April 18, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

Kekasih yang tak pernah kupeluk,
namamu adalah bisik di antara guguran embun,
mengalir lirih dalam senandung malam,
seperti doa yang tak selesai dikirimkan langit
kepada bintang yang lupa kembali.

Aku mencintaimu dalam senyap,
seperti akar mencintai air—
tanpa pernah terlihat, tapi selalu setia mengalir
ke dalam setiap serat hidupku.
Kau adalah musim yang tak pernah datang,
tapi selalu kurindukan dalam setiap harap pagi.

Wajahmu hadir di sela napasku,
serupa bayangan yang terpantul di danau tenang,
tak bisa kusentuh,
tapi cukup untuk membuat jantungku bergetar.
Setiap malam aku menjahit namamu
di antara bintang dan kerlip doa,
berharap satu di antaranya jatuh—membawa rinduku
menuju hatimu.

Cinta ini bukan puisi yang ditulis di kertas,
melainkan ukiran sunyi di dada
yang tak bisa dibaca siapa pun—
kecuali angin yang setiap hari membelainya dengan kabar,
tentangmu.

Aku mencintaimu dengan cara yang tak biasa.
Bukan dengan tangan yang menggenggam,
tapi dengan tatapan yang diam-diam mencari
setiap kali kau melintas seperti waktu.
Aku menyebutmu dalam diam,
karena suara terlalu berisik untuk cinta
yang tumbuh dari keheningan.

Kau adalah hujan di padang ilalang—
tak datang sering, tapi cukup untuk membuat
jiwaku mekar dalam kerinduan.
Aku adalah langit tanpa warna,
yang hanya bersinar saat bayangmu datang
membawa terang dari ujung ingatan.

Aku tahu, cinta ini tak punya kaki untuk berlari,
tak punya tangan untuk memeluk.
Ia hanya punya hati,
dan hati, meski rapuh, tak pernah bohong
pada getar yang terus menyebut namamu.

Kau adalah negeri yang tak pernah kukunjungi,
tapi peta hatiku penuh oleh jalan-jalan
menuju bayangmu.
Setiap simpang, setiap tikungan,
selalu berujung pada perasaan yang tak sempat
diucapkan waktu.

Di dalam angan-anganku, kau tinggal.
Di sana kau tersenyum padaku,
menyebut namaku tanpa ragu,
dan aku percaya—di dimensi yang tak bisa digapai
oleh logika atau jarak—
kau pun merasakannya.

Mungkin cinta ini seperti bintang jatuh,
yang hanya ada sekejap di langit malam,
tapi menyimpan harapan seumur hidup
di hati yang menatapnya.

Dan jika suatu hari semesta memberi kita satu waktu,
satu tatap, satu sentuh,
aku akan menggenggam tanganmu,
dan membisikkan seluruh puisi ini
yang selama ini hanya hidup
dalam angan-angan.

Sumatera Barat, 2025