Festival Puisi Etnis Nusantara 2025 Dalam Kenangan
Gambar: Cover Tulisan Siamir Marulafau: "Festival Puisi Etnis Nusantara 2025 Dalam Kenangan". Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Cover No. 12.04012026 - LM-SAN.
Oleh: Siamir Marulafau
_
Desember selalu punya caranya sendiri untuk tinggal lebih lama di ingatanku. Di bulan inilah aku kembali mengingat sebuah perjalanan yang tak sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain, tetapi juga menggerakkan perasaan, harapan, dan keyakinanku pada makna sastra.
Hampir setahun sebelumnya, penggagas PERUAS telah menyampaikan kepadaku sebuah kabar: aku diajak terlibat dalam penulisan puisi etnis Nusantara. Kabar itu tidak pernah kuucapkan ke banyak orang. Aku menyimpannya diam-diam, seperti menyimpan doa. Ada rasa gembira yang tenang, ada pula harapan yang perlahan tumbuh. Dalam benakku, kesempatan ini bukan hanya tentang menulis puisi, tetapi juga tentang kemungkinan menginjakkan kaki di negeri tetangga yang selama ini hanya kukenal lewat cerita Johor Baru, Malaysia.
Puisi etnis itu akhirnya kutulis. Puisiku berkisah tentang sejarah, dan ketika dinyatakan lolos kurasi oleh mentor, harapanku semakin menguat. Namun hidup, seperti puisi, sering menghadirkan belokan yang tak terduga. Festival Puisi Etnis Nusantara yang semula direncanakan di Johor Baru ternyata dipindahkan ke Jambi. Panitia menyampaikan kabar itu dengan sederhana, tetapi bagiku kabar tersebut justru membangkitkan rasa penasaran. Jambi adalah nama yang selama ini asing bagiku aku belum pernah ke sana seumur hidupku.
Seorang teman bertanya, “Mengapa tidak jadi di Johor Baru, Tuan?”
Aku hanya tersenyum. Aku pun tak tahu jawabannya. Mungkin memang Jambi-lah yang sedang memanggil kami.
Menjelang akhir November 2025, negeri ini kembali diuji. Banjir bandang melanda beberapa provinsi. Jalan-jalan rusak, kabar duka datang silih berganti. Aku mulai cemas: apakah jalur darat dari Medan ke Jambi masih bisa dilalui? Kecemasan itu mendorongku untuk tidak hanya bertanya dalam hati. Keesokan harinya aku mendatangi loket Bus Rafi dan bertanya langsung kepada petugas, “Apakah perjalanan Medan–Jambi masih bisa ditempuh?”
Jawabannya sederhana, tetapi menenangkan. Jalur lintas Sumatra Timur masih baik. Bus masih berangkat.
Saat itulah aku merasa, benar adanya: Desember ini sungguh barokah.
Tanggal 18 Desember 2025 aku pun berangkat menuju Jambi. Festival dijadwalkan berlangsung pada 20–21 Desember, dengan pembukaan pada Sabtu malam di Rumah Dinas Gubernur Jambi. Perjalanan darat selama kurang lebih 27 jam bukan perkara ringan, tetapi aku memilih berangkat lebih awal—memberi ruang bagi tubuh dan batin untuk bersiap.
Pembukaan Festival Puisi Etnis Nusantara malam itu terasa hidup. Anggota PERUAS datang dari berbagai daerah, bahkan penyair dari Malaysia turut hadir. Aku merasa terhormat ketika dipercaya membacakan doa. Usai doa, aku duduk di samping seorang perwakilan Gubernur Jambi. Tanpa formalitas, ia menyampaikan ketertarikannya pada festival ini. Katanya, kegiatan semacam ini penting, bukan hanya sebagai perayaan sastra, tetapi sebagai ajakan berliterasi dan upaya membangun kualitas generasi muda, terutama pelajar SMP dan SMA.
“Luar biasa pergelaran seni sastra malam ini,” katanya.
Aku mengangguk, sepenuh hati.
Aku pun menyampaikan kekagumanku pada Bapak Asrizal Nur. Bagiku, beliau bukan sekadar sastrawan besar, melainkan penggagas dan pengayom. Di saat banyak orang menulis demi nama dan panggung, beliau justru membuka jalan bagi orang lain untuk berani menulis, membaca, dan mencintai sastra. Bahkan mereka yang sebelumnya tak pernah menulis pantun, gurindam, atau puisi, kini diberi ruang untuk belajar dan tumbuh.
Rangkaian festival berjalan lancar hingga penutupan di Rumah Dinas Wali Kota Jambi. Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika Sekretaris Wali Kota membacakan puisi dengan gaya Sitor Situmorang: pendek, sederhana, tetapi sarat makna. Aku teringat pada Rembulan di Atas Kuburan. Saat itu aku sadar, sastra memang tidak memilih-milih siapa yang disentuhnya.
Festival Puisi Etnis Nusantara 2025 di Jambi akhirnya menjadi lebih dari sekadar acara. Ia menjelma menjadi perjumpaan antara penyair dan puisi, antara budaya dan ingatan, antara manusia dan tanah yang dipijaknya. Para penyair membacakan karya-karya mereka dari Antologi Puisi Etnis Nusantara, baik di pembukaan, penutupan, maupun saat pembacaan puisi di kawasan candi. Setiap suara membawa caranya sendiri, setiap puisi meninggalkan jejaknya sendiri.
Dan aku tahu, perjalanan ini akan tinggal lama dalam diriku sebagai kenangan, sebagai pelajaran, dan sebagai keyakinan bahwa sastra masih memiliki rumah di negeri ini.
(SM – Ed. by LM-SAN)
—-
Tentang Penulis:
Siamir Marulafau merupakan akademisi, penyair, penulis cerpen, dan esais Indonesia yang berasal dari Medan, Sumatera Utara. Ia meraih gelar Doktor (Ph.D.) dalam bidang Bahasa, Seni, Budaya, dan Sastra, serta mengabdi sebagai dosen di Universitas Vokasional Sumatera Utara. Praktik kesusastraannya berakar pada humanisme reflektif, di mana bahasa berfungsi sebagai wahana perenungan moral, kesadaran eksistensial, serta dialog sunyi antara alam dan jiwa manusia.
Sebagai pendidik, penulis, dan penyair, ia memandang sastra sebagai ruang tanggung jawab—ruang yang menjaga ingatan, menajamkan empati, dan melawan segala bentuk keterlebihan melalui kontemplasi. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai platform sastra dan terus berkontribusi dalam perkembangan wacana puisi dan kritik sastra Indonesia yang dinamis.
Tulisan di atas tersedia dalam versi bahasa Inggris di official link berikut: