April 17, 2026

Era Nurza

Di kota ini air berbicara lebih lembut dari doa
mengalir dari danau ke sungai
dari sungai ke dada waktu
Hanoi, nama yang bergetar di udara lembab
seperti denting sepeda tua di pagi hari yang belum selesai

Di tepi Sungai Merah aku melihat langit berlabuh
memantulkan lampu-lampu kota seperti bintang yang rindu pulang
Perahu-perahu kecil menulis puisi di permukaan air
setiap riak adalah kalimat yang tak sempat diucapkan

Jalan-jalan sempit berkelok seperti ingatan
menyimpan aroma kopi bunga teratai dan masa lalu
Di antara tembok kolonial dan bayangan menara
ada senyum yang menggantung di jendela waktu

Aku berjalan di antara langkah-langkah asing
namun setiap sudut Hanoi terasa mengenal namaku
Barangkali karena setiap batu di jalan ini
pernah menampung kerinduan dari negeri yang jauh

Sungai-sungai di sini tidak sekadar air
mereka adalah nadi yang berdenyutkan sejarah
Ada bayangan perahu
ada kisah tentang tangan yang mengayuh di bawah langit peperangan
dan doa yang menetes pelan di air yang merah

Di Old Quarter, malam seperti pasar kenangan
lampu-lampu menua bersama tawa dan lagu rakyat
Anak-anak berlarian di antara kios dan waktu
sementara angin membawa wangi teh melati
ke hati yang belum sepenuhnya pulang

Hanoi tidak pernah tergesa
ia berjalan pelan seperti puisi yang dibacakan senja
Sungainya menampung rahasia
menyembunyikan kisah cinta dan kehilangan yang terurai di masa lalu

dan malam pun tiba
lampion menari di atas arus yang sabar
sementara aku duduk di pinggirnya
mendengar bisikan sungai:
“Setiap yang pergi akan kembali,
asal tahu ke mana arus rindu mengalir.”

Hanoi, kota yang mengajarkanku mencintai sunyi
karena bahkan diam di sini
pun bersuara seperti puisi

Hanoi, 4 Oktober 2025