus dua puluh delapan,
ketika api nasionalisme menyalakan dada-dada muda yang berani menantang penjajahan,
yang menyatukan bahasa, tanah air, dan bangsa dalam tiga ikrar sakral yang mengguncang dunia.
Zaman itu—pemuda-pemuda berpeluh,
bukan berpose, berdebat di ruang sempit,
bukan di layar ponsel,
berjuang dengan pena,
bukan dengan meme, berkorban demi persatuan,
bukan popularitas.
Mereka bersumpah tanpa panggung megah,
tanpa kamera,
tanpa tepuk tangan, tanpa sponsor,
tanpa selebritas. Mereka hanya punya tekad dan cinta,
cinta pada Indonesia yang belum merdeka.
Dan kini,
hampir seabad berlalu, kami menyaksikan generasi yang katanya penerus,
berpesta di hari yang sama—namun ruhnya entah ke mana.
Sumpah Pemuda 2025 bergaung di gedung ber-AC, dengan baliho dan lampu warna-warni,
sementara di luar sana,
petani masih menunduk di lumpur,
nelayan masih menatap laut yang dicuri kapal asing,
dan guru honorer masih menghitung receh di dompetnya.
Pemuda hari ini,
sering kali bersumpah di media sosial,
mengetikkan kata “NKRI harga mati”
dari kafe ber-WiFi cepat,
sambil menertawakan yang miskin,
sambil mencibir yang kalah, sambil membanggakan diri sebagai “nasionalis digital”.
Oh, betapa jauh jarak makna antara dua sumpah itu.
Yang dulu lahir dari penderitaan, yang kini tumbuh di atas kemewahan semu.
Yang dulu berakar dari derita rakyat,
yang kini berputar di sirkuit popularitas.
Yang dulu diucapkan dengan darah dan air mata,
yang kini ditulis dengan filter dan caption puitis.
Apakah ini kemajuan,
atau kemunduran dengan pakaian modernitas?
Kami rindu pada pemuda yang mencangkul sawah bersama rakyat,
bukan hanya mengunggah potret peduli dari layar kaca.
Kami rindu pada pemuda yang menulis manifesto di bawah peluru,
bukan manifesto politik di bawah bayang-bayang partai.
Kami rindu pada api—bukan lampu panggung.
Kami rindu pada jiwa—bukan slogan.
Kami rindu pada keberanian yang diam, bukan keberisikan yang kosong.
Sumpah Pemuda 1928—adalah janji untuk bersatu,
menegakkan satu bahasa,
satu tanah air, satu bangsa.
Tapi lihatlah kini, bahasa kita retak oleh kebencian,
tanah air kita dijual oleh kepentingan,
bangsa kita terbelah oleh politik kebodohan.
Di jalanan,
orang berteriak demi kebenaran yang mereka yakini,
tapi menutup telinga untuk kebenaran orang lain.
Di layar kaca,
para pemimpin muda berdebat tentang siapa paling cinta bangsa,
tapi melupakan siapa yang paling membutuhkan bangsa ini:
rakyat kecil,
yang lapar bukan karena malas,
tapi karena sistemnya bengkok.
Oh, Sumpah Pemuda 2025,
kau telah kehilangan makna perjuanganmu.
Kau dijadikan tema lomba pidato, tema iklan, tema upacara.
Tapi bukan lagi napas kehidupan.
Anak muda berteriak:
“Kami cinta Indonesia!” namun tak malu buang sampah ke sungai,
korupsi waktu kerja,
mencontek demi nilai,
berkata bohong demi konten.
Apakah ini bentuk baru nasionalisme?
Apakah cinta tanah air berarti hanya mengibarkan bendera tanpa pernah menegakkan kejujuran?
Apakah semangat pemuda hanya sebatas lagu dan sorakan, tanpa tindakan dan pengorbanan?
Lihatlah mereka yang menyebut diri pejuang medsos,
berperang dengan jari,
bukan dengan nurani.
Berteriak soal keadilan,
tapi menindas di kolom komentar.
Berbicara tentang keberagaman, tapi menolak perbedaan di depan mata.
Sumpah Pemuda dulu menyatukan,
Sumpah Pemuda kini sering memisahkan.
Yang dulu menghapus suku dan agama,
yang kini mempertebal sekat dan kebencian.
Wahai anak muda negeri ini, apakah kau sadar bahwa perjuangan belum selesai? Bahwa kemerdekaan bukan berarti kebebasan berbuat sesuka hati?
