April 17, 2026

“Anak Negeri di Lembah Perjuangan”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar)

leni ngeri awan

Ilustrasi Kumpulan Puisi Leni Marlina "Anak Negeri di Lembah Perjuangan". Sumber Gambar: Starcom Indonesia Artworks No. 925-15 (Assisted by AI).

/1/

Anak Negeri di Lembah Perjuangan

Puisi: Leni Marlina

Di bawah langit yang seolah terbelah,
kami bagaikan titik-titik debu
yang terhisap oleh hujan yang terpaksa berhenti.

Puncak gunung Jayawijaya berbicara pada kami
dalam bahasa magma yang terlupakan,
suaranya bersahutan dengan takdir yang tak kasat mata.

Kami, anak-anak yang lahir dari bara tambang emas,
berlari dengan kaki telanjang,
melangkah di atas tanah yang berlobang,
bermain dengan bayangan yang tak bisa dijangkau.

Kami seolah menjadi serpihan api
yang mendirikan rumah-rumah dari tanah liat,
mempersiapkan masa depan depan dengan tangan yang masih kotor di lumpur tambang,
mencetak jejak tak kasat mata,
seperti hujan yang tiba-tiba datang dan pergi begitu saja.

Kami sekarang bangkit,
perjuangkan dan rebut kembali apa yang menjadi hak milik kami,
yang sempat mereka ambil paksa.

Jakarta, 2004

/2/

Di Tanah yang Tak Pernah Tidur

Puisi : Leni Marlina

Bawa kami ke tanah yang tak pernah tidur,
ke pantai yang melawan waktu,
di mana laut dan langit berperang di setiap detiknya,
di antara hutan Sumatra, hutan Kalimantan,
hutan Jawa,
hutan Sulawesi,
hutan Papua,
semua hutan di nusantara,
yang terbakar oleh kemarahan
dan lembah-lembah yang terlupakan.

Kami berlari, menerjang zaman yang seolah menghayutkan diri ,
kami berjalan dengan kaki yang tidak mengenal lelah,
meski tubuh kami ini bagaikan tanah yang pecah dan berserakan.

Kami adalah anak-anak yang menulis sejarah dengan keringat,
dengan darah yang berwarna seperti tanah
yang dilapisi oleh kerikil yang rapuh.

Di tanah yang tak tidur,
kami mimpikan terbang bebas,
melintasi langit yang penuh debu dan angin,
melewati cuaca panas dan dingin,
mencapai apa yang kami ingin,
untuk martabat anak bangsa sekarang dan di masa depan.

Jakarta, 2004

/3/

Senja di Kampung Halaman

Puisi: Leni Marlina

Di balik senja yang tersisa,
kami bagaikan bayangan yang dilupakan,
tertelan oleh riak sungai yang terus bergulir.

Kampung halaman berbisik tentang masa lalu yang terlupakan,
menghantarkan rasa rindu yang tumpah tanpa suara.

Di sini, di tanah yang dipenuhi wangi rerumputan,
kami mengenang tangan ibu yang tak pernah letih
menenun kain impian,
dari benang-benang perlawanan.

Kami adalah anak-anak negeri yang bercahaya
meski kami hanya cahaya yang terlupakan,
karena kami, seperti senja, selalu menghilang
dan kembali lagi,
mengisi ruang yang masih kosong,
tapi kami anak negeri yang tak mau tunduk terhadap omong kosong,
tak mau tuntuk kepada mereka yang sombong dan bohong,
tak kan mau mencuri senja meskipun sepotong,
kami kan selalu mengamakan senja yang jujur dan indah dalam ingatan.

Jakarta, 2004

/4/

Nenek Moyang Kami Pelaut dan Pahlawan

Puisi: Leni Marlina

Di laut yang tak mengenal lelah,
kami bagaikan ikan-ikan yang melawan arus,
bersembunyi di balik ombak yang seolah menelan langit.

Sulawesi dan Maluku saat itu bagai tanah yang tenggelam dalam debu sejarah,
berbisik pada kami dengan suara laut yang melantunkan lagu sedih dan juga lagu perjuangan.

Kami, anak-anak yang mengapung di atas air,
mengambil napas dari ruang yang sempit.

Kami tahu, setiap tetes air di sini adalah kebebasan yang didapatkan setelah bertarung melawan badai penjajahan.

Kami bagaikan jejak yang hilang di antara ombak,
di balik hempasan gelombang,
tapi jangan salah kira,
kami terus belajar untuk bertahan,
semangat kami kami takkan surut,
kami tahu pasti nenek moyang kami tak hanya pelaut,
tapi juga para pahlawan,
maka kehidupan ini akan kami perjuangkan.

