ZIARAH RINDU
Antologi Puisi
Oleh : Rizal Tanjung
1
Rindu yang mengetuk hati
Aku menulis rindu
dengan tinta yang sudah bosan diperas dari hatiku,
setiap hurufnya adalah tulang rusuk yang patah,
setiap kalimatnya adalah nyanyian parodi
tentang cinta yang berlagak abadi
padahal ia cuma sewa bulanan
di rumah sepi yang sudah lama tak dibersihkan.
Rindu ini, katanya,
adalah mata air dari surga,
tapi aku menemukannya sebagai sumur tua
yang ditumbuhi lumut ingatan
dan ular-ular kecil dari masa lalu
menyembul keluar setiap kali aku haus.
Apakah rindu itu doa?
Mungkin iya,
tapi doa yang tidak pernah dijawab
karena malaikat sibuk mengetik laporan tahunan,
sementara manusia belajar menunggu
sampai tulangnya jadi fosil.
Aku merindukanmu
seperti kursi plastik merindukan pantat tamu hajatan,
duduk sebentar lalu pergi,
meninggalkan jejak hangat yang tak pernah kembali.
Aku merindukanmu
seperti jam dinding di rumah orang mati,
terus berdetak,
meski tak ada lagi yang mendengar
selain tikus yang mengunyah kalender.
Rindu ini menolak pensiun,
padahal aku sudah menawarinya
uang pesangon berupa air mata,
dan tiket sekali jalan ke lautan lupa.
Tapi ia tetap kembali,
mengetuk pintu malamku,
membawa bungkusan kecil berisi aroma rambutmu,
dan sebatang lilin
untuk menyulut ulang kebakaran dadaku.
Kadang aku tertawa sendiri,
rindu ini mirip sales asuransi,
menjanjikan kebahagiaan masa depan
sambil menipu masa kini
dengan brosur yang penuh gambar senyum
padahal isinya cicilan panjang
tak pernah lunas.
Aku bertanya kepada angin:
“Kenapa kau selalu mengantarkan wajahnya?”
Angin menjawab sambil bersiul:
“Aku cuma kurir, jangan salahkan aku—
kalau kau mau, tulis saja alamat palsu.”
Aku bertanya kepada laut:
“Kenapa kau tak mau menenggelamkan rinduku?”
Laut tertawa sampai ombaknya mabuk:
“Kalau aku menenggelamkannya,
ikan-ikan akan keracunan,
dan nelayan akan menudingmu
sebagai pembawa celaka.”
Aku bertanya kepada diriku sendiri:
“Kenapa kau masih merindukannya?”
Diriku menjawab dengan gaya sinis:
“Karena kau terlalu pengecut untuk benar-benar lupa,
kau lebih suka memelihara luka
seperti bonsai di jendela,
kau sirami setiap pagi,
kau bentuk agar indah dipamerkan,
padahal akarnya
sudah mengikat lehermu perlahan-lahan.”
Rindu ini,
adalah badut sialan di pesta ulang tahun
yang semua orang tunggu
hanya untuk ditertawakan,
tapi ketika ia pulang,
meninggalkan hidung merah di lantai,
tak ada seorang pun yang sadar
betapa ia sudah mati berkali-kali di dalamnya.
Rindu ini,
adalah pengemis di perempatan
yang kau beri receh sekadar formalitas,
padahal ia sedang menertawakanmu,
karena kau pun sama melaratnya:
sama-sama tak punya rumah di hati siapa pun.
Dan kau tahu apa yang paling menyedihkan?
Bahwa rindu ini tak pernah berhenti—
seperti stasiun kereta tanpa jadwal keberangkatan,
seperti novel murahan yang selalu dicetak ulang,
seperti lagu pop basi
yang diputar terus di radio warung kopi.
Aku menunggu hari
ketika rindu berhenti bernapas,
tapi yang mati selalu aku,
bukan dia.
Maka biarlah,
aku akan menulis rindu ini
hingga tinta berubah jadi abu,
hingga metafora patah tulang
dan satire kehilangan taringnya.
Dan pada akhirnya,
mungkin satu-satunya yang akan tersisa
adalah kenyataan getir:
Bahwa rindu yang tak pernah berhenti
bukanlah cinta,
melainkan kutukan kecil
yang kau panggil dengan nama manis
agar tidak terdengar
sebagai penjara.
2
Rindu sebagai Hewan Peliharaan
Rindu,
kau bukan lagi perasaan,
kau sudah menjadi binatang jinak
yang kuberi makan dengan ingatan.
Setiap malam,
kau merengek seperti kucing lapar,
mengais-ngais pintu dadaku,
minta disuapi dengan bayangan wajahmu.
Aku sudah menamakanmu:
“Kesia-siaan yang Menggemaskan.”
Kau tidur di pangkuanku,
tapi cakarmu melukai pahaku.
Aku biarkan,
sebab katanya cinta itu pengorbanan,
padahal sebenarnya cuma kebodohan
yang dibungkus puisi manis.
3
Tuhan dalam Rindu
Kau bilang rindu itu doa.
Aku percaya sebentar.
Tapi setelah seribu malam
doaku hanya jadi karat di langit-langit,
aku mulai paham:
mungkin Tuhan
sengaja tidak mengabulkan,
karena Ia tahu manusia
suka menyiksa diri dengan harapan.
Bukankah rindu ini agama kecil
yang altar sucinya adalah wajahmu?
Bukankah aku sudah jadi imam gila
yang tiap malam mengumandangkan azan sunyi,
tapi tak pernah ada jamaah datang?
Mungkin malaikat pun menolak jadi makmumnya.
4
Filosofi Kursi Kosong
Ada kursi kosong di sebelahku,
selalu.
Ia lebih jujur daripada aku:
tak pernah pura-pura bahagia.
Kadang aku iri pada kursi itu,
karena ia bisa merindukanmu
tanpa merasa sakit,
tanpa merasa butuh,
tanpa menunggu jawaban.
Mungkin filsafat rindu sederhana saja:
kursi tahu
bahwa tak semua yang kosong
perlu diisi.
5
Rindu Sebagai Satire Waktu
Jam berkata:
“Kau bodoh,
menghitung menit dengan air mata.”
Kalender menertawakan:
“Kau dungu,
mencatat hari dengan keringat menunggu.”
Dan aku hanya menjawab lirih:
“Ya, aku memang bodoh,
tapi siapa lagi yang lebih bodoh
daripada rindu itu sendiri—
ia hidup tanpa tubuh,
ia makan tanpa mulut,
ia beranak-pinak dalam kepalaku
seperti tikus di lumbung kosong.”
6
Kuburan yang Berbicara
Aku pergi ke pemakaman,
bertanya kepada nisan tua:
“Apakah rindu ikut mati bersama jasad?”
Nisan menjawab dengan sinis:
“Tidak.
Yang mati hanya tubuh,
sedang rindu pindah rumah,
menetap di batu-batu seperti aku.
Makanya, kami tak pernah benar-benar sepi.”
Aku pun pulang
dengan kepala berat,
membawa oleh-oleh kesadaran:
bahwa rindu lebih kekal dari kehidupan.
7
Ekonomi Rindu
Andai rindu bisa dijadikan mata uang,
aku sudah jadi miliuner.
Tapi apa gunanya?
Bank dunia menolak menukar air mata
dengan roti,
pasar menolak menukar luka
dengan beras.
Rindu adalah inflasi abadi:
nilai terus naik,
tapi kegunaan tetap nol.
Filsafatnya sederhana:
rindu adalah sistem ekonomi
yang diciptakan oleh penderitaan,
dijalankan oleh ingatan,
dan bangkrut sejak lahir.
8
Rindu sebagai Komedi
Aku menertawakan diriku sendiri.
Betapa lucu:
menunggu orang yang bahkan
tak sedang berpikir tentangku.
Ini seperti badut yang jatuh cinta
kepada penontonnya—
berusaha membuat tertawa,
tapi hanya ditinggalkan dalam sepi panggung.