Bahwa nasionalisme bukan hanya soal bendera dan lagu, tapi juga soal kejujuran, kerja keras, dan cinta tanpa pamrih?
Bangkitlah dari ilusi digitalmu!Bangunlah kembali semangat Soegondo, Yamin, dan Wahidin Sudirohusodo!
Bangunlah kembali keberanian yang lahir dari rasa malu— malu menjadi bangsa yang korup,
malu menjadi pemuda yang apatis,
malu menjadi rakyat yang hanya mengeluh tapi tak berbuat.
Lihatlah wajah petani tua di desa—itulah wajah Indonesia sesungguhnya.
Lihatlah nelayan yang masih berdoa di tengah badai—itulah iman bangsa ini. Lihatlah ibu guru di pedalaman—itulah pahlawan yang tak berseragam.
Dan tanyakan pada diri sendiri:
apakah engkau masih pantas disebut pewaris Sumpah Pemuda?
1928 mengajarkan:
bahwa persatuan bukan hadiah, tapi perjuangan,
bahwa kebangsaan bukan warisan,
tapi tanggung jawab,
bahwa bahasa Indonesia bukan alat bicara,
tapi alat menyatukan jiwa.
2025 seharusnya menjadi kelanjutan semangat itu,
bukan kuburan nilai-nilai luhur.
Tapi apa yang kita lihat?
Pemuda yang mudah menyerah, yang terjebak pada gaya hidup konsumtif,
yang lebih bangga menjadi viral daripada berbakti.
Padahal darah para pendahulu belum kering di tanah ini, padahal perjuangan belum usai—
karena penjajahan belum hilang,
hanya berganti wajah: penjajahan ekonomi,
penjajahan pikiran,
penjajahan moral,
penjajahan oleh keserakahan sendiri.
Wahai pemuda!
Bangkitlah sebelum terlambat Kembalikan makna Sumpah Pemuda ke dalam nadi kehidupanmu!
Jadilah pembela keadilan,
bukan penyebar kebencian.
Jadilah pencipta karya,
bukan peniru kemunafikan.
Jadilah pemimpin hati,
bukan budak popularitas. Jangan biarkan bangsa ini kehilangan arah,
karena pemudanya kehilangan cita-cita.
Jangan biarkan merah putih tinggal di bendera,
tapi padam di dada.
Karena bila semangat itu mati, Indonesia akan tinggal nama.
Dan Sumpah Pemuda akan jadi cerita, bukan lagi cahaya.
Maka hari ini,
di tahun dua ribu dua puluh lima, kami menulis sumpah baru:
Kami bersumpah,
bukan hanya mencintai Indonesia,
tapi memperbaikinya.
Bukan hanya berbicara tentang persatuan,
tapi menjaganya dari kebencian.
Bukan hanya mengenang para pahlawan,
tapi melanjutkan perjuangannya.
Kami bersumpah,
tidak akan menjadi generasi yang malas berpikir,
tidak akan tunduk pada kenyamanan,
tidak akan diam pada ketidakadilan.
Kami bersumpah,
bahwa Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan,
tapi panggilan nurani—untuk kembali menjadi manusia Indonesia
yang jujur, berani, dan berjiwa merdeka.
Wahai para pemuda bangsa, jadikan 1928 bukan nostalgia, tapi nyala yang terus membakar masa depan.
Sebab bangsa besar bukan diukur dari jumlah penduduknya, tetapi dari semangat pemudanya.
Dan bila engkau bertanya,
apa bedanya Sumpah Pemuda 1928 dan 2025?
Maka jawabannya ada pada dirimu sendiri:
apakah engkau hanya penonton sejarah, atau penulis babak baru Indonesia?
Bangunlah, pemuda Indonesia!Bangkitkan kembali sumpahmu! Sumpah yang bukan sekadar kata, tapi perbuatan nyata. Karena negeri ini menunggu—bukan sekadar mereka yang pandai berbicara,
tapi mereka yang berani berbuat.
Timur Bekasi,
Selasa, 21 Oktober 2025
—————————
Tentang Penyair: Bambang Oeban (PPIPM-INDONESIA, PPIC, SatuPena, organisasi dan komunitas seni lainnya)
Bambang Oeban (nama asli Bambang Wahyono) lahir di Palembang tahun 1961. Ia dikenal sebagai aktor, sutradara, penulis, penyair, dan pelukis yang konsisten menempatkan seni sebagai jalan kesadaran dan kemanusiaan.
