Penjaga Dupa yang Bermimpi
Gambar: Illustrasi cerpen Leni Marlina : “Penjaga Dupa yang Bermimpi” Sumber gambar: Starcom Indonesia's cover No. 40.17012026–LM.
Cerpen oleh Leni Marlina
–
Di kaki gunung Jawa, ada sebuah rumah bambu tua, sederhana tapi penuh rahasia. Lima jalan kecil bertemu di depannya: satu ke masjid, satu ke gereja, satu ke pura, satu ke vihara, satu ke balai adat. Tidak ada peta yang menandainya. Tidak ada satelit yang menangkapnya. Hanya mereka yang berjalan pelan, dengan telinga dan hati terbuka, yang tahu: di sanalah Mahesa Rasa tinggal.
Mahesa sudah tua. Tubuhnya lelah, tulangnya berdecit di pagi yang dingin. Tangan-tangannya gemetar meski mata tetap terang. Ia bukan ustaz, pendeta, biksu, atau pemuka adat. Ia bukan siapa-siapa yang harus diakui dunia. Ia hanya hadir. Menyapu halaman, menyalakan tiga batang dupa, timur, barat, dan tengah langit, lalu duduk di serambi, menatap dunia yang berjalan tanpa menunggu. Asap dupa menari perlahan, mengukir lengkung-lengkung yang tak terdengar tapi terasa.
Orang-orang memanggilnya Penjaga Dupa. Gelar tidak penting. Kehadiran cukup.
Di dalam dirinya, Mahesa menyimpan rindu yang lama membeku. Dulu ia ingin besar. Ingin menjadi jembatan, pelita, simbol perdamaian. Tapi tubuh menua, waktu mengalir, dan impian itu hanyalah mimpi yang menempel di langit-langit hatinya.
Suatu pagi, seorang biksu muda datang membawa semangkuk bubur kacang hijau. Uapnya mengepul, hangat dan harum, seperti sapaan lembut yang telah lama Mahesa tunggu.
“Untukmu,” kata biksu itu, lalu pergi.
Mahesa duduk di bawah pohon trembesi, menyendok bubur perlahan. Separuh ia makan, separuh ia letakkan di samping dupa yang masih menyala. Ia menutup mata sebentar, membiarkan pikirannya melayang, masuk ke dunia yang hanya ada di kepalanya.
Ia bermimpi. Dalam mimpinya, bubur itu ia jual, membeli gerobak, membuka kedai kecil. Kedai itu ramai. Orang-orang dari masjid, gereja, pura, vihara, balai adat duduk bersama. Mereka tertawa, makan, tanpa peduli arah sujud atau cara bersila, hanya lapar, dan saling memberi. Ia menjadi simbol perdamaian, dikunjungi wartawan, dipuji pejabat, menikah, punya anak bernama Damai.
Tetapi Damai keras kepala. Piring berterbangan, mangkuk jatuh, tangisan pecah di tengah tawa. Mahesa, dalam mimpi itu, mengangkat tongkat dupa, menghantam mangkuk bubur tumpah, dupa padam. Semua runtuh.
Ia membuka mata. Langit kelabu. Tanah lembap. Tidak ada pelukan dari langit, tidak ada suara yang menuntun. Hanya serpihan mangkuk dan bubur yang melebur dengan debu halaman. Mahesa menunduk. Ia tidak menangis karena bubur, tapi karena sadar: ia terlalu lama bermimpi, dan lupa hidup.
Keesokan harinya, dupa tidak lagi menyala untuk dirinya sendiri. Mahesa menanam singkong, serai, kunyit. Atap bocor diperbaiki, tangga gereja disapu, altar pura dibersihkan, air dibawa ke vihara. Anak-anak belajar huruf pertama dari tangan Mahesa. Ia tidak lagi mengejar pengakuan atau kedai lintas iman. Ia hanya ingin hidup nyata, hadir untuk dunia yang sederhana tapi penuh napas.
Setiap pagi, ia membuat bubur dari hasil kebunnya. Ia taruh di serambi. Tidak tanya nama, tidak tanya agama. Yang lapar makan. Yang haus minum. Itu saja. Kasih Mahesa sederhana. Murni. Nyata.
Beberapa bulan setelah Mahesa meninggal, kabut turun seperti biasa. Lima anak dari lima kepercayaan datang. Mereka menyalakan dupa bersama, menyapu lantai, duduk diam. Mereka mengenang sesuatu yang tak diajarkan di sekolah, mereka mengingat seseorang yang tidak meninggalkan nama, tapi meninggalkan cara.
Di dinding bambu yang mulai lapuk, tulisan samar tersisa:
“Damai tidak datang dari langit,
tapi dari tangan-tangan yang berbeda,
yang saling membersihkan luka,
bukan saling mengukur sujud.”
Mahesa Rasa tidak menjadi tokoh besar. Ia tidak menjadi simbol. Ia hanya manusia. Pernah malas, egois, terlalu banyak bermimpi. Tapi ia bangkit. Ia berubah. Dari hal-hal kecil itu lahirlah damai yang tidak disebut, tapi dirasakan.
Bagi Mahesa nampaknya Damai sejati itu seperti bubur di pagi hari, hanya berarti jika ada yang lapar dan ada yang sungguh memberi.
–
(Leni Marlina: Jogyakarta, 2013)