Dunia Katak di Nyamplungan
Yusufachmad Bilintentin
Prolog: Katak, Imaji, dan Cinta yang Tak Terlarang
Di tengah riuhnya dunia yang gemar melabeli dan menghakimi, lahirlah seekor katak dari tanah liat Nyamplungan—makhluk kecil yang menolak tunduk pada stigma. Ia bersahabat dengan anjing, serigala, dan babi; bukan karena tak tahu aturan, tapi karena tahu bahwa cinta dan persahabatan tak bisa dibatasi oleh kata “najis” atau “haram” yang digariskan manusia.
Puisi ini bukan sekadar suara seekor katak. Ia adalah suara dari Surabaya yang menembus batas tafsir, menantang dogma, dan mengajak kita merenung: apakah kita masih mampu mencintai dengan hati terbuka?
Melalui pembacaan oleh penyair Surabaya Choirul Wadud, Dunia Katak Nyamplungan menjelma menjadi panggilan spiritual dan sosial—sebuah undangan untuk melihat dunia dengan mata imaji, bukan prasangka.
Aku adalah katak dari tanah liat Nyamplungan,
Bermain dengan anjing, serigala, dan babi tanpa beban.
Tak gentar pada ujar manusia yang menyebut mereka najis dan haram,
Teman-temanku: anjing kain perca, serigala kayu, dan babi tenggelam.
Bersama mereka aku menjelajah dunia imaji,
Maukah kau mendengarkan? Maukah kau mengerti?
Maukah kau bersahabat, meski hanya sepatah kata?
Kulihat anjing termahal di dunia, serigala dan babi berkalung permata.
Aku memandang mereka sebagai sahabat sejati penuh cinta,
Namun kau menyebut mereka kotor, najis tanpa cela.
Anjing, serigala, babi—binatang terlarang di Nyamplungan,
Aku melompat, berbicara dari hati penuh harapan.
“Mengapa kau hindari temanku? Apakah ia tak lebih suci?
Pelacur yang memberi minum anjing masuk surga tanpa rugi.”
Apa kau ingin tahu lebih lanjut? Dengarlah kataku:
Ya, aku mencintai teman-teman mainan itu dengan hati terbuka.
Aku adalah katak yang mencintai mereka dengan tulus,
Hidup bersama dalam dunia bebas, tanpa syarat yang rumit dan lusuh.
Di jagat semesta yang luas, aku merenung dengan jiwa terbuka,
Menjaga cinta dan persahabatan, tak peduli kata dunia yang sering salah.
Surabaya, 18 April 2024