Satire paling pahit adalah ini:
rindu menjadikanmu bahan lelucon
bagi dirimu sendiri.
9
Rindu yang Menolak Mati
Pada akhirnya,
aku tidak ingin lagi mendefinisikanmu.
Kau bukan cinta,
bukan doa,
bukan puisi,
bukan kutukan.
Kau adalah semua itu sekaligus,
dan pada saat yang sama bukan apa-apa.
Kau hanya rindu,
itu saja—
rasa absurd yang lahir dari kekosongan
dan menolak mati bahkan ketika aku sudah mati.
Mungkin inilah filsafat terakhirnya:
rindu adalah cermin,
dan di dalam cermin itu
aku hanya melihat bayangan yang tertawa kecil,
sinis, getir,
seakan berkata:
“Selamat, kau berhasil hidup
tanpa benar-benar hidup.
Dan aku—
aku akan tetap di sini,
bersamamu,
sampai kiamat memutuskan
bahwa satire pun sudah tidak lucu lagi.”
10
Rindu Sebagai Penyakit Menular
Rindu adalah epidemi,
tidak ada vaksin,
tidak ada karantina.
Setiap kali aku menyebut namamu,
ada orang lain ikut terinfeksi,
lalu ia mulai mengigau
tentang kekasihnya yang pergi.
Dokter hanya tertawa:
“Rindu bukan penyakit,
tapi manusia memang menyukainya
seperti pecandu suka racun.”
Betapa ironis,
aku membawa virus yang kubanggakan,
padahal aku pasien
yang tidak mau sembuh.
11
Pengadilan Rindu
Hari ini rindu diadili.
Hakim mengetuk palu:
“Siapakah korbanmu?”
Aku maju dengan wajah hancur:
“Akulah korban!”
Tapi rindu hanya tersenyum sinis,
menunjuk balik:
“Tidak, dialah pelaku—
dia yang memeliharaku,
dia yang memberi makan malam dan siang,
aku hanya hidup dari sisa-sisanya.”
Di ruang sidang itu
aku kalah telak.
Ternyata aku bukan korban,
aku adalah kaki tangan
dari kejahatanku sendiri.
12
Filsafat Cermin Retak
Aku memandang cermin,
tapi wajahku pecah menjadi serpih.
Setiap pecahan berkata:
“Aku merindukanmu.”
Aku pun sadar:
yang kurindukan bukan hanya dirimu,
tetapi juga bayanganku sendiri
yang utuh sebelum kau pergi.
Maka rindu bukan tentang kehilanganmu,
tapi tentang kehilangan diriku
yang dulu tidak seburuk ini.
13
Perpustakaan Rindu
Jika rindu punya perpustakaan,
rak-raknya penuh buku tak berguna.
Judulnya sama semua:
“Cara Menunggu Tanpa Putus Asa.”
Isinya kosong,
hanya kertas putih
yang membuat orang gila
menulis ulang wajah yang sama
dengan tinta air mata.
Filsafatnya jelas:
rindu adalah literatur paling miskin,
yang hanya berisi satu kata,
ditulis sejuta kali:
“Kembali.”
14
Rindu dalam Revolusi
Andai rindu bisa jadi partai politik,
aku pasti anggotanya paling setia.
Aku rela berteriak di jalanan:
“Hidup Rindu!
Turunkan Kesepian!”
Tapi rakyat bosan,
karena revolusi ini
tidak pernah menang,
tidak pernah menumbangkan rezim kosong
yang sudah mengakar dalam dada.
Rindu adalah kudeta gagal
yang tetap digelar
setiap malam.
15
Biologi Rindu
Aku membedah tubuhku.
Kujumpai rindu bersembunyi
di antara tulang belakang.
Ia seperti parasit,
menghisap sumsum kehidupanku.
Dokter berkata:
“Tidak ada operasi yang bisa mengangkatnya.”
Maka aku belajar filsafat sederhana:
rindu bukan sekadar rasa,
ia organ tambahan
yang diciptakan oleh kehilangan.
16
Rindu sebagai Komoditas Seni
Penyair menjual rindu,
pelukis melukis rindu,
penyanyi menyanyi rindu.
Aku? Aku membayar semuanya
dengan darah sendiri.
Industri kreatif memproduksi air mata massal,
satu-satunya pabrik
yang tidak pernah gulung tikar.
Dan aku sadar:
setiap bait puisiku
adalah saham kecil
dalam perusahaan global bernama
“Kehilangan Tanpa Akhir.”
17
Zoologi Rindu
Jika rindu adalah binatang,
ia pasti seekor ular.
Diam di bawah batu,
menyembur tiba-tiba.
Atau mungkin ia kelelawar,
hidup di gua gelap ingatan,
menghisap darah kesepianku.
Tapi terkadang aku melihatnya sebagai burung:
ia bebas,
terbang ke langit,
sementara aku tetap jadi rantai
yang tak pernah sampai.
18
Rindu dalam Sirkus Waktu
Aku badut,
kau penonton.
Aku jungkir balik,
kau tepuk tangan.
Tapi setelah sirkus usai,
kau pulang,
aku tinggal.
Aku sendirian merapikan panggung,
sambil bercermin pada kostum lusuh
yang bau peluh.
Rindu adalah pertunjukan
yang selalu kehabisan tiket,
padahal tak ada penonton
yang benar-benar ingin menonton ulang.
19
Kematian yang Ditunda
Kata filsuf tua:
“Rindu adalah kematian kecil.”
Aku percaya.
Setiap kali aku merindukanmu,
aku mati sebentar,
lalu hidup lagi.
Tapi kematian kecil itu menumpuk,
mencicil ajal
dengan bunga hutang paling tinggi.
Maka aku tahu:
jika aku benar-benar mati kelak,
itu hanya karena rindu
sudah menagih utang terakhirku.
20
Museum Rindu
Aku masuk ke sebuah museum sunyi.
Dindingnya penuh lukisan wajahmu,
padahal kurator tidak pernah mengenalmu.
Di ruangan kaca,
ada fosil air mataku,
ditata rapi bersama tiket kereta
yang tak pernah kau naiki.
Museum ini dikunjungi ribuan orang,
tapi mereka tak mengerti—
bahwa setiap pameran
adalah paku yang menancap
di tulang rusukku sendiri.
21
Teknologi Rindu
Andai aku bisa menciptakan aplikasi:
Rindu-Go.
Setiap kali aku merindukanmu,
cukup klik tombol,
dan wajahmu muncul di layar.
Tapi tentu tidak sesederhana itu.
Programnya selalu error,
baterai hatiku cepat habis,
dan server kenangan
terlalu penuh oleh ingatan basi.
Satire-nya jelas:
teknologi bisa mempercepat segalanya,
tapi tidak pernah bisa
mempercepat lupa.
22
Politik Rindu
Rindu membentuk parlemen.
Ada partai “Menunggu”,
partai “Air Mata”,
partai “Harapan Palsu”.
Mereka berdebat setiap malam,
merebut kursi kekuasaan di dadaku.
Aku hanya rakyat jelata
yang menonton perdebatan sia-sia,
membayar pajak berupa luka.
Dan sebagaimana semua politik:
rakyat tak pernah benar-benar menang.
23
Astronomi Rindu
Aku memandang langit:
bintang-bintang hanyalah
lubang kecil di tirai malam.
Di tiap lubang,
wajahmu bersembunyi.
Jika astronom berkata:
“Bintang itu mati jutaan tahun lalu.”
Aku ingin menjawab:
“Ya, seperti cintaku juga—
tapi sinarnya tetap tiba,
menyilaukan aku yang masih bodoh
menatap ke atas.”
24
Logika Rindu
Logika berkata:
“Lupakan saja.
Ia tidak kembali.”
Tapi logika selalu kalah
dalam sidang dadaku.
Rindu mengajukan banding,
menggugat logika dengan bukti palsu:
sebuah senyum yang dulu singgah sebentar.