Perjalanan seninya dimulai dari ruang kelas sederhana, ketika ia menulis puisi di atas meja kayu—sebuah awal yang menyalakan api kreatif hingga kini. Di Bengkel Teater, ia berguru pada Rendra, yang mengajarkannya bahwa kata bukan sekadar bunyi, melainkan napas yang menegakkan martabat manusia.
Sebagai Aktor Sastra, Bambang Oeban memadukan puisi dan teater menjadi satu tubuh ekspresi. Ia telah membintangi berbagai film seperti “Tutur Tinular”, “Fatahilah”, “Satria Bergitar”, dan “Trah 7” (2022), serta menulis buku puisi “Kepada Presiden Yang Ter…,” yang menggambarkan suara nurani rakyat.
Dikenal rendah hati dan bersahaja, Bambang Oeban tetap aktif berkarya di usia lebih dari enam dekade. Baginya, seni adalah doa, dan karya besar adalah yang mampu menyalakan kesadaran serta menggetarkan jiwa hingga “meruang dan meraung.”
/3/
CAHAYA BUATAN
Puisi: Leni Marlina
Pagi membuka lembarannya
tanpa suara,
seolah ingin mengajari kami
cara merawat sesuatu
tanpa harus memilikinya.
Di kejauhan,
siluet gunung tampak seperti
seseorang yang menahan tangis—
bukan karena sedih,
melainkan karena terlalu banyak
melihat dunia dijalankan
oleh tangan yang tak sabar.
Sungai mengalir perlahan,
membelai batu-batu tua
yang telah mendengar segala sumpah
yang pernah diucapkan manusia.
Dalam riaknya,
ada pesan yang nyaris utuh:
“Apa yang kau jaga
adalah apa yang akan menjagamu kelak.”
Maka kami berdiri
di pertemuan antara ragu dan percaya,
menyadari betapa sering kami
mencari terang
di tempat yang tidak pernah memiliki matahari.
Lalu, kami berjanji dalam hati—
bukan janji untuk dipahatkan,
bukan janji untuk ditunjukkan—
tetapi janji kecil
yang menyala dalam kesunyian:
bahwa cinta pada negeri ini
tidak akan pernah kami tukar
dengan cahaya buatan
yang berkilau di permukaan saja.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/4/
KEPADA PARA PENGKHIANAT BANGSA
Puisi: Tatang R. Macan
Saudara-saudara—
Pernahkah kalian mendengar semboyan itu,
Verboden voor Honden en Inlander?
Tulisan di papan kayu yang sederhana itu,
namun membelah dada bangsa ini dengan belati sejarah.
Mereka mengucapkannya tanpa ragu,
seakan kehinaan adalah hak yang sah dimiliki penguasa.
Saudara-saudara—
Hari ini aku teringat Multatuli:
saksi zaman yang melihat bangsa ini tergadai nuraninya,
para penguasa bersekutu dengan mahkota,
ijazah palsu menjadi tangga menuju kekuasaan,
dan kini meja dinas menjelma altar kepentingan.
Lihatlah—
Para wakil rakyat menyentuh pundi yang bukan miliknya,
sementara pemimpin daerah melupakan tanah
yang kelak akan menjadi peristirahatan terakhir.
Saudara-saudara—
Bangsa ini kini menatap cermin sejarah
dan melihat wajahnya sendiri yang pudar.
Dengan dandanan kemegahan, dan wangi jabatan,
mereka bersumpah atas nama kekuasaan,
bukan atas nama rakyat yang lapar dan tersisih.
Sumpah jabatan pun perlahan menjadi gema hampa—
seperti nyanyian tanpa makna di tengah kesunyian nurani.
Saudara-saudara—
Aku teringat pesan Soekarno:
“Kami mudah melawan penjajah yang datang dari luar,
tetapi sulit bagi kalian melawan penjajahan yang tumbuh dari dalam diri sendiri.” Karena itulah duri di dalam daging.
Maka lihatlah hari ini—
betapa beratnya melawan keserakahan yang berwajah sahabat,
melawan kebusukan di tengah jeritan rakyat.
Sumpah para pejabat seharusnya menjadi sumpah pengabdian dan doa,
bukan gema licik dari hati yang kering iman.
Mereka bersumpah,
namun sering hanya menjadi kabut
yang menutupi luka-luka di dada bangsa.
