“BUNGA MATAHARI”
Antologi Romantik Sufi
by: Rizal Tanjung
—
I — Bunga yang Menatap Matahari
Aku tumbuh di padang ilalang,
di antara duri dan tanah retak,
di mana angin lebih sering membawa luka
daripada kabar dari langit.
Namun setiap pagi,
aku menengadah ke matahari,
seperti seorang kekasih
yang tak pernah letih menunggu senyum Tuhannya.
Wajahku terbakar oleh cahaya,
tapi jiwaku menjadi terang.
Karena cinta bukan tentang tempat tumbuh,
melainkan tentang kepada siapa kita menengadah.
—
II — Zikir di Tengah Angin
Aku berzikir pada angin,
setiap hembusnya menyebut nama-Nya,
membelai daun-daun sunyi,
membawa kabar bahwa cinta tak pernah mati.
Di antara desir dan desau,
aku mendengar bait kalam,
seolah setiap hembusan adalah ayat
yang dibisikkan langsung ke jantungku.
—
III — Surat Cinta dari Cahaya
Mentari menulis surat padaku
dengan tinta sinar dan debu waktu.
Ia berkata:
“Cintamu kepada-Nya bukanlah pelarian,
tapi pulang yang paling suci.”
Dan aku pun bersujud dalam kelopak,
membaca firman dari cahaya,
menangis seperti embun
yang tak ingin jatuh selain ke bumi sujud.
—
IV — Ilalang yang Menyaksikan
Ilalang menertawakanku,
katanya, “Engkau hanya bunga liar,
mengharap langit yang tak mungkin kau jangkau.”
Tapi aku menjawab,
“Langit bukan untuk digenggam,
melainkan untuk ditatap dengan cinta.”
Dan di situlah letak kesetiaan —
memandang tanpa meminta,
menunggu tanpa kecewa,
mencinta tanpa syarat selain nama-Nya.
—
V — Madrasah di Hening Senja
Di senja hari, aku belajar pada bayangan,
tentang fana dan cahaya,
tentang waktu yang mencair dalam zikir.
Aku tahu, setiap daun yang gugur
adalah ayat yang membaca dirinya sendiri.
Dan cinta adalah guru
yang mengajarkan bagaimana melepaskan.
—
VI — Taman Ilmu, Taman Cinta
Aku berlari menuju taman-taman ilmu,
tempat setiap kata adalah kelopak surga.
Di sana, para jiwa berzikir bersama,
dan aroma pengetahuan menyeruak
seperti parfum rahmat dari langit.
Aku duduk di antara mereka
yang haus akan makna,
dan menemukan:
bahwa cinta sejati adalah belajar
tanpa henti tentang Tuhan.
—
VII — Rindu yang Menjadi Doa
Aku merindukan-Mu,
seperti bunga yang merindukan matahari
setelah malam panjang.
Rinduku bukan air mata,
tapi doa yang menetes di antara akar,
menyuburkan iman yang pernah layu.
Dan dalam rindu itu,
aku mendengar-Mu berkata lembut:
“Datanglah, sebelum cahaya hilang dari pandang.”
—
VIII — Jalan Lurus di Tengah Padang
Padang ini penuh duri,
namun aku memilih untuk tetap menapak.
Setiap luka di kakiku
adalah tanda cinta, bukan nestapa.
Aku berjalan bersama bayanganku,
mengikuti cahaya ayat yang terbit di dada,
berpegang pada tali-Nya,
seperti ranting yang tak ingin lepas dari batang tauhid.
—
IX — Ketika Dunia Menolak
Dunia menolakku,
tapi langit menerimaku tanpa syarat.
Mereka berkata, aku hanya bunga kecil
di tengah kerasnya bebatuan.
Namun aku tahu,
bahkan batu pun bisa menjadi sajadah
bagi yang bersujud dengan cinta.
—
X — Syair Cinta di Ujung Malam
Malam datang seperti selimut kasih,
menutup luka siang dengan cahaya rahasia.
Aku berbicara pada bintang,
mereka menjawab dengan diam.
Dan dalam diam itu, aku tahu:
bahwa seluruh alam sedang sujud,
menyebut nama-Nya bersama getar hatiku.
—
XI — Tetes Embun dan Air Mata
Pagi datang membawa embun —
aku tahu, itu bukan sekadar air,
tapi air mata malaikat
yang jatuh untuk menyucikan bumi.
Aku pun menangis bersama mereka,
karena cinta sejati selalu mengandung tangis,
dan tangis sejati selalu menuju-Nya.
—
XII — Cinta adalah Sujud yang Panjang
Aku sujud lama sekali,
hingga tubuhku menjadi tanah,
dan ruhku menjadi cahaya.
Dalam sujud itu aku temukan
wajah Kekasih sejati:
tak berwajah, tak bersuara,
tapi terasa di setiap denyut nafas.
—
XIII — Mimpi di Taman Rahasia
Aku bermimpi berjalan di taman cahaya,
di mana bunga-bunga bershalawat,
dan kupu-kupu mengaji.
Setiap aroma adalah doa,
setiap warna adalah makna.
Di sana, cinta tak lagi bernama,
karena segalanya telah larut
dalam satu Nama: Allah.
—
XIV — Nafas yang Menyebut-Nya
Setiap nafas adalah tasbih,
setiap detak adalah dzikir,
setiap hela adalah cinta yang menetes dari Arasy.
Aku hidup karena menyebut-Nya,
dan jika berhenti,
biarlah aku mati dalam sebutan itu.
—
XV — Kesunyian yang Bersujud
Aku belajar dari kesunyian:
bahwa diam adalah bahasa para wali,
dan sunyi adalah rumah cinta sejati.
Dalam diam, aku mendengar
desau semesta yang memuji.
Dan aku pun ikut di dalamnya —
tak terlihat, tapi hadir di hati-Nya.
—
XVI — Ziarah ke Dalam Diri
Aku menziarahi diriku sendiri,
kubur keakuan, tanamkan kesombongan.
Di atas tanah hatiku,
tumbuh bunga rendah hati
yang selalu menengadah pada Rahmat.
—
XVII — Cahaya yang Pulang
Cahaya yang menyinariku ternyata bukan asing —
ia adalah diriku yang pernah lupa,
lalu kembali mengingat.
Dan aku tersenyum pada mentari:
“Ternyata Engkau bukan datang dari luar,
tapi dari dalam — tempat rahasia
yang bernama cinta Ilahi.”
—
XVIII — Waktu Menjadi Zikir
Waktu berjalan bukan untuk menua,
tapi untuk mengajar:
bahwa setiap detik adalah seruan,
setiap jam adalah kesempatan mencinta-Nya.
—
XIX — Bunga yang Tak Layu
Aku kini tahu,
bunga yang menengadah ke langit
tak pernah benar-benar layu —
karena cinta membuatnya abadi.
Meski kelopak gugur,
ruh tetap mekar,
dan di taman langit,
aku akan tumbuh kembali,
memandang wajah Kekasih sejati.
—
XX — Ridha: Puncak Semua Cinta
Kini aku terbang bersama angin,
berdamping dengan elang,
membawa seluruh harapan ke arah cahaya.
Aku tak lagi mencari balasan,
karena cinta sejati adalah ridha.
Dan dalam ridha itulah,
aku lenyap —
menjadi satu dengan yang kucinta:
Dia yang tak berjarak,
tapi selalu menjadi arah.
—
Sumatera Barat, Indonesia, 2024.