Dan hakim hatiku
selalu memihak rindu.
Maka filsafatku jelas:
logika hanyalah boneka
yang selalu kalah dalam teater rindu.
25
Rindu dalam Ekologi
Rindu adalah hutan.
Aku tersesat di dalamnya,
tak ada jalan pulang.
Pohon-pohonnya adalah kenangan,
akar-akarnya mengikat kakiku.
Hewan buasnya adalah bayanganmu
yang tiba-tiba menerkam dari gelap.
Aku ingin jadi penebang
yang membakar semua pepohonan,
tapi siapa sanggup
membakar dirinya sendiri?
26
Mitologi Rindu
Dulu orang menciptakan dewa-dewa:
dewa hujan,
dewa api,
dewa perang.
Andai aku hidup di zaman itu,
aku pasti menyembah
Dewa Rindu.
Namanya mungkin Absensius,
dewa yang selalu tak hadir
meski disembah dengan darah.
Dan kitab sucinya hanya satu ayat:
“Tunggu.”
27
Satire Kalender
Kalender di dinding menertawakanku.
“Hari-hari hanya lewat,
tapi kau tetap di tempat yang sama.”
Aku ingin merobek semua tanggal,
tapi tetap saja,
bulan baru datang membawa luka lama.
Rindu adalah kalender abadi:
tak ada libur,
tak ada tanggal merah,
tak ada perayaan selain sepi.
28
Rindu Sebagai Agama Alternatif
Aku mendirikan rumah ibadah rindu.
Jamaahnya hanya aku.
Kitabnya hanya buku harian yang kusut.
Tuhannya: wajahmu yang tak pernah datang.
Ritualnya: menangis setiap malam.
Agama ini tak menjanjikan surga,
hanya neraka kecil
yang ku alami setiap hari.
29
Dialog dengan Laut
Aku bertanya pada laut:
“Kapan rindu berhenti?”
Laut menjawab dengan gelombang:
“Tidak pernah.
Aku pun tak pernah berhenti,
aku hanya berubah bentuk.”
Aku pun sadar:
rindu bukan untuk dihapus,
hanya untuk dipikul
seperti ombak memikul dirinya sendiri.
30
Geologi Rindu
Aku meneliti lapisan bumi.
Di dalam perutnya,
ada fosil-fosil wajahmu.
Setiap guncangan gempa
adalah suaramu yang terjebak
di dasar tanah.
Aku pun sadar:
rindu lebih tua daripada batu,
dan lebih keras daripada gunung.
31
Ekonomi Politik Air Mata
Air mataku dipajaki negara.
Katanya, demi pembangunan sepi.
Tapi siapa yang membangun?
Tembok penjara rinduku makin tinggi.
Satire paling pahit adalah ini:
bahkan air mata pun
bisa dijadikan komoditas politik.
32
Zoologi Malam
Malam adalah kebun binatang rindu.
Ada burung hantu yang membawa kenangan,
serigala yang melolongkan kehilangan,
dan tikus kecil yang mencuri harapan.
Aku hanya penjaga kandang
yang tak digaji,
tapi tetap bertahan
karena tak sanggup menutup pintu.
33
Rindu Sebagai Pekerjaan
Seandainya ada profesi resmi:
“Perindu Profesional.”
Aku sudah punya gelar doktor.
CV-ku panjang:
– 10.000 malam tanpa tidur
– 5.000 halaman puisi sia-sia
– 1 hati yang gagal berkali-kali.
Tapi sayang,
pekerjaan ini tak pernah bergaji
selain luka.
34
Filsafat Rokok
Aku menyalakan sebatang rokok.
Asapnya melingkar,
mengingatkanku pada rindu:
tak pernah lurus,
selalu melayang ke udara,
dan akhirnya hilang entah ke mana.
Tapi paru-paruku jadi hitam,
dan rinduku tetap putih pucat—
ironinya, aku yang lebih dulu mati.
35
Sosiologi Sepi
Sepi adalah masyarakat kecil.
Warganya: bayanganmu,
jam dinding,
dan kursi kosong.
Mereka menggosipkan aku setiap malam,
menertawakan kebodohanku
yang tak kunjung pindah kota.
Aku hanyalah urban poor
dalam negara bernama Rindu.
36
Estetika Luka
Mereka bilang luka itu indah.
Aku tidak percaya.
Tapi ketika kulihat darah rindu
membentuk kaligrafi di dadaku,
aku pun sadar:
estetika terkadang lahir
dari penderitaan yang tak tertanggungkan.
37
Teater Absurd
Aku berdiri di panggung kosong,
berbicara pada kursi hampa.
Aku mengucapkan dialog panjang,
menyebut namamu ribuan kali.
Tapi tak ada tepuk tangan,
tak ada tirai turun.
Rindu adalah teater absurd
yang terus dipentaskan
tanpa penonton.
38
Biografi Bayangan
Aku menulis biografi bayanganmu:
– lahir dari cahaya,
– tumbuh dari ingatan,
– mati setiap kali lampu padam.
Tapi anehnya,
meski bayanganmu sering mati,
rinduku tetap hidup.
39
Kosmologi Kehilangan
Andai alam semesta mengembang
karena rindu bintang-bintang
satu sama lain,
maka aku ini hanya replika kecil
dari kosmos yang tak sabar.
Tubuhku hanyalah galaksi mini
yang terus retak,
karena gravitasi wajahmu
menarik segalanya ke jurang.
40
Arsip Kegagalan
Aku punya laci penuh arsip.
Isinya: surat tak terkirim,
puisi tak terbaca,
doa tak terkabul.
Semua ditandai stempel merah:
“Gagal.”
Ironinya,
setiap kali aku membuka laci itu,
aku tersenyum getir:
“Beginilah museum pribadiku.”
41
Sosiologi Hujan
Hujan turun,
menyamar sebagai rindu.
Orang-orang bilang:
“Hujan itu romantis.”
Tapi aku tahu,
hujan hanyalah propaganda air mata
yang jatuh dari langit.
Aku pun menertawakan diriku sendiri,
karena ikut terjebak
dalam iklan murahan bernama nostalgia.
42
Mekanik Jam
Jam dinding rusak.
Jarumnya macet di pukul dua.
Itu jam ketika kau pergi.
Aku tidak memperbaikinya,
biarlah ia jadi monumen kecil
atas kekalahan.
Satire paling pahit:
bahwa waktu pun bisa bersekongkol
dengan rindu.
43
Arsitektur Sepi
Aku membangun rumah
dari bata rindu.
Atapnya dari luka,
pintunya dari air mata.
Aku tinggal di dalamnya sendirian,
setiap malam dindingnya bergema:
“Dia tidak akan kembali.”
Rumah ini indah dari luar,
tapi roboh dari dalam.
44
Botani Kenangan
Kenangan tumbuh seperti pohon.
Daunnya foto-foto lama,
buahnya senyum basi.
Aku ingin menebangnya,
tapi akarnya sudah menembus dadaku.
Maka aku belajar filsafat baru:
kadang pohon itu bukan untuk ditebang,
tapi untuk membuatmu belajar sakit.
45
Ekonomi Sunyi
Sunyi adalah mata uang gelap.
Aku membayarnya setiap malam
hanya untuk bisa bertemu wajahmu
dalam lima menit mimpi.
Tapi mimpinya selalu macet,
dan aku bangun dengan utang lebih besar.
46
Ilmu Bedah Jiwa
Aku ingin menjadi psikiater
untuk tubuhku sendiri.
Aku buka otak,
aku temukan wajahmu
terpahat di dinding otak kanan.
Aku coba mengikis,
tapi setiap serpihan yang hilang
berubah jadi rindu baru.
Maka dokter pun menyerah:
“Pasien ini sakit karena dirinya sendiri.”
47
Tafsir Mimpi
Aku bermimpi duduk di perahu,
kau di tepi sungai.
Aku mendayung sekuat tenaga,
tapi sungai malah menjauh.