Padang Panjang, NKRI,
28 Oktober 2025
———
Tentang Penulis: Tatang R. Macan (PPIPM-Indonesia, PPIC, komunitas seni lainnya)
Tatang R. Macan, bernama lengkap Tatang Rusmana, lahir di Bandung, 15 November 1967. Ia merupakan lulusan bidang Pemeranan Jurusan Teater ASTI Bandung (1993), kemudian melanjutkan studi pada Jurusan Teater bidang Penyutradaraan STSI Bandung (1997). Selanjutnya, ia menempuh Magister Penciptaan Seni (Teater) di Program Pascasarjana ISI Yogyakarta (2007), serta mengikuti Studi Dramaturgi di STSI Bandung (2001).
Sejak tahun 2013 hingga 2019, ia tercatat sebagai Candidat Doktor Penciptaan Seni Pertunjukan pada Program Doktoral Penciptaan Seni Pertunjukan Pascasarjana ISI Yogyakarta.
Sejak 2001 hingga sekarang, Tatang R. Macan aktif sebagai dosen Seni Teater di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Selain sebagai akademisi, ia juga dikenal sebagai praktisi seni teater, penulis, pengamat seni pertunjukan, dan kritikus teater yang kerap menulis di berbagai media surat kabar nasional di Indonesia.
/5/
TANAH AIR TIDAK MINTA KITA SEMPURNA
Puisi: Leni Marlina
Ada suatu sore
ketika langit bersandar pada horizon,
seperti seorang sahabat
yang meminta kita
untuk berkata jujur.
Angin lewat perlahan,
menyingkap dedaunan
seolah mereka membuka
halaman terakhir dari hidup
yang belum kami pahami.
Di bawah cahaya yang rapuh,
kami mendengar sesuatu—
bukan suara, bukan gema—
melainkan napas negeri ini,
yang selama ini,
mungkin,
kami abaikan.
Nafas itu membawa aroma
akar yang terluka,
jerih payah yang dilupakan,
dan doa-doa yang tidak pernah
menjadi headline.
Kami menutup mata,
membiarkan dada kami
menjadi ruang transit
bagi rasa bersalah,
bagi rasa bangga,
bagi rasa ingin pulang.
Dan di tengah kontemplasi itu,
kami akhirnya mengerti:
tanah air tidak meminta kami sempurna—
hanya meminta kami
untuk tidak meninggalkannya
ketika ia paling membutuhkan
manusia yang masih punya nurani.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/6/
AKU MENYUMPAHIMU
Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025
Puisi: Oka Swastika Mahendra
Aku menyumpahimu—bukan pada batu nisan sejarah
bukan pada foto berdebu di museum kota
tetapi pada layar menatap terbalik
pada notifikasi bisikkan klaim-klaim semu
Aku menyumpahimu, wahai janji bernama sakral:
satu tanah air kini dipetakan ulang oleh korporat dan iklan
satu bangsa seringkali disewakan pada hashtag
satu bahasa bercampur menjadi emoji, singkatan, dan hoaks
Aku menyumpahimu: dulu kau dilafazkan oleh tangan-tangan berdebu kerja
sekarang dipakai sebagai stempel di surat rilis rapat, dan foto seragam;
dulu kau api—membakar rute menuju kemerdekaan
sekarang kau kadang hanya korek gosong di saku politisi
Aku menyumpahimu, karena sejarahmu juga manusia rapuh, terangkai, dan terkadang direka
ada reka ulang menulis ulangmu agar lebih rapi di buku pelajaran
ada penempel medali simbolis agar rakyat tak tanya lebih jauh.
Mereka bilang kau abadi; aku bilang: abadi jika diperjuangkan, bukan dipajang
Aku menyumpahimu pada nama-nama lupa ditulis pada prasasti
pada perempuan para pembangun jembatan ide tapi jarang disebut
aku menyumpahimu pada bahasa daerah yang bercokol di bibir ibu
mengajakku berbisik: “jangan kau ubah aku jadi monumen.”
