April 17, 2026

Cerita Pendek oleh Leni Marlina

Tanah Tazir terbelah dan berembun seperti kulit purba yang menahan napas. Retakan-retakannya menelan rahasia tetesan hujan yang pernah jatuh, menyimpan ingatan dunia yang hampir punah. Debu berkeliaran di atas tulang bumi, membentuk bayangan sungai yang tak pernah ada lagi, dan matahari—lelah menyaksikan—mencondong, malu membakar permukaan yang haus akan kehidupan.

Di daerah yang disebut Tazir, anak-anak belajar kata sungai dari cerita, bukan dari pandangan. Air telah menjadi mitos, doa yang hanya dijawab oleh keheningan. Rumah Sair berdengung di malam hari; dinding tanah liatnya bernafas bersama angin. Debu menempel di rambutnya, garam di kulitnya. Ia lahir setelah banjir terakhir, ketika langit telah lupa menangis.

“Air mendengar, Sair,” kata kakeknya dulu. “Ia mengingat setiap nama yang dibisikkan.”
Namun kakeknya terkubur di bawah tumpukan batu, di mana lumut pun menolak bertahan.

Setiap pagi, Sair menaiki tangga sumur kering di belakang masjid kecil tua. Ia menurunkan tali ke dalam kehampaan, menyentuh udara yang bergetar oleh panas, sebuah percakapan dengan ketiadaan. Malamnya, ia bermimpi sungai kembali ke langit, lautan melipat diri, dan suara bisik mengingatkan:

“Saat manusia lupa bersyukur, sungai pun berpaling.”

Di Tazir, bahkan kesunyian pun mengalami dahaga. Warga berdoa tanpa wudhu, mengubur orang mati dengan debu, minum air dengan kelembapan napas sendiri. Namun di bawah kulit tanah yang menganga seperti retakan hati dunia, sesuatu yang kuno menunggu—tak mati, hanya sabar.

Suatu pagi, angin berbelok. Dengungan lembut muncul, seperti detak jantung bumi yang menunggu diingat.

Di bukit utara, Sair menemukan fragmen setengah terkubur di bawah batu datar, bersinar seperti pecahan cahaya bulan yang terperangkap. Huruf-huruf itu hidup, berdenyut di telapak tangannya.

“Kau telah ditemukan,” bisik suara dalam dada.

Tanah bergetar. Sebuah retakan terbuka, dan hawa sejuk keluar—basah seperti memori yang terlupakan. Sair berlutut. Ia merasakan sensasi yang lama ia kira punah: kebenaran lembut dari air.

Malam itu, suara kembali, lebih tua dan akrab:

“Tak semua dahaga datang dari mulut. Tak semua kekeringan berasal dari tanah.”

Sair menatap bintang-bintang, berbisik:
“Jika kau mengingatku, aku akan mengingatmu.”

Di bawahnya, tanah berdetak—lambat, dalam. Sesuatu yang kuno mulai bergerak. Setetes air muncul, menggantung antara tanah dan cahaya, ragu apakah jatuh atau tidak.

Sair meninggalkan desa sebelum fajar, berjalan di jalan yang terbentang seperti bekas luka pucat melintasi lembah. Di bawah pohon kering, ia bertemu seorang wanita dengan benang perak yang berkilau, dikelilingi ribuan guci berisi debu emas.

“Apakah kau mencari air?”
“Aku mencari apa yang diingat air,” jawab Sair.
“Maka kau mencari apa yang dilupakan manusia.”

Ia menyentuh guci itu. Bau uang dan kesedihan menyeruak.

“Keyakinan tak dapat melelehkan keserakahan,” bisiknya.
“Maka kau akan mati kehausan.”
“Mungkin,” kata Sair, “tapi tidak hampa.”

Lebih jauh, di tepi dataran garam, seorang anak memeluk botol pecah berisi setetes embun.

“Simpanlah,” kata Sair. “Suatu hari kau akan ingat bahwa hal-hal kecil pun bisa tetap hidup.”