Ah, rupanya sungai itu namanya Rindu.
Ia bukan air yang mengalir,
tapi jurang yang melebar.
Aku pun bangun dengan basah keringat,
tertawa getir:
bahkan mimpi pun ikut mengkhianatiku.
48
Rindu Sebagai Filsafat Kiamat
Jika kiamat tiba,
gunung runtuh,
langit terbelah,
laut mendidih—
aku tahu masih ada satu hal
yang tak akan hancur:
rindu.
Karena bahkan setelah dunia selesai,
aku masih ingin bertanya pada kehampaan:
“Apakah dia pernah mencintaiku,
atau aku hanya bercanda sendirian?”
49
Rindu yang di Perdagangkan
Rindu adalah candu yang diperdagangkan di pasar gelap sunyi,
dijajakan oleh para pedagang waktu yang wajahnya tak pernah kita lihat.
Aku membeli sebungkus setiap malam
dengan mata uang kenangan,
lalu menelannya dengan secangkir kopi pahit
yang tak pernah habis.
Katanya, cinta itu obat,
tapi mengapa ia justru menjelma penyakit yang membiak
di sumsum tulang yang kering oleh doa-doa?
50
Rindu Tak Mengenal Diri
Aku mencoba melarikan diri dari rindu—
menyembunyikan diri di balik tumpukan buku filsafat,
menghibur diri dengan kata-kata Socrates,
“Kenalilah dirimu.”
Namun setiap kali aku ingin mengenali diriku,
yang kutemukan hanyalah wajahmu
yang dipantulkan cermin retak kesunyian.
Plato menawarkan ide-ide murni,
tapi rinduku tidak pernah murni—
ia selalu tercemar oleh kelicikan kenangan
yang menolak mati.
51
Airmata yang Sabar
Di jalan raya yang riuh oleh klakson,
rindu berjalan seperti pengemis tua
yang menadahkan tangan,
namun bukan uang yang ia minta,
melainkan air mata yang enggan kutumpahkan.
Aku ingin berteriak:
“Pergilah, jangan lagi menguntit langkahku!”
Tapi rindu lebih sabar daripada dewa mana pun,
ia menunggu di tikungan waktu,
menyelinap ke dalam saku,
lalu berbaring nyaman
seperti lintah yang puas minum darah.
52
Menyimpan Luka
Apakah rindu itu iblis atau malaikat?
Ia membuatku berdoa,
namun juga membuatku menghujat.
Ia menyalakan lilin di ruang doa,
namun diam-diam meniupnya sendiri
saat aku bersujud.
Rindu mengajarkan bahwa manusia
tak lebih dari sejenis hewan yang pintar menyiksa diri:
menyimpan luka dalam guci emas,
menyebutnya cinta,
lalu memamerkannya kepada dunia
seperti piala kejuaraan.
53
Alamat yang Kosong
Rindu bukan lagi soal jarak.
Ia adalah soal keberanian untuk menolak kenyataan.
Aku tahu engkau tak akan kembali,
bahkan mungkin engkau tidak pernah peduli,
tapi aku tetap menulis surat setiap malam
kepada alamat yang bahkan Tuhan sudah lupakan.
Apakah ini yang disebut Kierkegaard
sebagai lompatan iman?
Melompat tanpa jaring,
ke dalam jurang kosong yang kusebut namamu?
54
Rindu Tak Pernah Mati
Aku membayangkan hari tua datang,
rambut memutih seperti abu dari doa yang gagal,
tangan gemetar memegang tongkat,
namun rindu tetap segar,
tetap muda,
tetap menertawakan keriputku.
Ironi apa lagi yang lebih kejam dari ini?
Cinta mati, tubuh lapuk,
tapi rindu terus hidup,
seperti kutukan yang diwariskan dari satu generasi
kepada generasi berikutnya.
55
Abu yang Tersisa
Barangkali rindu hanyalah cara alam
untuk mengingatkan manusia bahwa ia fana.
Bahwa segala sesuatu yang kita genggam
akan meluncur pergi
seperti pasir kering di antara jari.
Bahwa rindu adalah sisa,
residu,
abu yang tersisa setelah api cinta padam.
Namun anehnya,
abu itu lebih panas daripada api yang pernah menyala.
56
Memuja Kehilangan
Aku menertawakan diriku sendiri:
betapa bodoh manusia yang memuja kehilangan.
Kita merangkai puisi,
membangun monumen kata,
menyebutnya keabadian.
Padahal yang abadi hanyalah ketiadaan.
Rindu, pada akhirnya,
adalah humor kosmik dari semesta—
lelucon yang dimainkan waktu
kepada jiwa-jiwa yang terlalu serius mencinta.
57
Batu Nisan
Maka biarlah aku terus menulis,
seperti penggali kubur yang setia bekerja
meski tahu tanah tak pernah kenyang menelan jasad.
Biarlah rindu menjadi batu nisan
yang menancap di dadaku,
biarlah ia menertawakan kelemahan ini.
Sebab jika aku berhenti merindu,
aku tahu:
aku juga berhenti menjadi manusia.
58
Penantian Sunyi
Dan jika suatu hari aku mati,
jangan tangisi aku dengan doa-doa.
Bacakan saja satu kalimat:
“Di sini dikuburkan seorang manusia
yang hidupnya tak pernah selesai menunggu.”
59
Pasar Sunyi
Di pasar sunyi yang tak punya atap,
para penjual menjajakan botol-botol rindu
seperti jamu pahit yang dikemas dengan puisi murahan.
Pembelinya adalah manusia-manusia rapuh
yang pura-pura gagah,
yang pura-pura kuat,
yang pura-pura sudah melupakan,
padahal di balik dada mereka
ada gua gelap tempat rindu bersemayam.
Aku salah satunya.
Aku menawar dengan air mata,
membayar dengan sepotong jiwa.
Dan pedagang itu tertawa,
“Rindu memang tak pernah diskon, nak.
Ia selalu mahal.”
60
Labirin
Rindu adalah labirin yang dibangun tanpa pintu keluar.
Aku berlari, menabrak dinding,
mengira ada celah,
tapi yang kutemukan hanyalah grafiti namamu
yang dipahat oleh waktu.
Aku teringat kalimat Nietzsche:
“Siapa yang melawan monster, jangan sampai jadi monster.”
Tapi apa jadinya
jika aku sudah menjadi monster rindu itu sendiri,
berjalan dengan kepala penuh bayangan,
dan perut kosong yang hanya bisa diisi
oleh suara langkahmu yang tak pernah kembali?
61
Kursi Kosong
Di meja makan ada kursi kosong
yang setiap malam menatapku seperti mata maut.
Aku duduk di hadapannya,
menyodorkan sepiring doa,
secangkir kopi,
dan sepotong roti yang tak disentuh siapa-siapa.
Kadang aku berbicara kepada kursi itu,
menanyakan kabarmu,
menawarkan canda,
sampai akhirnya aku sadar
aku hanya berbicara kepada kekosongan.
Namun bukankah itu yang kita sebut doa?
Mengucapkan kata-kata kepada sesuatu
yang tidak pernah menjawab?
62
Taman Kuburan
Aku berjalan di taman kuburan,
melihat batu-batu nisan yang berserakan
seperti alfabet raksasa
yang menulis sajak tentang kefanaan.
Aku berhenti pada satu nisan tak bernama,
dan aku menulis namamu dengan jari,
seolah-olah di sanalah rinduku dikuburkan.
Tapi tanah tertawa,
“Aku hanya menelan jasad,
bukan rindu.
Rindu lebih licin dari cacing,
lebih abadi dari batu.”
Maka aku pun tahu:
rindu ini akan ikut dikuburkan bersamaku,
namun ia akan bangkit
seperti hantu yang menolak tenang.
63
Humor Kosmik
Rindu, kata Camus,
adalah absurditas yang tak pernah selesai.
Seperti orang yang menolak tidur,
namun tetap berbaring di ranjang.