Aku menyumpahimu agar engkau tak jadi topeng nostalgia
agar engkau bukan motto tergelar di kaus turis
agar engkau bukan kata kosong dilafazkan saat upacara
lalu ditinggalkan di belakang pintu kantor esoknya
Aku menyumpahimu: lawan separuh-kebenaran dekonstruksi narasi makin mengeras
ajarkan kita membaca ulang sebab bukan sekadar mengulang mantra;
ajarkan anak-anak ini bahwa berbangsa tak sama dengan bertepuk tangan seragam
bahwa persatuan bukan menyamakan, melainkan merangkul perbedaan tanpa membungkamnya
Aku menyumpahimu pada generasi gigih dan lelah
pada pulau-pulau pada jaraknya kian dibayar tiket
pada bahasa kian miskin kosakata karena malas membaca lagi
Jika kau cuma kata indah tanpa kerja, kumohon—ia jadi kutukan
Aku menyumpahimu, bukan untuk mengutuk masa lalu
tapi untuk memaksa masa kini berdiri tegak:
jika kau berarti “satu” maka biarkanlah satu itu adil, bukan monopoli;
jika kau berarti “bangsa” maka buatlah ruang untuk protes, tangisan, dan tawa;
jika kau berarti “bahasa” maka jagalah agar ia hidup di mulut anak-anak, bukan hanya di naskah museum
Bila kelak mereka menanyakan apakah sumpah itu masih hidup
katakanlah: ia hidup di tangan yang menolak diam
di suara menolak disewakan
di kerja kecil tak tersiar di berita utama
Aku menyumpahimu—sebagai cermin dan sumpah hamba:
kembalilah menjadi janji giat kerja, bukan sekadar seremonial
kembali menjadi ruang untuk berbeda dan berdebat bukan pagar menjerat
atau jika tidak—biarkan aku, generasi ngamuk sibuk membongkar klaim
menguburmu dengan jujur, lalu menulis sumpah baru dari abu-abu yang tersisa.
Jogjakarta, 28 Oktober 2025
————
Tentang Penulis: Oka Swastika Mahendra (PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena, KEAI & Komunitas lainnya)
Oka Swastika Mahendra merupakan seorang
penyair dan aktor teater, kelahiran Jogjakarta tahun 1958. Tergabung dalam Teater Alam Jogjakarta.
Motto: “puisi adalah makanan, panggung adalah jiwa, menulis adalah nafas hidup” (Oka SM).
/7/
RAHASIA YANG DISIMPAN AWAN
Puisi: Leni Marlina
Awan membuka rahangnya
—ya, rahang—
dan menjatuhkan gulungan-gulungan cahaya
yang berisi arsip kuno
tentang bagaimana sebuah negeri
pernah hampir hilang dari dirinya sendiri.
Gunung memutar bahunya
seperti atlet tua
yang dipaksa mengingat kemenangan
yang tidak pernah ia rayakan.
Dari celah itu
muncul suara kecil:
“Jagalah yang rapuh,
karena yang kuat sudah terlalu sering
merasa aman.”
Laut merekam semua kejadian,
menyimpannya dalam gelembung-gelembung
yang naik ke permukaan
seperti pengakuan yang terlambat.
Jika kau menempelkan telingamu
pada buih yang paling tua,
kau akan mendengar
nama negeri ini diucapkan
dengan aksen yang lebih jujur
daripada aksen manusia.
Di tengah kekacauan kosmik itu,
kami berdiri sebagai makhluk
yang belum selesai diciptakan.
Rahang kami gemetar,
menunggu giliran
untuk mengucapkan sumpah
yang mungkin terlalu berat
untuk generasi yang tumbuh
di antara sinyal dan riwayat patah.
Namun akhirnya,
kami mengucapkannya juga—
bukan dengan suara,
tetapi dengan retakan kecil
di dalam kesadaran:
bahwa ibu pertiwi
tidak boleh dilepas
ke dalam tangan
yang tidak mengenalnya.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/8/
INDONESIA SAKIT
Puisi: Mustiar Ar
Indonesia sakit tapi tak semua luka terlihat.
Ada nurani yang hilang punah terkubur di bawah seribu dalih kebenaran.
Yang istirahat di masjid tak pernah kembali sementara langit hanya meneteskan sunyi.
Kita berdoa di atas luka namun jarang menatap luka itu sendiri.
Indonesia masih tersenyum di televisi padahal air matanya jatuh di pelosok sunyi.
Dan aku hanya bisa menulis pelan agar kata tak ikut mati bersama nurani.
Aceh, 3 November 2025
——-
Tentang Penulis: Mustiar Ar (PPIPM-INDONESIA, PPIC, SatuPena Aceh, komunitas menulis dan sastra lainnya)
Mustiar Ar, atau yang akrab dengan sebutan Bang One, lahir di Meulaboh, Aceh Barat. Ia dikenal sebagai tukang parkir sekaligus penulis dan penggiat seni. Dari kesederhanaan, ia menulis tentang kemanusiaan, kejujuran, dan perjuangan hidup. Karyanya lahir dari jalanan, berpijak pada realitas, dan berbicara dengan hati yang berani serta santun.
/9/
MESIN PENJAGA NEGERI
Puisi: Leni Marlina
Pada suatu malam
yang terlipat menjadi dua,
kami menemukan sebuah mesin sunyi
di tengah padang—
sebuah mesin yang dibangun
dari tulang angin,
denyar bintang,
dan serpihan mimpi
yang tergeletak di antara sejarah.
