April 18, 2026
tanjung cinta dalam pelukan senja

Oleh: Rizal Tanjung

di tepian pantai momuna, kita adalah sepasang bayang,
tersaput cahaya jingga yang terpantul di permukaan air,
langit terbakar rindu, membisikkan nyanyian rahasia,
sedang laut memeluk segala jejak yang kita tinggalkan.

I
senja ini, aku melihatmu dalam bias keemasan,
matamu menangkap cahaya yang menari di ombak,
senyummu—seperti angin yang lembut membelai,
menyusup dalam dadaku, menetap di relung hati.

II
kau dan aku, berjalan di batas air dan pasir,
jejak kaki kita beriringan, terhapus lalu kembali,
seperti rindu yang datang dan pergi,
namun tak pernah benar-benar meninggalkan hati.

III
di kejauhan, burung-burung pulang ke sarang,
seperti hatiku yang selalu pulang padamu,
tak peduli berapa kali ombak memisahkan pasir,
cinta kita tetap terukir di pantai ini, di senja ini.

IV
kita duduk di tepian, mendengar laut berbisik,
gelombang yang datang seperti pesan tak terucap,
aku ingin menahan waktu, mengunci senja dalam genggaman,
agar cinta kita tetap berpijar dalam cahaya yang sama.

V
saat matahari tenggelam, kau bersandar di pundakku,
sehangat cahaya terakhir yang jatuh di ufuk,
dan aku tahu, meski malam datang menggantikan,
esok cinta kita akan kembali terbit bersama mentari.

VI
di pantai momuna, senja bukan sekadar perpisahan,
ia adalah janji, bahwa cinta ini tak akan padam,
seperti lautan yang terus bernapas,
dan langit yang tak pernah lelah menyulam warna.

VII
maka, genggamlah tanganku, jangan lepaskan,
biarkan kita menjadi kisah yang tertulis di pasir,
yang meski disapu ombak berkali-kali,
akan tetap hidup dalam setiap debur ombaknya.

2025