Seperti tawanan yang menertawakan borgolnya sendiri.
Aku menatap cermin
dan menemukan wajahku telah berlipat ganda:
separuh filsuf, separuh badut.
Rindu mengubahku menjadi keduanya sekaligus.
Aku mengutip diriku sendiri:
“Kesedihan yang terlalu lama dipelihara
pada akhirnya hanyalah lawakan murahan
yang disajikan kepada Tuhan.”
Dan Tuhan, barangkali,
sedang menonton sambil bosan.
64
Surat yang Tak Pernah Sampai
Setiap malam aku menulis surat
kepada alamat yang bahkan tukang pos pun enggan mencatat.
Aku melipatnya dengan hati-hati,
menyegelnya dengan air mata,
lalu menaruhnya di bawah bantal.
Di pagi hari,
surat itu tetap di sana,
lebih kusut, lebih tua,
lebih penuh jamur kesepian.
Mungkin beginilah manusia mencipta mitos:
mereka tahu tak akan ada jawaban,
namun tetap menulis,
karena berhenti menulis
berarti mengakui kekosongan sepenuhnya.
65
Opera Rindu
Aku membayangkan sebuah panggung besar,
dengan lampu sorot dari bulan
dan tirai yang dijahit dari kabut.
Para aktor adalah bayangan,
para penonton adalah doa-doa yang tak terkabul.
Dan aku berdiri di tengah panggung,
membacakan monolog paling basi dalam sejarah:
“Aku merindukanmu.”
Tapi tepuk tangan tak pernah datang,
hanya keheningan panjang,
dan suara jantungku sendiri
yang berdetak seperti drum perang.
Opera ini tak pernah selesai,
karena sutradaranya adalah waktu,
dan waktu tak pernah suka menutup tirai.
66
Kitab yang Hilang
Jika ada kitab tentang rindu,
pasti isinya kosong.
Hanya halaman-halaman putih
yang menunggu ditulisi nama yang sama berulang-ulang.
Mungkin itulah sebabnya manusia terus menulis puisi:
untuk menambal kekosongan kitab itu,
untuk berpura-pura bahwa rindu punya makna.
Tapi apakah ia benar-benar punya makna?
Ataukah kita hanya sedang tertipu
oleh tipu daya bahasa
yang terlalu pandai mendandani luka
menjadi bunga kata-kata?
67
Simfoni Absurditas
Rindu adalah simfoni tanpa nada dasar.
Ia dimainkan dengan biola retak,
piano yang kehilangan kunci,
dan drum yang sudah bolong tengahnya.
Namun entah mengapa
lagu itu tetap terdengar merdu
di telinga orang yang terluka.
Barangkali karena luka memang haus musik,
dan rindu adalah konser gratis
yang tak pernah berhenti
meski penontonnya sudah mati.
68
Kesimpulan yang Tak Pernah Jadi
Aku ingin menutup kitab ini dengan kesimpulan,
tapi rindu selalu menolak untuk dirangkum.
Ia selalu lolos dari kalimat akhir,
seperti air yang tak bisa ditangkap dengan jari.
Maka aku hanya menulis satu kalimat:
“Rindu adalah kebodohan paling jenius
yang pernah ditemukan manusia.”
Dan aku pun tersenyum getir,
sebab aku tahu—
meski aku mengerti seluruh filsafat dunia,
meski aku membaca seluruh kitab suci,
meski aku menertawakan segala absurditas,
aku tetaplah budak rindu
yang menunggu pintu
yang tak akan pernah diketuk.
69
Rindu sebagai Mata Uang
Di sebuah negeri yang tak pernah ada di peta,
rindu dipakai sebagai mata uang resmi.
Orang-orang membeli roti dengan kenangan,
membayar pajak dengan air mata,
dan menyuap pejabat dengan sepotong harapan.
Aku mencoba menabung rindu di bank,
tapi bankir menolaknya,
“Maaf, kami hanya menerima kehilangan segar,
rindu yang sudah basi tak laku lagi.”
Maka aku keluar dari bank itu,
membawa kantong penuh rindu,
dan menertawakan betapa kayanya aku
dalam mata uang yang tak berharga.
70
Perjamuan Kosong
Aku diundang ke sebuah perjamuan rindu.
Meja panjang sudah ditata,
piring perak berkilau,
gelas kristal penuh cahaya.
Namun makanan tak pernah datang.
Para tamu saling tersenyum getir,
mengunyah kehampaan dengan sopan santun.
Aku mengangkat gelas,
menyeruput kosong,
dan berkata:
“Beginilah rindu—
pesta megah tanpa hidangan.”
Semua orang mengangguk,
lalu kembali mengunyah ketiadaan.
71
Cermin Pecah
Aku berdiri di hadapan cermin,
dan yang kulihat bukan wajahku,
melainkan serpihan wajahmu
yang terpecah dalam seribu bayangan.
Setiap serpihan berbisik:
“Aku ada di sini,
tapi tak pernah bisa kau rangkul.”
Aku mencoba menyatukan potongan itu,
namun tanganku berdarah oleh tajamnya kenangan.
Maka aku biarkan saja cermin itu retak,
sebab barangkali,
itulah cara rindu menyimpanmu:
tak utuh, tak sempurna,
namun tetap ada di setiap pecahan.
72
Teologi Rindu
Para teolog berselisih paham tentang Tuhan,
tapi mereka sepakat soal satu hal:
rindu adalah doa yang tak pernah dijawab.
Sebab bagaimana mungkin Tuhan menjawab
jika pertanyaannya sendiri kabur?
Apakah aku merindukanmu,
atau aku merindukan bagian dari diriku
yang hilang saat engkau pergi?
Mungkin keduanya sama.
Dan jika benar rindu adalah doa,
maka aku adalah nabi palsu
yang terus berkhotbah kepada sunyi.
73
Senja yang Mengolok-olok
Setiap kali senja datang,
aku merasa langit sedang mengolok-olokku.
Awan jingga menari,
matahari pamit dengan anggun,
sementara aku hanya duduk di bangku tua,
menunggu yang tak kunjung kembali.
Senja berbisik:
“Lihatlah, aku selalu pulang
setiap sore.
Mengapa dia tidak?”
Aku menunduk, kalah telak
oleh ironi alam semesta.
74
Rindu dalam Botol
Aku mencoba mengurung rinduku
ke dalam sebuah botol kaca.
Kututup rapat dengan gabus,
lalu kuletakkan di rak buku.
Namun setiap malam,
botol itu bergetar sendiri,
mengeluarkan dengung halus
seperti lebah yang marah.
Aku tahu:
rindu tak bisa dikurung.
Ia akan selalu mencari celah,
merembes,
dan akhirnya membanjiri seluruh kamar
seperti banjir yang menelan kota.
75
Dialog dengan Bayangan
Malam ini aku berbicara dengan bayanganku sendiri.
“Apa yang kau tunggu?” tanyanya.
“Aku menunggu dia,” jawabku.
“Dia siapa?”
Aku terdiam.
Nama itu menempel di lidah
namun tak pernah bisa kuucapkan.
Bayangan tertawa,
“Kau bahkan tak berani menyebut namanya,
bagaimana kau bisa berharap
dia akan kembali?”
Dan aku pun mengutuk bayangan itu,
meski aku tahu:
ia hanya cerminan dari kebodohanku sendiri.
76
Sekolah Rindu
Andai ada sekolah rindu,
aku pasti murid paling bodoh.
Setiap hari aku belajar cara melupakan,
tapi nilainya selalu nol.
Guru berkata:
“Rindu adalah ujian tanpa jawaban.”
Dan aku menulis ribuan kali di papan tulis:
“Aku tidak merindukannya,
aku tidak merindukannya.”
Namun kalimat itu selalu berubah sendiri:
“Aku merindukannya,
aku merindukannya.”
Barangkali aku ditakdirkan
untuk tidak pernah lulus dari sekolah ini.
