Untukmu
Yusuf achmad
Aku bimbang,
Haruskah kuucapkan? Haruskah kutuliskan?
Adakah makna, jika kata hanya menjadi bayang?
Sesaat, aku terdiam; bermimpi; berpikir; bertanya—
Adakah semua ini bernilai, atau hanya fatamorgana rasa?
Tak diduga,
Hatiku berdebar seperti denting genderang senja.
Benakku gelisah, bagaikan ombak memecah pantai.
Batinku resah, jeritku tenggelam dalam senyap bayangan.
Tiada ungkapan manis, tiada kata lembut,
Hanya huruf, hanya inisial, tersimpan dalam rahasia.
Berjuta makna bergemuruh di dadaku,
Rintih menjelma melodi dalam raga yang layu.
Ratap mengalir menjadi sungai doa,
Sayang menggema di sela-sela nada yang lirih.
Hidup ini penuh rintang, namun bayangmu adalah pelipur.
Kenangan hadir seperti remang mentari di ujung cakrawala,
Cinta mengalir bagai sungai tak bertepi,
Menembus batas angan dan realita.
Laksana angin malam yang membelai dedaunan,
Hatiku berbisik, membawa cerita tanpa aksara.
Rasa yang mengendap di celah sunyi,
Menyusup seperti embun di ujung pagi,
Menghangatkan luka, menyembuhkan rindu.
Laksana samudra yang memeluk ombak,
Rasaku meluap, membentuk arus yang tiada henti.
Harap beradu dengan kenyataan,
Kenangan membara dalam rinduku yang kekal.
Untukmu, namamu, kamu—detak jantungku.
Makna demi makna yang menari dalam hati,
Menjalin simfoni indah di ruang batinku.
Laksana bintang yang menari di hamparan langit malam,
Cintaku bersinar, menggapai muara jiwamu.
Surabaya, 9-10-2023