BERDIRI DI SAMPING YANG TERPINGGIRKAN
Herry Tjahjono
–
JAKARTA – suaraanaknegerinews.com | Di negeri ini, minoritas sering kali hidup seperti berjalan di tepi jurang – selangkah saja salah melangkah, bisa terjatuh ke dalamnya. Bukan karena kesalahan mereka sendiri, tapi karena sistem yang dingin dan masyarakat yang mudah lupa bahwa keadilan mestinya berlaku untuk semua.
Sebuah gereja di Cianjur terancam disita, alasan hukumnya jelas: sengketa utang, masalah administratif. Memang bukan soal intoleransi, tapi luka yang terasa tetaplah sama – ketakutan kehilangan rumah ibadah, rasa terasing di tanah sendiri.
Di saat banyak pejabat memilih aman, menjaga jarak dari kasus yang dianggap sensitif, Dedi Mulyadi – terlepas dari berbagai kelemahan dan kontroversinya – melangkah mendekat. Ia tidak menjadi penjamin formal, pun tidak menebus utang sendirian. Dedi menjadi jembatan – menggalang dukungan, membuka pintu pengadilan untuk penundaan eksekusi, memberi waktu agar jemaat bisa menyelamatkan apa yang mereka cintai.
Keberpihakan seperti ini semakin jarang di negeri ini. Sebab berpihak pada yang sering didera ketidakadilan bukanlah sekadar soal politik, tapi soal hati yang bersedia menanggung risiko. Dedi mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang kesediaan berdiri di samping yang lemah, bahkan ketika itu tidak populer.
Sebab di mata sejarah, yang diingat bukanlah mereka yang sibuk menjaga citra, melainkan mereka yang menjaga rasa. Dan rasa itu menyayat hati sang pendeta, yang meneteskan air mata, sesenggukan, serta merundukkan kepala di hadapan Dedi Mulyadi.
Yang terindah dari kejadian itu bukan hanya kepedulian dan keberpihakan Dedi sebagai pemimpin, tapi juga saudara-saudara Muslim (lihat kolom komentar). Di balik awan gelap intoleransi negeri ini, tetap ada sinar mentari yang menembus.