77
Rindu sebagai Sejenis Iman
Ada orang percaya surga,
ada orang percaya neraka,
ada pula orang percaya reinkarnasi.
Aku percaya rindu.
Bagiku, ia lebih nyata dari semua dogma,
lebih kuat dari semua kitab.
Rindu tidak butuh nabi,
tidak butuh wahyu,
sebab ia sudah menjadi kitab sucinya sendiri.
Dan aku hanyalah pengikut fanatik
yang setiap hari beribadah
kepada kekosongan yang menyamar sebagai dirimu.
78
Pertanyaan Terakhir
Apakah rindu akan berakhir
jika suatu hari aku melihatmu lagi?
Ataukah ia justru membesar,
menjadi api yang menelan seluruh diriku?
Mungkin jawaban itu tak pernah ada,
sebab rindu tidak membutuhkan logika.
Ia hanya membutuhkan korban.
Dan aku,
sudah lama menyerahkan diriku
sebagai persembahan.
79
Observatorium Sepi
Aku mendirikan observatorium di tengah malam.
Teleskopnya diarahkan bukan ke bintang,
tapi ke ruang kosong di antara pikiran.
Setiap teleskop bergetar melihat rindu,
yang bergerak seperti komet tanpa ekor,
meninggalkan debu kenangan
yang menempel di paru-paru.
Astronom mungkin menemukan planet baru,
aku menemukan bayanganmu di orbit yang tak pernah berhenti.
80
Toko Barang Antik
Aku masuk ke toko barang antik.
Setiap benda bercerita tentang kehilangan:
jam macet, cermin retak, kursi kosong.
Aku menemukan wajahmu di antara cangkir porselen tua,
dan tersenyum getir:
bahwa rindu adalah barang antik
yang selalu bernilai, meski rusak, meski tak terpakai.
81
Rindu dan Mata Pisau
Rindu tajam seperti mata pisau
yang dipoles dengan kenangan manis.
Ia memotong hati perlahan-lahan,
tanpa bekas,
hanya meninggalkan rasa yang kian membara.
Aku belajar satu hal:
bahwa kepedihan yang dipoles rindu
adalah bentuk seni yang paling jenius.
82
Dialog dengan Jam Dinding
Aku berbicara pada jam dinding yang rusak:
“Apakah kau ikut menertawakanku?”
Jam itu diam.
Aku tahu ia mengerti,
bahwa waktu pun menertawakan kebodohanku,
waktu yang seharusnya menjadi guru
justru menjadi saksi bisu
dari tragedi yang kulakukan sendiri.
83
Rindu dalam Arsitektur Kota
Kota penuh bangunan tinggi,
tapi hatiku kosong seperti gedung yang terbengkalai.
Jalan-jalannya berliku,
lampu-lampunya berkedip seperti mata yang menatap
ke arah yang salah.
Aku berjalan tanpa tujuan,
dan sadar:
rindu adalah arsitek kota yang tak terlihat,
yang membangun labirin dari kenangan dan bayangan.
84
Ekonomi Luka
Aku mencoba menjual luka di pasar bebas.
Harganya naik-turun sesuai permintaan.
Kadang seseorang membeli setetes air mata,
kadang satu senyuman basi.
Tapi lebih sering, pembeli kabur,
meninggalkan aku dengan stok rindu berlebihan.
Satire terbesar adalah:
bahwa manusia rela miskin secara materi,
tapi kaya akan penderitaan.
85
Teater Malam
Malam ini aku menggelar teater sendiri.
Panggung: kamar gelap, tirai: jendela kosong.
Aktor: bayangan, penonton: suara hati sendiri.
Dialognya sederhana:
“Aku rindu.”
Lagu latar: detak jantung yang cemas.
Tirai tak pernah diturunkan,
karena malam tak pernah puas
melihat tragedi kecil ini terus berulang.
86
Filosofi Air Mata
Air mata adalah filosofi yang paling jujur.
Ia tidak berbohong, tidak menipu.
Ia jatuh, mengalir, meresap,
dan mengajari manusia:
bahwa menangis adalah bentuk pembelajaran
tentang kehilangan, kesepian, dan absurditas.
Aku menangis setiap malam,
dan selalu merasa bodoh,
karena belajar sesuatu yang tidak berguna.
87
Rindu sebagai Gelombang Laut
Rindu datang seperti gelombang laut,
kadang lembut, kadang ganas,
membasahi kaki yang berdiri di pantai kenangan.
Aku mencoba menahan airnya,
tapi pasir hatiku hanyut perlahan.
Gelombang pergi, meninggalkan kerang kosong,
dan aku tahu:
setiap kerang adalah puisi yang gagal
atau kenangan yang tak tertangkap.
88
Kota Bayangan
Kota yang aku tinggali penuh bayangan.
Bangunannya berdiri, tapi tak ada penghuni.
Jalanan berdebu, lampu mati.
Aku berjalan sendirian,
menghitung langkah, menulis nama-nama yang hilang.
Rindu mengubah kota nyata menjadi kota mimpi buruk,
di mana aku menjadi satu-satunya penduduk
yang menolak pindah rumah.
89
Arsip Kenangan
Aku membuka laci arsip:
isi: surat tak terkirim, foto pudar, tiket kereta yang kadaluarsa.
Setiap item menjerit,
mengingatkanku bahwa aku bodoh,
bahwa aku terlalu mencintai hal yang tak bisa kembali.
Namun anehnya,
arsip ini memberiku kenyamanan,
sebab di dunia yang hampa,
kenangan yang sakit pun lebih baik daripada tak ada apa-apa.
90
Kalender Kosong
Kalender di dinding menertawakan aku.
Tanggal demi tanggal berlalu,
namun hati tetap macet di hari kepergianmu.
Aku ingin merobek halaman,
namun kalender selalu mengisi ulang dirinya sendiri.
Barangkali rindu adalah waktu yang enggan menua,
dan aku hanyalah korban yang harus terus membayar sewa.
91
Observasi Bayangan
Aku menatap bayanganku sendiri:
ia menyalin setiap gerakanku,
setiap detak jantungku,
setiap renungan bodoh tentangmu.
Kadang aku menamparnya,
kadang aku memeluknya,
tapi ia tetap ada,
mengajariku satu hal:
bahwa rindu adalah penjara yang kita buat sendiri,
dengan kunci yang hilang.
92
Dialog dengan Kesepian
Kesepian datang seperti tamu yang tak diundang.
Ia duduk di sofa, minum teh, tersenyum getir.
Aku bertanya: “Kapan kau akan pergi?”
Ia menjawab:
“Jika engkau mengizinkan.”
Dan aku sadar,
bahwa rindu dan kesepian
selalu datang beriringan,
mendikte cara manusia bernapas,
menentukan kapan ia tersenyum atau menangis.
93
Rindu Sebagai Labirin Pikiran
Aku menelusuri lorong-lorong pikiranku sendiri.
Setiap tikungan membawa bayanganmu.
Aku tersesat, tersandung, jatuh.
Namun ada kenikmatan kecil dalam kebingungan itu:
bahwa tersesat di labirin rindu
lebih menyenangkan daripada menemukan jalan keluar.
94
Toko Barang Retak
Aku membeli cermin retak di toko barang antik.
Setiap retakan memantulkan wajahmu
dengan cara berbeda-beda.
Aku tersenyum pahit:
bahwa rindu adalah seni patah yang paling indah,
dan aku menjadi kolektor yang bodoh,
membayar mahal untuk kepingan yang tak utuh.
95
Rindu Sebagai Filsafat Ketiadaan
Aku duduk di ruang kosong,
menulis catatan tentang ketiadaan.
Rindu hadir, menatapku, tersenyum.
Ia berkata:
“Kau ingin arti? Kau ingin jawaban?
Aku hanyalah filosofi yang menolak logika.”
Aku menunduk,
sebab bahkan filsafat pun kalah
di hadapan absurditas ini.