Jakarta, 2004

/5/

Anak Negeri, Penerus Cita-Cita

Puisi: Leni Marlina

Kami adalah para pemimpi
yang terbang di antara pulau-pulau yang terpisah.
Bali, dengan panas yang membakar kulit kami,
memberi kami sayap yang terbuat dari batu.
Kami adalah api yang membakar
tanpa takut akan padam.
Kami berjalan di atas pasir yang berubah
seperti takdir yang tak pernah tetap.
Kami adalah anak-anak yang lahir
dari tanah yang melawan angin,
menanam benih-benih impian yang tak akan layu,
meski badai menghempaskan.

Jakarta, 2004

/6/

Jejak Kaki di Bukit Barisan

Puisi: Leni Marlina

Kami bagaikan jejak yang terkubur di tanah,
menguji batas alam yang terbentang.

Bukit Barisan, dengan napasnya yang tertahan,
berkata pada kami bahwa tidak ada yang lebih berani
selain melawan tirani sampai ke ujung.

Kami berjalan di atas tanah yang rapuh,
membawa beban yang lebih berat dari batu,
dan melangkah dengan kaki yang dipenuhi debu.

Kami, anak-anak yang lahir dari waktu yang tak benar-benar pulih,
menjadi batu yang dibentuk oleh air,
berkata pada dunia bahwa kami tetap kuat berdiri.

Jakarta, 2004

/7/

Anak Negeri di Tengah Kota

Puisi: Leni Marlina

Kota ini adalah labirin,
dengan jalan-jalan yang berkelok seperti arus darah.

Kami, anak negeri yang terpisah oleh dinding,
berjalan di atas beton yang membara,
melawan angin yang tak mengerti kata lelah.

Jakarta, tempat di mana setiap langkah adalah suara
yang bersaing dengan gemuruh mesin.

Kami adalah suara yang tercecer,
mencari makna di antara tumpukan harapan yang hilang.

Kami tahu, tanah ini adalah milik kami,
meski kami berjalan tanpa bayangan,
karena kami, anak-anak negeri ini,
tak akan berhenti mencari tempat kami di dunia ini.

Jakarta, 2004

/8/

Di Pagi yang Penuh Harapan

Puisi: Leni Marlina

Pagi di sini adalah darah yang mengalir
di antara lembah-lembah yang terlupakan.

Bromo, dengan asapmu yang membumbung tinggi,
menghantarkan kami ke dunia yang lain,
di mana harapan adalah api yang tidak boleh padam.

Kami, anak-anak yang dilahirkan dari tanah ini,
terus mencari keajaiban dalam tiap hembusan angin.

Kami berjalan dengan kaki yang dipenuhi kabut,
berharap bahwa langit tak lagi menjadi musuh,
karena di bawah kaki kami,
kami tahu kami akan menemukan dunia yang baru.

Jakarta, 2004

/9/

Dalam Diam Dunia, Kami Berbicara

Puisi: Leni Marlina

Di dalam diam dunia,
kami menyimpan kata-kata, berbicara kepada retakan bumi.

Kami berbicara lewat luka yang tak bisa dilihat,
melalui langit yang selalu berubah.

Kalimantan, tanah yang berbisik tentang hutan
yang terus merangkak maju,
seperti kami yang berlari tanpa arah.

Kami adalah suara yang terdalam,
tertanam di dalam tanah yang tidak pernah berhenti bernafas.
Kami berbicara melalui setiap detik yang hilang,
dengan harapan yang tidak akan pernah berkurang.

Dalam diam dunia,
tentang hilangnya sepetak demi sepetak hutan rimba, kami akan terus bersuara.

Jakarta, 2004

/11/

Rindu dan Perjuangan

Puisi: Leni Marlina

Kami bagaikan rindu yang terhempas oleh waktu,
terbawa oleh angin yang tak tahu arah.

Kami adalah perjuangan yang tidak terlihat,
seperti butiran pasir di Pantai Padang yang terhempas.

Rindu di sini bagai api yang membakar batu,
kami tahu, di balik lautan,
ada tanah yang menunggu.

Kami adalah anak-anak yang terus melangkah,
menemukan arti hidup dalam butiran pasir
yang terperangkap di kaki kami,
karena kami tahu,
kami adalah anak negeri yang tak pernah menyerah,
meski dunia menguji kami.

Padang, Sumbar, 2013

——-

Biografi Singkat

Kumpulan puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina tahun 2004. Puisi tersebut direvisi kembali 21 tahun kemudian serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni juga merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital/ kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)