“Agung di Laut Maluku”
(Sebuah puisi tentang jiwa, laut, dan perpisahan)
Oleh Ayah Baruck
–
Maluku adalah jiwa yang menyatu,
hembus anginnya menyapa bukan dengan kata,
melainkan dengan desir yang memeluk dada,
membisikkan: “beta ada di sini, beta selalu di sini.”
Lautnya bukan sekadar air asin,
tetapi permata biru yang abadi,
cahaya yang menari di atas gelombang,
seperti nyanyian tua para datuk
yang tak pernah benar-benar selesai diucapkan.
Dan di antara semua itu,
ada satu nama yang bergaung seperti doa
Agung.
Temanku, yang namanya sendiri adalah gema dari kemurnian,
dari ketulusan yang tidak pernah berputar arah,
dari kejujuran yang berdiri tegak seperti kelapa di tepi pantai.
Agung, yang kalau tertawa,
laut pun ikut bergemuruh,
dan kalau diam,
angin pun berhenti sejenak untuk mendengarkan.
Ia senang memancing
bukan untuk menaklukkan,
melainkan untuk menyapa,
untuk berbicara dengan ikan-ikan,
dengan arus, dengan karang,
dengan sesuatu yang hanya diketahui oleh hati yang menyatu dengan laut.
Tangannya telah menyentuh air Maluku,
dan air itu mengakuinya,
“Ini dia, anak laut yang hilang dan pulang.”
Beta bilang:
“Agung itu lebih Maluku dari beta.”
Sebab di matanya ada langit Ambon,
di langkahnya ada irama totobuang,
dan di senyumnya, ada cahaya Morela.
Di sana, di kampung itu,
ia punya rumah kedua,
tempat om Cale menyalakan pelita setiap malam,
dan cerita tentang lubang buaya
bukan lagi tentang ketakutan,
melainkan tentang kasih yang terjalin antara manusia dan laut.
Beta belum pernah melihat buaya di sana,
yang beta lihat hanyalah ikan-ikan sedap
yang berenang seperti tamu undangan
datang bersilaturahmi dengan Agung,
sang penakluk ikan bubara,
penyanyi diam di bawah bulan,
penyair yang menulis dengan kail dan ombak.
Ia berdiri di tepian laut Tanimbar,
dan menyalami samudera dengan senar pancingnya.
Kailnya bukan besi biasa,
melainkan doa yang ditenun dari kesabaran.
Dan laut menjawab dengan bisikan lembut:
“Beta juga rindu akan tanganmu, Agung.”
Di Kepulauan Kei,
ia bersua dengan ikan kakap merah,
dan laut tersenyum karena mengenal jiwanya.
Di Seram, bagian barat dan timur,
ia sudah menyelamkan pandangannya ke dasar air,
melihat harta yang bukan emas,
melainkan kehidupan yang mengalir dalam biru yang tak bertepi.
Di bawah rembulan,
ia bukan hanya memegang ril,
tapi memegang kehidupan,
berbicara dengan laut dalam bahasa yang tidak lagi berupa kata.
Angin menjadi terjemahannya,
ombak menjadi jawabannya,
dan waktu, oh, waktu,
menjadi saksi bahwa pertemuan dan perpisahan
selalu menari di atas garis pasang dan surut.
Ketika mentari datang,
dan garis cahaya mulai membelah ombak,
waktu memanggil:
“Sudah saatnya, Agung.”
Dan ia tahu ,
setiap perpisahan adalah semacam titipan cinta.
Separuh jiwanya tertinggal di laut Maluku,
terapung di antara karang dan kabut asin,
menjadi nyanyian yang akan selalu terdengar
di telinga nelayan, di hati anak-anak pantai,
di jiwa setiap orang yang pernah mencintai laut.
Selamat berpisah, wahai cahaya yang Agung,
engkau bukan hilang
engkau hanya menyatu dengan tempat yang paling mencintaimu.
Di garis khatulistiwa,
akan lahir cerita Agung yang baru:
tentang laut yang tak pernah lupa nama seseorang,
tentang angin yang masih berbisik dengan lembut,
“Beta pung teman su jadi bagian dari Maluku.”
Dan di setiap ombak yang tiba di pantai,
beta tahu,
itu adalah sapaan darimu.
Karena Agung bukan hanya nama,
tapi gema dari laut biru yang abadi,
gema dari jiwa Maluku yang hidup di setiap hati
yang pernah mengenal cinta dan perpisahan
Tantui 13 Okt 2025