April 17, 2026

Pintu itu terguncang oleh katamu—
meski maknanya tak sepenuhnya kutahu.
Hanya “akumu” dan “akuku” bersalaman,
bukan dengan lima jari,
melainkan dengan nurani yang tak bertepi.

Jariku dan jarimu menjaring aksara yang terbuang,
dari adat yang mengakar,
erat seperti simpul tali pusaka.
Meski tak selalu selamat,
bukan hanya peluru yang mengintai,
tapi pilu yang mengendap di balik kata.

Ketika mati bukanlah mutiara,
namun kata adalah pusaka tak ternilai.
Jika mereka berseru untuk tetap hidup,
biarlah katamu dan kataku
menjadi nyawa dalam huruf yang tak gentar.

Bukan sekadar konsonan yang tak bersuara,
tapi vokal yang memekik jati diri.
Tak hanya berjalan di lorong sunyi,
tapi berlari menembus batas,
tanpa gentar, bukan sekali,
melainkan ribuan kali—seperti ombak tak henti.

Pedih dan peri tak lagi berarti,
tak perlu rayuan,
tak perlu wajah berseri.
Katamu dan kataku berpadu,
menjadi satu dalam harmoni,
bagai gamelan yang tak henti berdenting
di pangkuan bumi pertiwi.

Surabaya, 4 Februari 2025