Mesin itu berdenyut
seperti jantung yang lupa cara terluka.
Pada setiap denyut,
terdengar gema samar
yang menyerupai suara ibu bumi
yang mencoba menegur dengan lembut:
“Apakah kalian masih ingat
siapa yang memberi kalian tanah
untuk jatuh dan bangkit?”
Pohon-pohon di sekitar
mengangguk tanpa daun,
seolah mereka mengerti bahwa
kemanusiaan kami
sering kali menipis
ketika kesibukan menebalkan jarak
di antara jiwa-jiwa.
Kami mencoba mendekat,
tetapi mesin itu memantulkan
seluruh ketakutan kami
seperti cermin patah:
ketakutan menjadi asing
di negeri sendiri,
ketakutan kehilangan nurani,
ketakutan bahwa masa depan
adalah benda yang bisa digadaikan.
Namun tiba-tiba,
mesin itu membuka rongganya,
mengeluarkan semburat cahaya
yang terasa seperti
tangan kecil seorang anak
yang belum tahu cara membenci.
Di situ kami mengerti:
negeri ini tidak dijaga oleh pedang,
tidak pula oleh kebisingan,
melainkan oleh manusia
yang berani tetap lembut
meski dunia mengajarinya keras.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/10/
MALAM MENIMANG BATIN
Puisi: Zulkifli Abdy
Aku masih menimang batin
Dikala suara berisik itu mengusik
Selimut malam tak kuasa meredam
Aroma amis yang berkelindan dendam
Dendam pada kebatilan
Dendam pada kezaliman
Mereka tidak sedang murka
Tetapi penyuara kehilangan suara
Bukan pula musafir nan sedang fakir
Tetapi dari tidak percaya kini jadi benci
Benci pada kemapanan
Benci pada ketidakadilan.
Banda Aceh,
Senja 6 Oktober 2025
————-
Tentang Penulis: Zulkifli Abdy (PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena Aceh, KEAI, dan komunitas menulis dan sastra lainnya)
Zulkifli Abdy merupakan seorang penulis senior dan penyair, berasal dari Jambi dan menetap di Aceh sejak tahun 1970. Lulusan Ilmu Komunikasi, ia menekuni dunia kepenulisan secara autodidak sejak masa muda.
Karya-karyanya, baik berupa artikel maupun puisi, mencerminkan semangat sastra yang mendalam. Bagi Zulkifli, menulis bukan sekadar profesi—melainkan sarana untuk mencurahkan perasaan, menggantikan halaman-halaman buku harian pribadi, tempat ia menuangkan pikiran dan pengalaman dengan penuh ketulusan.
/11/
KAMI TIDAK AKAN MENGGADAIKAN IBU PERTIWI
Puisi: Leni Marlina
Gunung merunduk
bukan karena takut,
melainkan karena muak
melihat nama negeri ini
ditimbang di pasar-pasar
tanpa rasa malu.
Laut menggulung dadanya,
menyembunyikan riwayat luka
yang dulu pernah kita pura-pura
tidak dengar.
Sungai mengalirkan pertanyaan:
“Sampai kapan kalian membiarkan
ibu pertiwi ditawar
oleh mereka yang bahkan
tak bisa menyebut namanya
dengan benar?”
Kami pun berdiri.
Tanpa pedang. Tanpa panji.
Hanya dada yang menyala
seperti meteor yang menolak jatuh.
Di bawah langit cerah
kami mengucapkan sumpah:
bahwa tubuh kami
adalah penjaga napas negeri ini.
Bahwa suara kami
hanya akan bergema
untuk yang lemah, yang terluka,
yang manusia.