Malam menutup cakrawala merah. Sair berbicara untuk pertama kali dengan lantang:
“Jika air dapat mengingat, apa yang kuingat untuknya?”

Angin tak menjawab. Namun di bawah tubuhnya, bumi berdetak—detak lambat yang membangunkan memori kuno.

Lembah Tazir kini bukan lembah lagi. Ia adalah luka, hitam dan hening. Setiap suara mati sebelum menyentuh dasar. Fragmen berdenyut, terang seperti bintang jatuh. Dengungan menyatu dengan tulang bumi. Lalu terdengar suara, dari tanah, dari darah, dari sumsum:

“Kau membawa ayat terakhir.”
“Ayat apa?”
“Yang tertanam dalam dirimu sebelum lahir. Tanah ini dibungkam karena manusia berhenti mendengar. Mereka menginginkan hujan tanpa penghormatan, sungai tanpa refleksi.”

Sair menekan fragmen itu ke tanah. Bumi bergetar, cahaya menembus retakan. Dari luka yang bergetar, mata air muncul—jernih, dingin, hidup.

Ia menadahnya dengan tangan. Pengampunan mengalir di lidahnya. Awan berkumpul. Udara terasa tak terbatas.

Bayangan bergerak—penduduk, tentara, orang asing—mata mereka penuh kepemilikan.

“Sembunyikan diri jika mereka datang dalam kelaparan,” bisik Sair. Mata air menuruti, tenggelam ke dalam tanah. Lembah kembali hening. Guntur bergulung untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.

Hujan jatuh, lembut, terus-menerus. Orang-orang menadah tangan, bukan karena syukur, tapi tergesa-gesa. Bumi menjadi cermin: wajah memantulkan dahaga, ketakutan, keserakahan, kesepian. Hati tetaplah padang pasir.

Sair terbaring dekat sumber. Darah bercampur air, membentuk aliran kecil merah. Matanya setengah terbuka, menunjukkan ketenangan—seakan ia telah melihat melampaui pandangan manusia.

Air berbicara tanpa suara:
“Aku bukan untuk dijual. Aku datang untuk membersihkan, bukan dimiliki.”

Satu per satu, manusia mulai melihat bayangan diri: anak-anak yang ditinggalkan, janji yang dilanggar, doa tanpa makna. Beberapa menjerit, beberapa menangis, beberapa mencoba menghancurkannya—tapi air tetap bertahan.

Cahaya lembut tumbuh dari dada Sair, menyebar melalui tanah, menyatu dengan air. Tunas pertama muncul—daun hijau-biru, pertemuan langit dan laut.

Anak-anak berhenti menangis. Para tetua menunduk, akhirnya mengerti: berkah lahir bukan dari kepemilikan, tapi dari kehilangan yang diterima dengan lapang.

Pagi itu, lembah Tazir berubah menjadi taman air. Sungai mengalir, pohon tumbuh, udara terasa baru—seakan dunia dilahirkan kembali dari doa.

Namun Sair lenyap. Hanya sebuah batu kecil tersisa di tepi mata air, bertuliskan samar:

“Kekeringan bukan di langit, tapi di hati.”

Sejak hari itu, warga Tazir menadah hujan, berbisik:
“Basahi kami—bukan tubuh kami, tapi jiwa kami yang tandus.”

Dan setiap kali hujan turun, mereka mengingat: air ini pernah membawa jejak seorang manusia tulus—pengorbanan—pengingat bahwa luka yang diterima dengan hati terbuka dapat menumbuhkan harapan, kasih, dan kemanusiaan. Air itu bukan sekadar diminum, tapi disyukuri, diwariskan dari hati ke hati—sebuah pelajaran bahwa kemanusiaan lahir dari keberanian menerima luka, dan cinta tumbuh dari kesadaran akan kekeringan dalam diri sendiri.

(Melbourne – Australia, 2012 & Padang – Indonesia, 2025)

Versi bahasa Inggris cerpen di atas dapat diakses publik melalui link official di bawah ini:

SEARCHING FOR WATER IN THE LAND OF TAZIR