Jejak Rindu Sang Guru
Bilintention
Bila kau persembahkan gunung untukku,
aku hanya bayang—sebutir pasir pun tak mampu kubalas.
Bila lautan ilmu kau tuangkan bagai embun pagi,
aku hanyut—setetes pun belum sempat kuhidupkan.
Bila hidupmu penuh pengorbanan,
atas nama cinta dan kasih tanpa sekat,
aku terdiam—teladanmu belum kutunaikan.
Tak tahu doa apa yang layak kupanjatkan,
untuk jiwa mulia yang tak tergantikan.
Hari ini, dua tahun sejak kepergianmu.
Wangi melati kembali mengalun dalam doa yang syahdu.
Tahun lalu, aku terhimpit malu dan penyesalan,
terdiam dalam bayang keraguan yang membelenggu.
Namun kini, aku berniat hadir sepenuh jiwa,
menyulam doa dalam langkah yang nyata.
Tak lagi kutenggelam dalam debu keliru,
melainkan kutata makna untukmu yang telah berlalu.
Kelemahan dan gundah pernah menjadi sahabat setiaku,
membelenggu jiwa yang melayang tanpa arah.
Namun perlahan, mataku terbuka,
dan aku sadar:
rindu pada bimbinganmu adalah cahaya,
yang menerangi gelapku.
Aku tahu aku bisa,
meski tak mampu mengubah dunia sepenuhnya.
Namun kata-kata ini akan kurangkai,
seindah syair yang memancarkan kilau permata.
Dari yang tak berharga,
hingga menjadi penuh makna.
Debu di mataku kini kuhembuskan,
hingga terang dunia kembali nyata.
Mata yang dahulu tertutup kini terbuka perlahan,
karena rinduku padamu
tak lagi menjadi duka,
tetapi suluh dalam setiap langkahku.
(revisi-oktober 2025)