Bahwa kami
tidak akan menggadaikan ibu pertiwi—
bahkan jika dunia menawar
dengan matahari cadangan.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/12/
SUMPAH PEMUDA
Puisi: Ramli Djafar
Tanggal dua puluh delapan
Bulan Oktober
Tahun satu sembilan dua delapan
Sumpah Pemuda bergema
Runtuhkan segala sekat penghalang
Jadikan satu kesatuan
Dharma bakti untuk negeri
Sumpah Pemuda
Ikrar nan suci
Janji yang mengikat nubari
Berjanji dalam nama Allah
Satu tekad pengabdian
Bercucuran air mata
Bersimbah darah
Bagimu negeri jiwa raga kami
Satu Noesa
Satu Bangsa
Satu Bahasa
Indonesia
Dari segala penjuru bumi pertiwi
Berdiri
di atas tanah yang sama
Di kolong langit yang
sama
Satu tekad membara
Kibarkan semangat persatuan anak bangsa
Padang, 28 Oktober 2025
—————————–
Tentang Penulis: Ramli Djafar (PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena Sumbar, KEAI, ACC SHILA, komunitas menulis dan sastra lainnya)
Ramli Djafar, yang juga dikenal dengan nama sastranya Andreas Ramli Djafar atau Xie Zongli, adalah seorang penyair Indonesia yang berdomisili di Padang. Ia tekun menulis dan membagikan kisah melalui puisi, dengan tema-tema yang berhubungan erat dengan budaya, ingatan, dan kemanusiaan—disampaikan lewat bahasa yang sederhana namun sarat makna.
Ia aktif dalam beberapa komunitas sastra, di antaranya SATU PENA (Sumatera Barat), Poetry-Pen International Community, Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM–Indonesia), dan ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA).
Pada tahun 2025, Ramli Djafar menerima penghargaan The Prolific Writer 2025 dalam acara International Minangkabau Literacy Festival (IMLF–3), yang diserahkan langsung oleh Ketua SATU PENA Sumatera Barat, Sastri Bakry. Penghargaan ini menjadi penanda kesungguhannya dalam berkarya sekaligus menjadi penyemangat untuk terus menulis dan berbagi.
/13/
HARGA DIRI DAN KESETIAAN UNTUK NKRI
Puisi: Leni Marlina
Cahaya pagi merangkak
melalui pori-pori bumi,
seperti doa yang menemukan jalan pulang.
Ia menghampiri kami
dengan kesabaran batu
yang telah menunggu ribuan langkah.
Di dalam cahaya itu
ada sesuatu yang tidak bisa kami jual—
bahkan jika kami ingin:
rasa malu
ketika negeri sendiri
diperlakukan seperti barang antik
yang boleh ditawar siapa saja.
Kami menyentuh cahaya itu
dengan hati yang masih bergetar,
dan perlahan kami sadar:
yang tidak dijual
bukanlah cahaya,
melainkan harga diri dan kesetiaan untuk NKRI.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/14/
MENDENGAR ULANG AKAR YANG PERNAH DIABAIKAN
Puisi: Leni Marlina
Langit retak pelan,
seperti kaca yang menahan
nama-nama yang terlupakan.
Burung-burung menyingkir,
memberi kami ruang
untuk berbicara dengan hati kami sendiri.
Di bawah pecahan cahaya itu,
kami mendengar nyeri masa lalu,
menyentuh bayangan yang tak sempat pulang,
dan merasakan dosa kecil
karena pernah diam
ketika negeri digerogoti suara-suara
yang lebih keras dari nurani.
Maka kami berlutut,
bukan untuk tunduk,
melainkan untuk mendengar ulang
akar yang pernah kami abaikan.
Dalam keheningan itu,
kami mengucapkan sumpah:
bahwa kami tidak akan lagi
menjadi penonton sejarah,
melainkan penjaga
yang diam-diam bekerja
ketika dunia tak melihat.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/15/
KEBERANIAN KECIL YANG TUMBUH DI LUKA BANGSA
Puisi: Leni Marlina
Kami berjalan
tanpa peta,
tanpa tombak,
tanpa seragam yang menandai
siapa yang kami bela.
Hanya satu hal
yang kami bawa:
keberanian kecil
yang tumbuh dari luka bangsa.
Kami tahu
takut akan selalu menawarkan rumah,
namun kami memilih jalan
yang menuntut dada lebih luas
daripada langkah.
Kami tahu
masa depan kadang memalingkan wajah,
namun kami terus melangkah
karena negeri ini
tidak pernah meminta kami sempurna—
hanya meminta kami
untuk tidak menyerah.
Dan begitu kami menoleh,
negeri ini
menatap kami kembali—
bukan sebagai pahlawan,
melainkan sebagai
anak-anaknya
yang akhirnya pulang
ke keberanian sendiri.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/16/
NAFAS INDONESIA
Puisi: Leni Marlina
Dengarlah bumi bernafas—
pelan, berat, menahan serpihan sejarah,
helaan napasnya bergetar seperti doa,
menyebut nama: Indonesia.
Tanah ini lebih dari pijakan;
Ia urat nadi yang menulis takdir manusia di lumpur, di akar, di rahim waktu.
Butiran pasir di tepi pantai: aksara purba yang dibisikkan leluhur kepada angin sebelum fajar pertama.
