Tarian Dalam Lukisan, Di Bawah Cahaya Fajar
Oleh: Rizal Tanjung
–
dengan lembut ku goreskan bayangan jiwa,
fajar mencelupkan jembatan mimpi warna jingga.
gerakanmu laksana dedaunan yang menari tertiup angin,
satu senyumanmu, seolah burung phoenix terbang melintasi masa.
pelukis diam menggenggam kuas penuh hasrat,
cintanya tersembunyi dalam malam yang belum selesai.
satu tarian, bak dewi melayang di atas air zamrud,
gaunmu mengalir bagai cahaya senja yang menembus langit tinggi.
gaunmu, seperti kabut fajar yang terangkat ke angkasa,
tanganmu, seperti angin musim semi menyentuh tembok impian.
kau bukan gadis biasa dari taman bunga,
kau harum dari langit, turun dari istana bulan.
hutan lebat memisahkan dunia fana,
burung-burung bersenandung di sisi negeri abadi.
dalam lukisan ternyata ada roh yang hidup,
dalam setiap sapuan kuas, jiwanya terbakar oleh cinta.
kuas mengikuti hati, melangkah tanpa aturan,
hati mengikuti bayangmu, mengalun dalam irama yang panjang.
lukisan ini bukan sekadar mimpi di atas kertas,
ini adalah satu-satunya harapan dalam hidupnya.
beribu malam ia menggambar dalam sunyi,
hanya demi detik ini, saat kau hadir dan menari.
gaunmu melambai di tepian sungai,
seolah memanggil kenangan dari kehidupan yang lampau.
burung yang terbang di antara pepohonan—apakah itu engkau?
bunga persik jatuh ke air, mencerminkan riasanmu yang indah.
alismu melengkung seperti bulan sabit yang baru muncul,
matamu memuat bintang-bintang, diam, dan menyimpan rahasia.
jika ditanya, kepada siapa tarian ini dipersembahkan?
kepada hatiku yang tenggelam bersama cahaya senja.
jika ditanya, kapan cinta ini akan padam?
saat gunung menghilang, dan sungai berhenti bernyanyi.
Sumatera, 14 April 2025.