April 17, 2026
Jari dan Kehendak yang Bisu

Yusuf achmad

Di persimpangan benak, pagi menyapa malam,
bermesraan dalam jiwa, mengenang asa dan janji yang terbayang.
Aku bukan merpati, kata bijak terlalu remaja untuk terganti.
Namun, kesetiaan merpati dalam menepati janji mengajariku tuk turut,
walau kadang jiwaku terkecut.

Bintang tergapai, meski tak harus di tangan.
Sanjungan terngiang di bibirmu, atau bibir mereka.
Namun kutetap cium bibir istriku, meski terus terkatup.
Membisu meski kudaki puncak Jaya Wijaya,
atau lalui jembatan neraka.
Tak ada getar di bibirnya bahkan huruf “U” pun tak terbesit.
Baginya, diam adalah emas, bukan pujian yang ganas.

Jari menari seiring irama pikiran,
melagukan asa, mengalir deras rasa.
Raga boleh penat, lelah, bahkan mata dipaksa berakrobat.
Itulah pelepas lara, obat jiwa yang selaras dengan alunan musik India.
Saat jejari berucap syukur,
Ilahi Robbi membelaiku meski dalam tidur.
Indahnya mewarnai, meski belum terukur.
Ini kehendak alam,
kata mereka yang tak percaya Tuhan,
atau berkah dari doa dan harapan.
Itulah kata puisiku, imannya tak terbantahkan.

Surabaya, 20-1-2025