96
Teater Hidupku
Aku berdiri di panggung kehidupan,
mengulangi adegan yang sama:
menunggu yang tak pernah datang,
menulis puisi yang tak pernah dibaca.
Penonton adalah bayangan,
lampu sorot: rembulan.
Aku menertawakan diriku sendiri,
sebab absurdnya hidupku
adalah teater yang tak punya akhir.
97
Epilog yang Tak Pernah Tutup
Aku ingin menutup kitab ini,
namun rindu menolak.
Ia terus menulis,
menyisipkan catatan di margin,
mengoreksi kata demi kata.
Dan aku pun sadar:
bahwa rindu tidak membutuhkan penulis,
tidak membutuhkan pembaca,
ia hanya membutuhkan keberadaan
seorang yang terus menunggu
di tengah kekosongan dunia.
98
Rindu sebagai Matahari Hitam
Rindu muncul seperti matahari hitam,
menyinari hati dengan cahaya yang tidak terlihat.
Semua benda menjadi bayangan,
semua kata menjadi debu.
Aku belajar satu hal:
bahwa kegelapan pun bisa terasa panas
jika kau menyentuhnya dengan telapak hati yang terbakar.
99
Taman Kenangan
Aku berjalan di taman kenangan,
di mana bunga-bunga tumbuh dari air mata,
dan angin membawa aroma kehilangan.
Setiap langkahku menimbulkan gemuruh kecil:
apakah itu tanah yang retak,
atau rindu yang menertawakanku?
Aku menunduk,
mengambil setangkai bunga yang layu,
dan menaruhnya di saku.
Ia akan tetap layu,
tetapi setidaknya aku memegangnya,
seperti aku memegangmu di ingatan.
100
Surat Kepada Waktu
Aku menulis surat kepada waktu:
“Apakah kau sengaja lambat,
atau aku yang terlalu cepat?”
Waktu diam,
hanya menggulung jarum jam
dan menertawakanku dari balik tirai realitas.
Aku sadar:
bahwa rindu adalah seni menunggu
yang diciptakan oleh tirani waktu.
101
Labirin Hati
Hati ini adalah labirin tanpa peta.
Aku tersesat di dalamnya,
menemukan jalan buntu,
jalan melingkar, jalan yang sama dengan langkah sebelumnya.
Rindu berjalan di sisiku,
menggandeng tanganku,
menertawakan kebodohan manusia
yang percaya ia bisa menemukan jalan keluar
dari keabadian yang fana.
102
Rindu dan Filosofi Teko
Aku menuang rindu ke dalam teko,
menyajikannya dalam cangkir porselen.
Rasanya pahit,
tapi aku meminumnya perlahan.
Barangkali inilah filsafat kehidupan:
menerima pahit sebagai bagian dari manis
dan menyebutnya pengalaman.
Tapi rindu tersenyum getir,
“Pahit ini hanya awal, nak,
kau belum merasakan yang sesungguhnya.”
103
Kota Tanpa Nama
Aku berjalan di kota tanpa nama,
lampu-lampunya mati,
jalanannya berliku.
Setiap bangunan menatapku dengan jendela kosong.
Aku menulis namamu di tiap tembok,
tapi tinta menguap begitu disentuh angin.
Aku tersenyum pahit:
bahwa rindu adalah vandal yang paling kreatif,
menghancurkan apa yang aku ciptakan sendiri.
104
Opera Sunyi
Aku menonton opera sunyi,
panggungnya kosong, musiknya bisu,
penontonnya hanyalah bayangan masa lalu.
Aku bertepuk tangan sendiri,
mengikuti nada yang hanya ada di kepalaku.
Barangkali inilah definisi tertinggi dari rindu:
keindahan yang tak bisa disentuh,
lagu yang tak bisa didengar,
teater yang tak punya akhir.
105
Filosofi Kopi Pahit
Aku duduk dengan cangkir kopi pahit,
menatap cermin yang retak.
Setiap teguk mengajarkanku satu hal:
bahwa hidup adalah kopi pahit
yang harus kau minum sampai habis,
dan rindu adalah ampasnya
yang menempel di lidah,
mengajarkan kesabaran dan absurditas.
106
Patung Rindu
Aku memahat patung rindu,
menggunakan tanah liat dari kenangan.
Patung itu retak, jatuh, pecah.
Namun aku tetap memeluknya,
sebab retakan itulah yang membuatnya hidup.
Rindu memang tak utuh,
tetapi ia abadi dalam ketidakutuhannya.
107
Simfoni Hampa
Aku mendengar simfoni hampa:
instrumen: angin, hujan, detak jantung sendiri.
Nada: kehilangan, kesepian, kenangan.
Aku menjadi konduktornya,
menyetir orkestra yang tak ada penonton.
Ironisnya, aku bahagia,
sebab bahagia dalam rindu adalah paradoks tertinggi.
108
Rindu sebagai Penjara
Aku menulis di dinding sel:
“Rindu adalah penjara dengan kunci emas.”
Aku memegang kunci itu,
tapi ia tak pernah membuka pintu.
Aku menertawakan diriku sendiri,
sebab penjara ini nyaman,
lebih nyaman daripada dunia nyata yang kejam.
109
Teks yang Tak Pernah Dibaca
Aku menulis ribuan halaman tentangmu,
dan menyimpannya di rak.
Tak ada yang membaca,
hanya debu yang menari di atasnya.
Namun aku puas:
bahwa meski dunia tak peduli,
aku peduli,
dan itu sudah cukup untuk absurditas ini.
110
Rindu sebagai Ilmu Hitam
Aku meneliti rindu seperti ilmuwan gila.
Ia menolak semua teori, semua formula.
Setiap percobaan gagal,
setiap rumus sia-sia.
Dan aku sadar:
bahwa rindu adalah ilmu hitam yang tak bisa dipelajari,
hanya bisa dialami,
dan diderita tanpa ampun.
111
Matahari dan Bayangan
Setiap pagi aku melihat matahari,
tapi bayanganku tetap panjang.
Bayangan menatapku,
menggoda dengan kenangan,
dan aku tahu:
bahwa rindu adalah matahari yang tidak pernah tenggelam,
meski siang sudah habis.
112
Jalanan Sepi
Aku berjalan di jalanan sepuluh mil,
tanpa tujuan, tanpa arah.
Setiap langkah meninggalkan bekas,
dan setiap bekas menjadi puisi.
Rindu menemaniku,
menyulap langkah sederhana menjadi tragedi.
113
Labirin Kata
Aku menulis kata demi kata,
dan kata-kata membentuk labirin.
Aku tersesat, tersandung, jatuh.
Namun aku tersenyum:
bahwa tersesat di labirin rindu
lebih mulia daripada menemukan jalan keluar.
114
Rindu Sebagai Filosofi Paling Kasar
Rindu mengajarkanku bahwa dunia adalah sandiwara,
dan manusia adalah badut yang memeluk bayangan.
Ia kejam, tetapi jenius.
Ia pahit, tetapi indah.
Ia membuat manusia bodoh,
tapi juga bijak secara absurd.
115
Hujan dan Rindu
Hujan turun, menembus jendela,
membasahi lantai, membasahi hatiku.
Aku menatap tetes demi tetes,
dan sadar:
rindu adalah hujan yang tidak bisa dihindari,
dan aku adalah kota yang basah kuyup karenanya.
116
Kursi Kosong Lagi
Di kursi yang sama, aku duduk.
Hampir semua tamu pergi,
hanya rindu yang tetap setia.
Aku menepuk kursi, menatap kekosongan,
dan tersenyum getir:
bahwa kesetiaan tak selalu membahagiakan.
117
Surat Terakhir
Aku menulis surat terakhir:
“Jika kau membaca ini, ketahuilah:
aku mencintaimu seperti manusia mencintai absurditas.”
Lalu aku menaruhnya di kotak surat,
yang bahkan malaikat lupa untuk memeriksa.
Aku tertawa pahit:
bahwa rindu tak pernah memerlukan balasan.