Gunung-gunung berdiri bagai penjaga suci— mereka bernapas dengan api,
menyimpan doa dalam dada,
mengirim pesan dari langit.
Kadang letusannya bukan murka,
tapi rindu yang menegur manusia,
yang lupa menunduk pada kebenaran dan kemanusiaan.
Lautmu, Nusantara, seperti rahim yang tak pernah kering dari kehilangan.
Gelombangnya merangkai ratapan,
memanggil anak-anak yang tak kembali namun hidup dalam gemuruh ombak,
di lidah ibu-ibu yang berdoa tanpa suara,
di hati mereka yang masih menahan tangis.
Indonesia, Anginmu membawa pesan—
dari hutan yang terbakar,
dari bambu yang masih tegak menantang luka,
dari burung-burung yang tersesat dalam kabut pembangunan.
Ia tahu: waktu hanyalah lingkaran, dan manusia,
bayangan yang sebentar belajar mencintai bumi.
Di gunung dan lembah,
di pelataran masjid,
di altar gereja,
di gerbang pura dan vihara, di candi,
di aroma dupa rumah ibadah lainnya,
kami melihat wajah yang sama— wajah bangsa yang bernafas satu:
satu nusa, satu bangsa, satu bahasa,
persatuan yang terus hidup di setiap dada.
Indonesia, engkau napas yang bergetar di dada langit,
dari rahimmu lahir segala kemungkinan:
padi dan palawijaya,
darah dan semangat,
harapan dan doa.
Di sungai-sungai yang berliku mengalir darah orang-orang jujur yang tak tercatat sejarah,
namun menumbuhkan ladang-ladang harapan dari keringat yang tak pernah dikutip berita.
Kami mendengar helaan nafasmu, wahai negeri.
Karena engkau, Indonesia, seperti tubuh yang menulis dirinya di berbagai unsur:
di angin yang bersaksi,
di abu yang menanam kembali kehidupan,
di air yang menghafal doa, dan di dada para pemuda, putra dan putri bangsa yang masih percaya— keadilan berakar di tangan yang menabur,
persatuan mengalir di langkah yang serupa.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
————-

Tentang Penulis: Leni Marlina (UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena Sumbar, ACC SHILA, KEAI, ASM, PLS)
Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan kini menetap di Padang. Ia adalah penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (sejak 2006). Ia adalah anggota aktif organisasi penulis SatuPena Sumbar, komunitas Penyala Literasi Sumbar (PLS), dan sejumlah komunitas kepenulisan dan sastra.
Sejak mulai menulis puisi pada tahun 2000, ia telah melahirkan ribuan karya yang merekam pergulatan batin, refleksi kontemplatif, isu-isu lingkungan alam dan sosial, gagasan kemanusiaan, serta kerinduan yang tak pernah padam akan perdamaian. Ketika menempuh studi Magister of Writing and Literature di Melbourne (2011–2013), ia terus menulis tanpa henti—menjadikan puisi sebagai ruang sunyi yang menyalakan kesadaran, menjaga kejernihan hati, dan menuntunnya menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan dunia. Sejak tahun 2024, ia mulai membuka “samudra kata”-nya kepada publik melalui berbagai platform digital.
Karya-karya terbarunya meliputi “The Beloved Teachers” (2025), L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), serta trilogi English Stories for Literacy (2024-2025)—perpaduan antara pengabdian, bahasa, dan nilai-nilai kemanusiaan. Selain menulis puisi, ia aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, ulasan karya sastra, serta menerjemahkan beragam teks sastra dan teks jurnalistik. Karyanya tersebar dalam berbagai antologi cerpen, antologi puisi, dan publikasi digital. Di luar aktivitas akademik di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Padang, ia terlibat dalam komunitas literasi nasional dan internasional, serta mendirikan sejumlah gerakan literasi yang relevan dengan dinamika era digital.
Sebagai pendiri sekaligus ketua berbagai gerakan sosial, literasi, dan sastra digital—seperti Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM-Indonesia): Komunitas Pembaca dan Penulis Puisi Indonesia, Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), dan EL4C (English Language Learning, Literature, and Literacy)—ia terus menjembatani berbagai generasi melalui sastra, menumbuhkan budaya membaca, menulis, berdiskusi secara berkelanjutan.
Atas dedikasinya pada dunia literasi dan kesusastraan, ia menerima penghargaan Best Writer 2025 dari SatuPena Sumatera Barat pada International Minangkabau Literary Festival ke-3 (IMLF-3), serta ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre.