April 17, 2026

Cerpen oleh Leni Marlina

Kabut pagi masih menggelayut di atas rawa ketika Surya—matahari yang sering telat datang ke kampung itu—akhirnya menampakkan wajahnya di sela kabut. Di bawah cahaya lembutnya, bangunan sekolah rumbia berdiri miring, seperti orang tua yang kelelahan menopang dunia. Dindingnya dari anyaman bambu, penuh lubang bekas gigitan rayap. Papan tulisnya tak lagi hitam, tapi abu-abu kehijauan, seperti wajah langit yang menahan hujan.

Di sanalah Bu Rara mengajar.

Setiap pagi, perempuan berkerudung lusuh itu berjalan menembus kabut dari tepi hutan, membawa tas kain berisi kapur dan tiga buku usang. Kadang ia harus menyeberangi genangan lumpur yang menelan separuh betisnya; kadang melewati sungai kecil yang jembatannya hanyalah sebatang pohon kelapa tumbang. Tapi langkahnya tidak pernah goyah. Di pundaknya, bukan hanya tas kain itu yang ia bawa—melainkan masa depan anak-anak yang setiap hari menunggunya dengan mata penuh harap.

Anak-anak itu datang tanpa alas kaki, dengan seragam robek dan rambut berdebu batu bara. Ya, sejak tambang batubara dibuka di perbukitan belakang desa, udara menjadi berat dan panas seperti napas raksasa yang murka. Sungai berubah warna: tak lagi bening, melainkan kehitaman seperti tinta yang tumpah dari perut bumi. Dulu ikan-ikan bisa ditangkap hanya dengan jaring kecil, sekarang tinggal kenangan di kepala anak-anak itu—kenangan yang diajarkan lewat gambar di papan tulis.

“Anak-anak,” kata Bu Rara suatu pagi, suaranya serak tapi lembut, “tuliskan di buku kalian: ‘Air adalah kehidupan, tapi juga bisa menjadi kesedihan.’”

Seorang bocah bernama Seno mengangkat tangan, polos dan jujur seperti tanah liat.
“Bu, kenapa air bisa sedih?”
Bu Rara tersenyum, lalu menatap ke luar jendela di mana aliran sungai berwarna gelap berputar seperti darah tua.
“Karena air juga punya hati,” jawabnya pelan. “Kalau dia dipaksa menelan racun dari tambang, dia pun menangis. Tapi tangisnya tak bersuara.”

Seno mengangguk, menatap sungai di luar jendela itu lama-lama, seolah berusaha mendengarkan tangis yang dimaksud gurunya.

Ketika kabar datang bahwa sekolah akan ditutup, desa itu seolah kehilangan napas.

Pegawai dari dinas datang membawa surat berstempel tebal. Katanya, sekolah rumbia ini “tidak efisien”. Hanya ada tujuh murid yang tersisa, dan jaraknya terlalu jauh dari pusat kecamatan. Lebih baik anak-anak dipindahkan ke sekolah baru yang dibangun oleh pihak perusahaan tambang—sekolah berdinding semen dengan atap seng mengilap, tak jauh dari gerbang tambang.

“Lihat, Bu Rara,” kata Kepala Desa sambil menepuk bahunya dengan senyum yang dibuat-buat, “mereka mau bantu. Perusahaan peduli pendidikan. Bukankah itu kabar baik?”

Tapi di hati Bu Rara, ada sesuatu yang retak.
“Pak, sekolah ini bukan cuma bangunan. Ini satu-satunya tempat anak-anak belajar mencintai tanahnya sendiri. Kalau mereka sekolah di sana—di bawah bendera tambang—apa yang akan mereka pelajari? Cara menggali bumi, bukan menanamnya.”

Kepala Desa tertawa pendek, getir. “Ah, Bu Rara. Dunia berubah. Jangan melawan arus. Hidup ini tak bisa ditopang oleh idealisme belaka.”

Tapi Bu Rara tahu: idealisme itu bukan kemewahan. Ia adalah napas bagi mereka yang hidup di pinggir—napas terakhir sebelum semuanya tenggelam dalam lumpur uang dan debu batu bara.

Malam itu hujan turun deras. Rumbia-rumbia sekolah meneteskan air seperti air mata, dan angin menggoyangkan dinding bambu seperti doa yang tak sempat disampaikan. Bu Rara duduk di depan papan tulis, menatap kata-kata yang tadi siang ditulis Seno:
“Air juga bisa sedih.”

Kata-kata itu bergoyang diterpa angin, lalu memudar sedikit oleh lembab. Ia memejamkan mata. Dalam benaknya muncul wajah anak-anaknya—Seno, Lila, Riko, dan empat lainnya. Anak-anak yang setiap pagi berlari ke sekolah sambil membawa harapan yang lebih berat dari buku di tangan mereka.

Tiba-tiba kilat menyambar langit. Suaranya memekik, memecah sunyi seperti jeritan bumi.

Bu Rara keluar dari gubuk itu, menatap ke arah tambang yang berkilat oleh lampu-lampu besar. Truk-truk berwarna oranye melintas, membawa bongkahan hitam yang disebut “emas hitam”. Tapi baginya, batu itu adalah luka yang berkilau.

Ia berjalan ke tepi sungai, lalu berlutut. Airnya hitam dan berbau minyak.
“Lihatlah, Ibu Bumi,” katanya lirih, “mereka bilang ini kemajuan. Tapi mengapa setiap langkah ke depan terasa seperti menginjak dada sendiri?”

Angin menjawab dengan suara lirih, menggoyangkan daun-daun pohon di tepi sungai. Dalam gemerisiknya, ia seolah mendengar bisikan: “Ajarkan mereka mencintai lagi, sebelum semuanya terlambat.”

Keesokan harinya, Bu Rara membawa anak-anak ke bukit belakang sekolah. Mereka menanam bibit pohon mahoni di tanah yang mulai retak.
“Untuk apa kita menanam, Bu, kalau nanti ditambang lagi?” tanya Lila, matanya bening tapi letih.
“Karena bumi harus tahu kita masih peduli,” jawab Bu Rara. “Kalau tidak ada yang menanam, siapa yang akan memeluk bumi saat dia menangis?”

Anak-anak itu menunduk, menggali tanah dengan tangan kecil mereka. Lumpur menempel di kuku dan telapak mereka, tapi wajah mereka bersinar seperti mentari yang menembus kabut.

Hari itu, bumi yang luka menerima pelukan kecil dari tujuh anak manusia.

Beberapa hari kemudian, datanglah dua mobil dinas dan satu mobil perusahaan tambang. Mereka membawa surat resmi: sekolah rumbia ditutup. Anak-anak akan dipindahkan ke sekolah baru yang lebih “modern”.

Bu Rara berdiri di depan gerbang, mengenakan baju batik pudar. “Saya tidak akan menandatangani surat itu,” katanya tegas.
“Bu, tolonglah. Ini perintah atasan,” kata pegawai dinas. “Lagipula, di sekolah baru ada AC, komputer, fasilitas lengkap.”

“Fasilitas tidak bisa menggantikan rasa memiliki,” jawabnya. “Sekolah ini milik desa. Di sana, kalian hanya menumbuhkan generasi yang tahu membaca huruf, tapi buta terhadap tanahnya sendiri.”

Salah satu pria perusahaan menyeringai. “Kalimat bagus, Bu. Tapi zaman sudah berubah. Tanah yang tidak digali akan jadi sia-sia.”

Bu Rara menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Tanah yang terlalu banyak digali tidak lagi mampu menumbuhkan kehidupan. Sama seperti hati manusia.”

Hening jatuh. Angin berhenti sebentar, seolah turut menahan napas.

Akhirnya, mobil-mobil itu pergi, meninggalkan debu yang mengepul di udara. Tapi di antara debu itu, ada sesuatu yang lain: api kecil yang mulai menyala di dada warga. Mereka mulai berdatangan, menanyakan kabar, membawa anak-anak mereka kembali ke sekolah meski tanpa surat izin.

Sejak hari itu, sekolah rumbia kembali hidup—bukan karena perintah, tapi karena cinta.

Namun kemenangan itu tak lama. Dua minggu kemudian, hujan deras membuat dinding sekolah ambruk. Atapnya runtuh, papan tulis pecah, buku-buku hanyut ke parit.

Anak-anak menangis, tapi Bu Rara berdiri tenang di tengah puing-puing itu. “Jangan menangis, Nak. Sekolah bukan dinding ini. Sekolah adalah kita—selama kita mau belajar, tempatnya bisa di mana saja.”

Maka mereka belajar di bawah pohon besar di tepi bukit. Bu Rara menulis di tanah dengan ranting. Hujan turun, tapi tak ada yang pergi.

Seno menatap langit yang gelap. “Bu, kenapa Tuhan biarkan sekolah kita roboh?”
“Supaya kita tahu,” jawab Bu Rara sambil tersenyum, “bahwa pengetahuan sejati bukan untuk berlindung, tapi untuk bertahan.”

Bertahun kemudian, sekolah tambang itu megah dan sunyi. Gedung rumbia sudah hilang, digantikan tumpukan batu dan debu. Tapi setiap sore, di tepi bukit yang gundul, sering terlihat sekelompok anak kecil belajar menulis di tanah. Mereka menulis dengan ranting, dan tiap huruf yang mereka bentuk seperti akar yang berusaha menembus batu.

Orang-orang bilang, Bu Rara sudah pergi. Ada yang bilang ia dipindahkan ke kota; ada pula yang berkata ia meninggal dan jasadnya ditelan tanah longsor di belakang tambang. Tapi di antara warga, ada satu keyakinan yang tak bisa dimatikan:
Selama anak-anak masih berani menulis, roh Bu Rara belum pergi.

Karena pengetahuan yang dia tanam bukan hanya di kepala, tapi di hati. Dan hati itu tumbuh seperti pohon yang tak bisa ditebang.

Suatu sore, di langit yang mulai merah tua, seorang anak kecil menunjuk awan di atas bukit.
“Lihat, itu Bu Rara,” katanya. “Dia tersenyum di langit.”

Yang lain menatap ke sana. Di atas tanah bekas tambang yang hitam dan berasap, langit tampak menggurat warna jingga lembut, seperti wajah seorang ibu yang menunduk penuh kasih.

Dan di bawah langit itu, seorang anak menulis di tanah dengan ranting patah:
“Sekolah kami mungkin roboh, tapi pelajaran dari Bu Rara tetap berdiri.”

Angin datang pelan, meniup huruf-huruf itu, menyebarkannya ke arah hutan, ke arah sungai, ke arah dunia.

Mungkin angin itu adalah cara alam membisikkan pesan:
bahwa perjuangan belum selesai,
dan pendidikan sejati selalu lahir dari hati yang tidak mau menyerah. (LM 2025)