118
Bayangan dan Cermin
Bayangan menari di dinding,
cermin memantulkan retakan.
Aku menatap keduanya,
dan sadar:
bahwa rindu adalah seni patah yang paling indah.
119
Rindu dan Jalan Tanpa Akhir
Aku berjalan di jalan tanpa ujung,
setiap tikungan adalah bayanganmu.
Langit menggantung dengan abu senja,
dan aku menelan rasa hampa seolah-olah itu roti.
Rindu berjalan bersamaku,
menertawakan setiap langkah bodoh,
dan aku sadar:
bahwa tersesat dalam rindu lebih bermakna daripada menemukan tujuan.
120
Labirin Debu
Debu menutupi lantai kamar,
dan setiap butirnya adalah kenangan yang gagal.
Aku menghirupnya,
merasakan pahit manis kenanganmu.
Rindu adalah labirin debu yang tak bisa diterangi,
dan aku tersesat di dalamnya dengan senyum getir.
121
Simfoni Bayangan
Aku memainkan simfoni bayangan,
instrumen: angin, rintik hujan, detak jantungku.
Nada-nadanya tak terdengar,
tetapi di dalam kesunyian,
aku menemukan keindahan paling pahit:
rindu adalah musik yang hanya bisa didengar oleh jiwa yang tersiksa.
122
Filosofi Kekosongan
Aku duduk di ruang kosong,
menatap dinding, menulis namamu di udara.
Rindu hadir, berbisik:
“Kau mencari arti? Aku hanyalah kekosongan yang berpura-pura penuh.”
Aku tersenyum,
karena kekosongan ini adalah guru terbaik:
mengajarkan absurditas, kesabaran, dan ketidakmungkinan.
123
Rindu Sebagai Penyair Bodoh
Rindu menulis puisi di kepalaku,
puisi yang bodoh, panjang, dan absurd.
Aku menyalin kata demi kata,
dan tertawa getir:
bahwa kebodohan ini adalah kesetiaan paling tulus
yang pernah diberikan manusia kepada kenangan.
124
Kota Hampa
Kota yang kutinggali hampa,
lampu mati, jalan sunyi, bangunan menatapku.
Aku menulis namamu di tembok,
namun tinta menguap seiring angin.
Aku tersenyum pahit:
bahwa rindu adalah seniman yang lebih lihai daripada manusia.
125
Panggung Malam
Aku berdiri di panggung malam,
tirai: kabut, lampu: bulan, penonton: bayangan.
Aku mengekspresikan rasa sakit dalam monolog:
“Aku rindu.”
Dan keheningan memberi tepuk tangan paling jujur.
126
Kalender Kosong Lagi
Kalender menertawakan aku,
tanggal berlalu,
namun hati tetap macet di hari kepergianmu.
Aku merobek halaman,
tapi halaman baru muncul,
dan aku sadar:
rindu adalah waktu yang enggan menua.
127
Rindu Sebagai Penjara Emas
Aku menulis di dinding sel:
“Rindu adalah penjara dengan kunci emas.”
Aku memegang kunci itu,
namun pintu tetap tertutup.
Aku menertawakan diriku sendiri,
karena penjara ini lebih nyaman daripada dunia yang riuh.
128
Surat yang Tak Pernah Dibuka
Aku menulis surat kepadamu,
menaruhnya di kotak surat yang bahkan malaikat lupa.
Aku tersenyum pahit:
bahwa rindu tak butuh balasan,
cukup ada, tetap hidup, dan menertawakan manusia bodoh yang menulisnya.
129
Rindu sebagai Cermin Retak
Aku memandang cermin retak,
melihat wajahmu di setiap serpihan.
Aku tersenyum getir:
bahwa rindu adalah seni patah yang paling indah.
130
Hujan di Hati
Hujan turun, membasahi jendela dan hatiku.
Tetes demi tetes seperti kata yang tak bisa kuucapkan.
Aku menatap rindu,
yang datang seperti banjir,
mengisi kota kosong dalam dadaku.
131
Bayangan yang Setia
Bayangan menari di dinding,
mengikuti langkahku, menertawakan kebodohanku.
Aku tersenyum,
sebab bayangan lebih setia daripada manusia.
132
Teater Hidup
Aku berada di teater kehidupan,
mengulangi adegan yang sama:
menunggu yang tak pernah datang,
menulis puisi yang tak pernah dibaca.
Lampu sorot: rembulan, penonton: sunyi.
Aku menertawakan absurditas ini,
dan rindu memberi aplaus paling jujur.
133
Filosofi Air Mata
Air mata jatuh, mengalir, meresap.
Ia mengajarkan bahwa menangis adalah ilmu yang paling jujur.
Aku menangis setiap malam,
belajar sesuatu yang sia-sia,
dan tersenyum getir pada absurditas.
134
Labirin Kata
Kata-kata membentuk labirin,
dan aku tersesat di dalamnya.
Aku tersenyum pahit:
bahwa tersesat di labirin rindu
lebih mulia daripada menemukan jalan keluar.
135
Rindu Sebagai Guru
Rindu mengajarkanku absurditas hidup:
bahwa manusia bodoh, cinta kejam,
dan kesetiaan adalah kontradiksi tertinggi.
136
Matahari Hitam Lagi
Matahari hitam menyorot hati,
menyulut panas dari gelap.
Aku menatapnya,
dan sadar:
bahwa rindu adalah cahaya yang tak pernah terlihat.
137
Kota Bayangan Lagi
Kota kosong, jalan sunyi, bangunan menatap.
Aku menulis namamu di tembok,
tapi tinta menguap.
Rindu tersenyum getir:
bahwa seni patah lebih indah daripada kesempurnaan.
138
Observatorium Sunyi
Aku menatap ruang kosong melalui teleskop.
Setiap bayanganmu melintas,
meninggalkan debu kenangan.
Aku tersenyum pahit:
bahwa melihatmu tak perlu nyata,
cukuplah bayangan yang abadi.
139
Taman Rindu
Bunga tumbuh dari air mata,
angin membawa aroma kehilangan.
Setiap langkah menimbulkan gemuruh:
apakah itu tanah retak, atau rindu yang menertawakanku?
140
Surat Terakhir Lagi
Aku menulis surat terakhir:
“Aku mencintaimu seperti manusia mencintai absurditas.”
Kotak surat kosong, Tuhan lupa.
Aku tersenyum:
bahwa rindu tak pernah membutuhkan balasan.
141
Bayangan dan Cermin Lagi
Bayangan menari, cermin retak.
Aku menatap keduanya,
dan sadar:
rindu adalah seni patah yang paling indah.
142
Epilog Sementara
Aku menutup mata,
membiarkan rindu masuk,
dan sadar:
kitab ini tak bisa selesai,
rindu tak akan berhenti,
itulah absurditas yang disebut hidup.
143
Simfoni Kosong
Simfoni dimainkan tanpa alat:
angin, hujan, detak jantung.
Nada-nadanya tak terdengar,
tetapi jiwaku mendengarnya.
Rindu adalah musik yang paling jujur.
144
Patung Patah
Aku memahat patung dari kenangan,
retak, jatuh, pecah.
Namun aku memeluknya:
retakan membuatnya hidup,
seperti rindu yang tak utuh.
145
Teater Malam Terakhir
Aku berdiri di panggung malam,
tirai: kabut, lampu: bulan.
Aku mengekspresikan rasa sakit:
“Aku rindu.”
Dan keheningan memberi tepuk tangan paling jujur.
146
Kitab Ditutup, Tapi Tak Pernah Tamat
Aku ingin menutup kitab ini,
namun rindu menolak.
Ia terus menulis di margin,
mengoreksi kata demi kata,
mengajarkanku:
bahwa rindu tak membutuhkan penulis,
tidak membutuhkan pembaca,
cukup ada, tetap hidup,
dan menertawakan manusia yang menunggu.
Sumatera Barat, Indonesia,2025.