Oleh : Jelika Anggreliani
Siswi SMP NEGERI 16 PADANG
–
”Satu aku sayang Ibu…”
Kalimat itu selalu ada di kepalaku dari kecil
sampai sekarang. Ibu itu orang paling berharga buat aku. Kadang aku lihat Ibu kelihatan kuat, padahal aku tahu dia capek. Tapi Ibu nggak pernah nunjukkin itu ke aku.
Ayah juga bagian dari hidup aku.
Aku sayang Ayah, walaupun ada hal-hal yang dulu bikin aku bingung. Kadang aku dengar cerita dari saudara, dan rasanya nggak enak. Tapi lama-lama aku ngerti, tiap orang punya cara sendiri dalam hidup.
Di tengah semuanya, Ibu tetap diam.
Tetap senyum, biar aku nggak ikut kepikiran. Dari situ aku tahu kalau hati Ibu besar banget.
Aku masih ingat waktu Ibu angkat galon sendirian.
“Aku aja, Bu,” kataku.
Ibu cuma senyum, “Nggak usah, kamu pasti capek.”
Padahal yang lebih capek itu Ibu.
Aku pernah marah. Pernah bingung.
Pernah ngerasa semuanya nggak adil.
Tapi kalau lihat wajah Ibu…
semua marah itu hilang sendiri. Ibu nggak pernah ngajarin aku buat benci. Ibu cuma ngajarin sabar.
Waktu hari kelulusan, semua orang sama orang tuanya. Aku lihat ke samping, cuma ada Ibu. Ayah nggak datang. Tapi anehnya, aku nggak merasa kurang. Karena Ibu ada di situ, dengan bangga yang kelihatan dari matanya.
“Ibu, aku sudah sampai sini,” kataku pelan.
Ibu peluk aku, matanya hampir nangis.
“Kamu kuat, Nak. Ibu cuman menemani.”
Tapi aku tahu, banyak kekuatanku datang dari Ibu.
Sekarang aku mulai melangkah ke masa depan. Mungkin nanti Ibu nggak akan jagain aku sesering dulu.
Tapi itu bukan akhir.
Itu justru saatnya aku yang jaga Ibu.
Aku juga akan tetap sayang Ayah dengan caraku sendiri. Belajar memaafkan pelan-pelan. Tapi yang paling penting… aku bakal rawat Ibu sepenuh hati.
Karena buat aku, kasih sayang seorang anak ke ibunya
itu tidak ada batasnya.
Padangl : 18 November 2025