DTSEN: Senjata Baru Kepulauan Tanimbar Memutus Rantai Kemiskinan
Oleh : joko
Dari Kantor Dinas Sosial Hingga Desa Terkecil: Perjuangan Memurnikan Data Sosial di Kepulauan Tanimbar, Strategi Menyalurkan Bantuan Tepat Sasaran.
Ketika Data Menjadi Nyawa Program Bantuan Sosial, Harapan Baru dari Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional, menghadirkan Akurasi di Tengah Lautan Kepulauan, dari Musyawarah Desa Hingga Internet Desa, Semua Bergerak.
http://suaraanaknegerinews.com | Senin, 11 Agustus 2025, udara Saumlaki masih mengandung aroma angin sejuk yang diantar angin dari pesisir. Di sebuah ruangan di Jalan Ir. Soekarno, suasana pagi beradu dengan tumpukan dokumen di meja kayu besar. Di sanalah, Yongky Souisa, S.STP, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kepulauan Tanimbar, menyambut kami.
Matanya tajam namun penuh kesungguhan saat mulai bercerita tentang sebuah sistem yang diyakininya akan mengubah cara daerah ini menyalurkan bantuan: Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Untuk DTSEN di Kepulauan Tanimbar, kami sudah lakukan pendampingan dan sosialisasi di 10 kecamatan,” ujarnya sambil merapikan map berisi lembar-lembar sosialisasi.
“Lewat kepala desa dan operator desa, kami harap mereka bisa efektif memutakhirkan data, supaya tepat sasaran dan efisien digunakan.”Sambungnya.

Data yang Hidup, Bukan Statis
Bagi Yongky, DTSEN bukan sekadar daftar angka. Ia adalah “data yang hidup” dinamis, selalu berubah mengikuti kehidupan warga.
“Misalnya, ada keluarga yang dulunya menganggur lalu dapat pekerjaan, datanya akan dikoreksi. Itu bisa lewat aplikasi Cek Bansos, pemerintah desa, atau langsung ke kami,” jelasnya.
DTSEN, menurutnya, bekerja dengan dua indikator besar: individu dan keluarga. Nomor Induk Kependudukan (NIK) menjadi kunci. Dari situ, terlihat pekerjaan, kondisi fisik, hingga tingkat keterbatasan sosial.
Setiap desa diminta melakukan musyawarah, menetapkan siapa yang layak dan tidak layak menerima bantuan, dan membuat pernyataan tanggung jawab mutlak.
Memerangi KKN dan Salah Sasaran
Tidak jarang, di lapangan, intervensi nepotisme atau kedekatan keluarga memengaruhi daftar penerima bantuan. Yongky yakin, dengan DTSEN, kartu keluarga menjadi bukti yang mengikis celah itu. “Kita bisa lihat secara objektif. Tidak ada lagi bantuan karena ‘kedekatan’,” tegasnya.
Di balik konsepnya, DTSEN adalah integrasi dari DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial), Regsosek (Registrasi Sosial Ekonomi), dan P3KE (Perencanaan Perlindungan dan Pemberdayaan Ekonomi). Data itu digabung menjadi satu basis rujukan, meminimalkan kesalahan inklusi (orang yang tidak layak menerima tapi mendapat bantuan) dan eksklusi (orang layak yang terlewat).

Internet sebagai Jalan Pintas Akurasi
Tak hanya data, Yongky menyoroti peran internet desa. Ia memuji program Bupati dan Wakil Bupati yang menghadirkan internet lewat pengadaan Starlink di setiap desa.
“Sekarang semua berbasis aplikasi. Kalau internet ada di desa, pembaruan data akan sangat cepat,” katanya sambil mengetuk meja, seolah menegaskan urgensi itu.
Menembus Angka, Menyentuh Manusia
Di papan presentasi, terpampang skema desil, pemeringkatan kesejahteraan dari 1 (miskin ekstrem) hingga 10 (kaya). Dari sanalah bantuan diarahkan.
“Target kita bukan lagi global, tapi by name, by address. Semua jelas, terukur, dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Yongky.
Data tahap kedua penyaluran bantuan sosial sudah berbasis DTSEN. Meski masih ada kekurangan, Yongky optimis, dalam waktu dekat, sistem ini akan mempercepat penghapusan kemiskinan di Kepulauan Tanimbar.
Pesan Terakhir: Bergerak Bersama
Menutup pembicaraan, Yongky mengajak semua pihak bergerak. “RT, RW, pemerintah desa, semua tahu siapa yang layak dan tidak. Kalau kita bergerak bersama, data ini cepat selesai, bantuan tepat sasaran, dan kemiskinan bisa kita tekan,” tuturnya dengan nada penuh keyakinan.
Di luar ruangannya, suara angin Tanimbar terus bertiup. Barangkali, sama seperti tiupan itu, perubahan yang dibawa DTSEN akan terus menggerus batu-batu masalah kemiskinan, sedikit demi sedikit, hingga suatu hari nanti, tak ada lagi warga yang tercecer dari haknya.