April 18, 2026
Oleh Petrus Peter Saiya

Nama beta Nia. Orang pasti punya pikiran, beta ini perempuan murahan, jalang, hidop di jalan malam. Tapi seng ada yang tahu, beta cuma anak kecil yang pernah hilang pelukan. Waktu beta masih kecil, mama deng bapa baku ribut tiap malam. Beta menangis di kamar, tapi seng ada yang datang peluk. Satu malam bapa pukul mama, lalu dia tinggalkan rumah—dan seng pernah balik. Mama tinggal sendiri, dan beta rasa mama pun seng sayang lagi. Dia kerja terus, muka keras, dan suara dingin tiap kali bicara. Beta seperti seorang anak yang kehilangan induk, tanpa pelukan, tanpa kasih sayang dari orang tua, hanya sakit hati yang mengantar dalam masa pertumbuhan.

Beta tumbuh dengan hati kosong. Beta rasa tara berharga. Lalu suatu hari, waktu masih SMA, ada satu laki-laki tua bilang, “ade nona manis. Nona butuh uang? Beta bisa bantu.” Dari situ beta mulai jual diri. Awalnya takut, tapi setelah itu… beta rasa ada yang peluk, walaupun cuma sebentar, walaupun palsu. Pelukan buaya darat, penuh napsu dan gairah, beta pung sudut pandang kacao balau, dimanakah pelukan sejati itu, beta su jauh dari keluaga. Tahun-tahun lewat, beta makin dalam di jalan itu.

Klien datang dan pergi. Tubuh ini dipakai, tapi hati tetap kosong. Sampai satu malam, beta pingsan di lorong belakang hotel. Orang-orang pikir beta mabuk. Tapi ternyata, beta sakit—sakit parah. Dokter bilang beta kena penyakit menular, sudah parah dan nyaris telat. Beta antara sadar deng seng sadar, seperti mimpi, dalam mimpi beta seperti melihat ada pelukan hangat, maso sampe di beta pung hati yang paleng dalam, ada kaya rasa tanang deng damai bagitu.

Di rumah sakit, sondor ada satu orang pun yang datang jenguk. Beta sendirian, menangis tiap malam. Di situ, satu suster tua, Suster Lian, tiap hari datang lap beta pung muka, kasih makan, dan duduk diam-diam saja di samping. Satu malam dia pegang tangan beta dan bilang, “Beta seng tahu luka apa yang nona bawa, tapi beta tahu Tuhan seng pernah tinggalkan ale nona.” Suster itu polo beta, dari situ, beta rasa tenang, beta rasa bahagia, beta jadi inga deng waktu beta pinsan dan seperti mimpi, rupanya inilah tangan Tuhan lewat Suster Lian. Beta menangis sampe seng bisa bicara. Rasa sakit di tubuh, seng seberapa dibanding luka di hati yang lama beta simpan.

Habis keluar dari rumah sakit, beta putuskan berhenti. Beta tinggal di rumah singgah, bantu jaga anak-anak kecil yang ditelantarkan. Beta ajar mereka baca, menyanyi, dan paling penting—peluk mereka tiap hari. Sekarang, tiap kali beta peluk satu anak, beta rasa beta sembuh sedikit demi sedikit. Karena beta akhirnya tahu, pelukan sejati bukan datang dari siapa yang bayar, tapi dari siapa yang sungguh peduli.

Kolaborasi antara chatgbt dan ayah baruk